
Wanita itu terbangun dengan keadaan polos dan hanya terbalut selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia mengerjap-ngerjap perlahan, lantas meraba ke samping untuk memastikan keberadaan pria yang semalam menggempurnya habis-habisan.
"Di mana dia?"
Vanya mulai bergumam-gumam pelan. Seluruh syaraf tubuh wanita itu terasa sakit seperti hewan potong yang habis dikuliti menggunakan benda tajam. Tubuhnya serasa lemah, bahkan untuk sekedar beranjak saja jiwanya enggan melakukan.
Marco benar-benar menghabisinya tanpa kata ampun. Vanya sampai Heran mengapa pria itu selalu lapar setiap kali mendapati kesempatan bercinta dengan Vanya. Padahal kalau dipikir-pikir, ia sendiri sudah memiliki Nadia yang setiap malam menghiasi mimpi indahnya. Tapi kenapa Marco bertingkah seperti pria yang tidak pernah mendapat jatah?
Sekelebat bayangan tidak baik pun muncul di kepala wanita itu. Apakah selama ini Nadia tidak pernah memberikan jatah ranjang untuk Marco?
Entahlah, rasanya Vanya ingin menjauh dari prasangka-prasangka gila yang ada di dalam benaknya.
Tringgg!
Suara ponsel Vanya di atas nakas membuat wanita itu tersentak dari lamunan terkutuknya. Dengan gerakan setengah malas, Vanya meraih ponsel dan menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Hal—" Suara di seberang sana membuat Vanya reflek menjauhkan ponselnya dari telinga. "Zen! Kau membuat gendang telingaku nyaris pecah tau," prote Vanya yang kesal karena terkejut mendengar teriakan Zenith.
Ck. Itu hukuman untuk teman yang lupa pada sahabatnya sendiri. Bagaimana kabarmu? Bisa-bisanya kamu hidup anteng tanpa mengabariku sama sekali, sedangkan aku sangat mengkhawatirkan nasibumu di sana, Van. Dasar teman menyebalkan!
Zenith langsung membombardir Vanya dengan segala ucapan. Tanpa ia tahu bahwa kepala Vanya masih sangat pening untuk diajak bangun.
"Zen," lirinya pelan. Membuat Zenith melemahkan nada bicara karena tahu keadaan Vanya sedang tidak baik-baik saja.
Ada apa, Van?
Vanya mendesah lemah. Menatap nanar langit-langit kamar sambil menahan air matanya agar jangan mudah keluar begitu saja. Ia benci sekali sisi lemahnya yang satu ini.
"Aku butuh bantuan kamu Zen." Suara Vanya terdengar bergetar di telinga Zenith. Membuat wanita itu jadi panik di seberang sana.
Bantuan apa, Van? Apa Marco menyiksamu lagi? Katakan iya, aku akan menghajar pria sialan itu jika dugaanku benar.
__ADS_1
"Bantu aku kabur dari sini Zen," lirihnya.
Eh, apa maksudnya ini?
"Bantu aku kabur dari rumah ini Zent. Aku tidak mau tinggal di tempat ini lagi," tegasnya.
Bayi di dalam perut Vanya tiba-tiba memberontak seakan terkejut mendengar ucapan sang bunda. Vanya segera mengelus perutnya agar kembali tenang. "Ternyata Marco sudah punya istri. Aku tidak kuat jika harus hidup serumah dengan istri pertamanya."
Jangan bercanda Van, kapan dia menikah, tanya Zenith tidak percaya.
"Dia sudah menikah sekitar satu tahunan. Istrinya yang bernama Nadia sangat cantik, bahkan lebih cantik dariku." Ucapan Vanya terdengar seperti orang cemburu di telinga Zenith. Namun wanita itu segera menyergah dan meluapkan segala asumsi di kepala.
Marco itu pintar bersiasat. Dia licik. Bisa jadi pria itu memang sengaja menyewa wanita bayaran untuk menyakiti hatimu Van. Kalau membuatmu cemburu kurasa tidak. Aku yakin kamu sudah kebal untuk yang satu ini.
Vanya berusaha menyangkal, "Tadinya aku juga berpikiran sama sepertimu. Tapi Nadia tidak sama dengan wanita lain, Zen. Jika memang Nadia sengaja disewa untuk membuatku semakin tersiksa, harusnya dia bersikap buruk dan menjadi tokoh antagonis, membuatku menangis, cemburu, ribut, tapi nyatanya dia tidak pernah melakukan semuanya. Itulah yang membuat aku bingung Van. Karakter Marco yang sekarang juga sulit sekali ditebak."
Zenith mengangguk-angguk di balik sana. Mencerna setiap ucapan yang Vanya katakan tadi dengan otak pusing tujuh keliling. Jadi istrinya baik kepadamu?
Curhatan Vanya membuat Zenith semakin yakin bahwa Nadia hanya pura-pura menikah. Jika dipikir-pikir dengan logika, mana ada istri yang masih mau menerima madunya di dalam rumah. Apalagi kini Vanya dalam keadaan hamil besar.
Sekarang aku tanya ke kamu Van. Apa kamu sudah pernah melihat foto pernikahan mereka?
Vanya menggeleng. "Tidak pernah. Tapi mereka selalu tidur bersama," ujar wanita itu polos. "Bukankah itu cukup untuk membuktikan bahwa mereka adalah suami istri?"
Zenith menepuk dahinya di seberang sana.
Aduh Van. Jaman sekarang kalau mau tidur bersama tidak harus menikah pun bisa.
Vanya yang sempat menyandang status hamil di luar nikah merasa tersindir. Tapi ia memilih diam dan mendengarkan mulut Zenith mencurahkan segala kebocorannya.
Kalau hanya Tidur bersama masih belum menjamin suami istri, Van. Barang kali ada dua kasur di tempat tidur mereka.
__ADS_1
"Masa sih? Waktu itu Nadia pernah bilang kalau ia mau menunjukkan buku pernikahannya, tapi aku menolak karena malas berurusan dengan wanita itu."
Hmmmm. Dasar! Sekarang mereka di mana?
"Marco sudah berangkat kerja. Nadia mungkin masih tidur karena hari ini dia tidak pergi kerja."
Bagus, sesuai harapanku, yang kumau sekarang kamu bangun. Lakukanlah apa yang aku perintahkan.
"Perintah apa?"
Segera ke kamar utama mereka. Dan lihat keadaan kamarnya, apakah ada foto pernikahan, terus kamu lihat apakah keduanya tidur bersama atau tidak.
"Lalu telepon kita bagaimana?"
Jangan di matikan. Ganti panggilan video.
"Terus kalau mereka curiga bagaimana? Rumah ini pasti dilengkapi CCTV."
Jangan bodoh Vanyaaa! Kalau tertangkap cari saja alasan. Bilang kalau kamu ada keperluan dengan Nadia.
"Baiklah-baiklah."
Vanya bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tak membutuhkan waktu lama, ia langsung bergegas turun menuju kamar utama Nadia dan Marco di lantai bawah.
Masih dalam keadaan ponsel menyala yang terhubung dengan panggilan video bersama Zenith. Vanya melangkah hati-hati menuju kamar mereka.
"Hmm. Nadia!" lirih wanita itu pura-pura memanggil. Tapi sengaja diperkecil agar manusia di dalamnya tidak mendengar. "Kamu lagi apa, aku masuk ya!"
Ia pun tak ragu-ragu dan langsung memutar knop pada pintu sesuai arahan Zenith tadi. Dan alangkah terkejutnya Vanya saat melihat ke dalam. Matanya membelalak sempurna dengan pemandangan yang ada di depannya.
***
__ADS_1
Tunggu satu bab lagi meluncur. Lagi dalam proses reviuw.