Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Bonus Chapter 14


__ADS_3

“Hentikan!”


Sebuah teriakan membuat Marco mundur beberapa langkah menjauhi Hero. 


“Apa yang kalian lakukan? Apa dengan cara seperti ini masalah kalian akan selesai begitu saja?” teriak wanita bernama Vanya dan langsung menarik lengan Marco sedikit kasar. 


Ia melirik keadaan Hero yang kini sudah babak belur dalam sekejap saja. Suaminya ini benar-benar,  pikirnya.


“Iya, sebenarnya ada masalah apa di antara kalian sampai harus melakukan hal seperti ini?” imbuh Anna seraya menatap Hero dan Marco secara bergantian. 


Ia masih menangis dengan tangan merangkul Hero erat-erat. Mereka berdua hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak mau menjawab pertanyaan Anna sama sekali.


Vanya yang lebih mengerti keadaan suaminya memilih jalur terbaik untuk tidak membahas masalah ini sekarang.


“Sebaiknya kamu obati dulu luka Hero, An. Biar aku tenangkan Marco. Nanti baru kita bahasa masalah ini kalau keadaan hati mereka sudah membaik.”


Ana mengangguk menuruti instruksi Vanya. “Terima kasih Kakak Ipar!”


 Vanya mengangguk, lantas segera menarik ujung baju Marco setelah itu.


“Ayo!” Wanita itu berbicara agak ketus karena sedikit kesal dengan sikap Marco. Marco hanya mengikuti saja saat sang istri menyeret paksa pria itu menjauh dari lokasi.


“Maafkan aku, An. Gara-gara aku kamu harus melihat kejadian yang tidak seharusnya kamu lihat,” kata Hero pelan.

__ADS_1


“Sebenarnya ada masalah apa si, kak?” Dia memeluk Hero sambil memperhatikan Vanya dan Marco yang sudah menghilang di balik pintu kaca. Sekarang mereka sedang menuju lift untuk turun.


“Kamu tahu tidak aku baru saja bahagia? Melihatmu seperti ini hatiku jadi hancur!”


Dirangkumnya wajah Hero dengan kedua tangan. “Tadi aku sangat takut, aku takut kamu mati meninggalkanku!”


Tangis Anna makin sesenggukan tidak karuan. Ia masih ingat jelas saat Marco memukul Hero secara membabi buta hingga darahnya muncrat ke mana-mana.


Namun lain halnya dengan pria itu, Hero malah tertawa hingga sudut bibirnya yang robek mengeluarkan cairan merah lebih banyak.


“Aku tidak selemah itu ya,” sanggahnya.


“Kalau tidak lemah kenapa diam? Harusnya kamu melawan bukan malah mengalah sampai habis dipukuli seperti ini.”


“Kakakku saja tega melakukan itu padamu. Kenapa kamu harus tidak berani?” sungut Anna mencebik-cebik.


Hero mencubit pipi Anna. “Bawelnya kamu! Aku rindu kamu yang seperti ini, An. Sudah lama aku tidak melihat sikapmu yang begitu posesif.”  


“Kakk! Kamu ini ya!” Anna mencubit kulit perut pria itu. 


“Awhkk” Hero meringis. Membuat Anna tersadar bahwa sang kekasih baru saja dipukuli. Dan ia malah menambah luka di tubuh Hero semakin parah.


“Maaf ... Maaf! Mana yang sakit? Kamu si mancing-mancing aku duluan. Sedang sakit sempat-sempatnya menggombal,” gerutu gadis itu seraya mengusap-usap lembut perut Hero.

__ADS_1


“Itu nyata,” jawab Hero yakin.


“Memangnya kenapa si kamu tidak melawan Kakak?” Anna kembali melayangkan kalimat protes. Bibirnya masih mencebik menunggu jawaban.


“Karena aku salah, An. Aku membuat kakakmu marah besar. Jadi aku sengaja memberi ruang kakakmu melampiaskan semua amarahnya kepadaku.”


“Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Kenapa tadi Kakak sampai menyebut-nyebut nama Veronika?”


Hero tersenyum. “Sesuatu yang belum bisa aku beritahukan. Tetapi akan segera kujelaskan nanti. Sekarang aku butuh menjelaskan masalahku dengan Kakakmu dulu. Kamu sudah percaya padaku, ‘kan? Jadi tolong tunggulah masalah ini kelar dulu baru ingin tahu.”


Setelah Hero mengatakan itu Anna langsung terdiam. Sepertinya gadis itu memilih mengerti meski sudut hatinya sangat penasaran. 


 Hero kemudian bangun dari posisi duduk dibantu oleh Anna. “Obati dulu lukamu. Nanti baru bicara dengan Kakak.”


“Iya,” jawab Hero sedikit manja. “Luka ini dicium kamu saja sudah sembuh.”


Anna sedikit terkekeh meski ia rasa pria itu sama sekali tidak pantas menjadi seorang penggombal.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2