
Met membaca gengs.
***
Anna berlari tergesa-gesa melewati lobi ruang tamu. Ia segera mencari-cari keberadaan Nadia yang entah di mana. Saat matanya menangkap wanita bertubuh mungil yang baru saja keluar dari kamar tamu, Anna langsung berlari ke arahnya.
"Kak Nadia!" teriak gadis itu. Di susul Hero yang ikut berlari menghampiri Nadia juga.
"Bagaimana keadaan Mami? Mami baik-baik saja, 'kan?" tanya gadis itu penuh kehawatiran di setiap tarikan nafasnya yang terengah-engah.
"Mami sudah baik-baik saja. Sebaiknya nanti saja masuknya, biarkan mami beristirahat, dia baru saja tertidur. Tadi memang Mami sedikit kumat karena marah cukup hebat. Bahkan sempat pingsan! Tapi aku sudah memanggil dokter khusus untuk memeriksa keadaan jantungnya. Katanya dokter hanya syok sedikit, cukup ditenangkan hati dan pikirannya."
"Ya ampun! Kenapa bisa sampai seperti itu, si?" Anna mengatupkan bibirnya sedih. Semua ini gara-gara kakak, pikirnya.
"Dan satu lagi! Mami mencari keberadaan kakakmu. Ia mengancam akan mencabut jabatan dan fasilitas kakakmu jika tidak segera datang menemui mami secepatnya juga," tukas Nadia tak main-main.
Kontan Anna menoleh pada Hero yang memasang wajah bingung. "Bagaimana ini, Kak? Apa yang harus aku lakukan? Kak Marco pasti marah besar kalau diganggu lagi."
Anna menggigit bibir bawahnya rungsing.
"Panggil saja kakakmu. Agar dia belajar dewasa dan mengatasi masalahnya sendiri," ujar Hero.
Nadia memilih berlalu ke arah dapur saat sepasang manusia itu tengah sibuk berdiskusi. Ia tidak mau tahu. Benar-benar tidak mau tahu dengan kelakuan Marco yang entah berada di mana sekarang.
__ADS_1
Saat ia sedang menenggak air putih untuk menenangkan sedikit perasaannya, Anna datang menghampiri seraya memasang wajah sedih.
"Kak Nadia!" Gadis itu menghambur ke pelukan Nadia saat ia baru saja memutarkan tubuhnya. "Kenapa bisa seperti ini si, Kak? Aku pikir kalian sangat mencintai satu sama lain. Ternyata pernikahan kalian hanya pura-pura. Rasanya sedih, Kak! Karena aku sudah nyaman sekali memiliki kakak ipar seperti Kak Nadia. Cantik. Baik. Anggun pula!"
Gadis itu merengek seperti bayi. Membuat Nadia mengusap rambut panjangnya yang terburai karena sejak tadi lari-lari.
"Aku tidak ingin kak Nadia berpisah dengan kak Marco. Tidak mau ... pokoknya tidak boleh!"
Nadia yang mendengar itu memasang wajah sedih. "Mau bagaimana lagi Ann. Kak Nadia bukan wanita yang dicintai oleh kakakmu. Tapi kamu tenang saja, kamu akan tetap menjadi adikku walau nantinya aku dan Marco sudah tidak bersama lagi."
Anna menggeleng. "Tetap saja rasanya beda, Kak!"
"Dasar manja!" Nadia terkekeh. Lantas melepas pelukkan Anna yang lengket seperti lintah. "Ayo kita ke depan saja. Ngobrol di ruang teve sambil menunggu mami bangun. Di mana Hero?"
"Tidak tahu. Mungkin dia sedang di ruang tamu," tebaknya asal-asalan.
"Ngomong-ngomong tadi Mami bilang apa saja, Kak? Kak Nadia tidak bilang apa-apa tentang istri kedua kak Marco, 'kan? Aku akan siap-siap mati!" decaknya.
"Kakak bahkan belum sempat menarik napas saat mami datang dan langsung marah-marah, dia sudah tahu bahwa kakakmu menikahi wanita lain sampai hamil. Itu sebabnya mami marah sekali."
"Ya ampun, kenapa jadi seperti ini, si? Heran aku, siapa orang yang memberi tahu ke mami, coba?" Anna menepuk jidatnya. Mengeluhkan sifat Marco yang menyebalkan juga.
"Semua itu tidak penting. Intinya kamu harus cepat-cepat membawa kakakmu ke sini Ann, atau dia akan berubah miskin karena semua fasilitasnya dicabut paksa!"
__ADS_1
Aduh! Anna semakin panik. Ia berada dalam dua persimpangan bimbang. Dan bingung harus melakukan apa.
Beberapa saat setelah agak tenang, Vanya menyusul Hero yang sedang duduk di ruangan santai yang menghadap langsung ke arah taman. Pria itu sedang mengerjakan beberapa laporan, menatapi satu-persatu file yang berserakan.
"Nanti aku akan berusaha membujuk Mami sekali lagi. Kalau sampai tidak berhasil, besok pagi kita telepon kak Marco supaya datang!" ujarnya.
Hero mengangguk. Masih menatapi seberkas kertas di tangannya.
"Kak, aku benar-benar pusing! Kalau sampai tidak berhasil membujuk mami, pasti kita yang kena imbasnya. Bantu aku mikir, Kak ...."
"Jalani saja sesuai kemampuanmu, Anna!" Masih menatapi kertas itu. Membuat Anna ingin menyobek-nyobek benda yang ada di tangan kekasihnya saat ini juga.
"Kawin lari saja yuk Kak!"
"Jangan Ngaco!" Kali ini pria itu mendongak. Matanya melotot sebal.
"Atau Hamili aku! Kak Marco pasti tidak akan berani macam-macan jika sudah menanam benih terlebih dahulu."
Astaga! Hero memijit pelipisnya. "Tutup mulutmu Ann! Cari kegiatan lain selain mengganggu orang yang sedang bekerja," tukasnya.
***
Jangan lupa like like dan komen
__ADS_1