Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Boncap 7


__ADS_3

Butuh tenaga ekstra untuk Hero meyakinkan seorang Marco yang notabene sudah terlahir menjadi anak keras kepala dan susah mengerti pendapat orang lain sejak dini.


Sekeras apa pun ia menyangkal dan menjelaskan bahwa Anna bukanlah Veronika adiknya, Marco masih tetap meyakini bahwa Anna merupakan sang adik yang sengaja diturunkan Tuhan dari surga untuk menemani Marco kembali.


Akhirnya pemuda yang sudah setengah menyerah itu terpaksa menjelaskan kronologi hidup Anna yang sangat menderita. Hero menjelaskan apa yang ia tahu selama mengenal Anna semingguan ini. Tak lupa Hero juga menjelaskan bahwa ia telah ditipu oleh ibu Anna sebanyak dua belas milyar. Dan Marco berjanji akan mengganti uang tabungan Hero ketika sudah berhasil menjadikan Anna sebagai adiknya nanti.


Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Hero, Marco menjadi tambah gencar dan berhasrat lebar untuk merebut Anna dari tangan kedua orang tuanya yang biadab.


Bahkan hari ini juga Marco langsung menghubungi kedua orang tuanya dan menunjukkan gadis kecil yang sangat mirip dengan mendiang adiknya itu.


Sang ayah yang setuju dengan keinginan Marco langsung mengerahkan orang suruhannya untuk mencari keberadaan orang tua Anna. Setelah bertanya-tanya pada orang sekitar tempat lokasi Anna mengemis, akhirnya orang suruhan tuan Fernando berhasil menemukan alamat anak kecil tersebut.


Hari sudah menjelang sore.


Di sebuah kafe sederhana, Hero, Marco, dan Anna duduk bersama menikmati es krim setelah selesai dengan hidangan utama. Mereka sedang menunggu kabar baik dari orang tua Anna dan juga tuan Fernando.


Kini keadaan Anna si gadis kecil kumel itu sudah berbalik seratus delapan puluh derajat, ia bak putri kecil dengan gaun cantik yang melekat manis di tubuhnya. Tidak kumel dan tidak menjijikkan seperti tadi. Hal itu pun membuat Hero sedikit terkesima melihat penampilan Anna yang ternyata lumayan cantik juga.


Begitu Marco tahu bahwa wajah Anna mirip sekali dengan Veronika, anak itu langsung tanggap, membawa Anna ke salon untuk merubah penampilannya persis seperti sang adik, lantas mengunjukkannya fotonya kepada sang papi melalui aplikasi pengirim pesan pada ponselnya hingga membuat tuan Fernando di balik sana bergetar dan terkejut bukan main.


***


"Papi sedang di rumah orang tua Anna untuk bernegosiasi dengan ibu dan ayahnya masalah adopsi. Apakah malam ini aku sudah bisa membawa Anna pulang ke rumah?" tanya Marco seraya memandang Hero dengan wajah cemburu karena Anna memilih tertidur pulas di pangkuan Hero dibandingkan berdekatan dengannya.


Sebenarnya anak itu masih terlalu asing dengan Marco. Malahan cenderung takut karena pembawaan monster kecil itu yang galak tak seperti Hero yang lembut.

__ADS_1


"Bersabarlah sedikit lagi Tuan Muda! Saya turut senang jika Anna menjadi adik Anda, tetapi ini belum waktunya karena belum ada surat izin adopsi dari orang tua Anna."


"Hmmm, tapai kalau Anna disiksa lagi bagaimana? Aku tidak rela melihat dia disiksa apalagi disuruh mengemis di jalanan."


"Sepertinya itu tidak mungkin! Mulai saat ini Tuan Fernando pasti akan melindungi Anna. Sebaiknya setelah ini Anda pulang dan menunggu kabar baik selanjutnya."


"Hmmm. Baiklah. Terima kasih sudah mempertemukan aku dan Anna." Kata-kata yang keluar dari bibir Marco membuat Hero membeliak tak percaya. Bahkan Hero nyaris tersedak air coklat hangat yang belum sempurna tertelan dalam mulutnya.


Apa tadi dia bilang? Terima kasih? Ingin rasanya Hero merekam perkataan anak itu untuk dijadikan dokumentasi pribadi. Pasalnya semenjak Hero mengenal Marco baru kali ini ia berterima kasih secara langsung kepada Hero.


"Sama-sama," jawab Hero sedikit canggung. Pria itu mendongak setelah tertunduk beberapa saat. "Oh ya, mengenai yang tadi, apakah Anda serius hanya ingin mencintai satu wanita seumur hidup Anda Tuan Muda?"


Pertanyaan Hero membuat Marco memandang dengan tatapan sedikit aneh. "Apakah mata bangsawanku ini terlihat sedang berbohong?" tanya pria kecil itu sambil menyesap secangkir cokelat panas terakhirnya.


"Hmmm. Sebagai pengasuh yang dianggap teman saya hanya mengingatkan kalau manusia akan mengalami jatuh cinta berkali-kali, satu pasangan tidak akan cukup bagi mereka. Sekali pun Anda setia, bisa jadi pasangan Anda yang mendua ataupun memutuskan perasaannya ketika bertemu pria lain yang ia cinta. Ah, apalagi jika Anda berpacaran di usia muda, itu akan sangat sulit karena darah muda masih memiliki rasa plinplan terhadap pasangan."


"Kata Papi Aku adalah bibit pria terbaik yang sudah unggul sejak dini, maka aku bisa melakukan hal apa pun dan tidak perlu mengkhawatir soal itu. Aku pasti jauh lebih baik dari jenis pria mana pun. Jika orang yang akan menjadi istriku mencintai pria lain, aku akan membuat pria itu terusir perlahan dari hatinya. Gampang 'kan?" Marco tersenyum miring. Memamerkan deretan gigi putih yang terlihat imut tetapi menyeramkan.


Percaya diri sekali anak satu ini, kesal Hero dalam hati. Namun, tiba-tiba Anna terbangun dan menanyakan keberadaan ibunya yang sejak tadi ditunggu-tunggu. Bicara mereka pun jadi terhenti.


"Eung. Kapan ibuku datang?" tanya anak itu setengah merengek hingga membuat perhatian Hero dan Marco tertuju kepadanya.


"Sebentar lagi, kamu tidur saja lagi," ucap Hero lembut.


Anna menggelengkan kepalanya. "Tidak mau! Aku takut ibu memarahiku karena hari ini aku tidak mengemis."

__ADS_1


Kali ini Marco yang menjawab. "Tenang saja, ibumu akan mendapat banyak uang dari orang tuaku setelah kamu menjadi adikku. Kamu tidak mungkin dimarahi lagi."


Anna mencicit takut begitu Marco bersuara. Buru-buru Hero menepuk punggung anak kecil itu sambil menyuruhnya kembali tidur.


Sepertinya Anna mulai paham bahwa Marco menginginkan anak itu tinggal bersamanya.


Itu sebabnya Anna terkesan sungkan dan enggan terhadap Marco. Anna pasti tidak mau diadopsi oleh keluarga Fernando yang tak dikenalnya.


"Hei, lepaskan tanganmu! Apa kau mau berbuat mesum terhadap anak kecil?"


Kontan Hero menghentikan aksinya. Dengan bodohnya ia menuruti keinginan Marco untuk tidak lagi mengusap-usap punggung Anna.


"Saya hanya ingin menidurkannya kembali," jawab Hero agak malu.


"Oh ya? Tapi matamu terlihat cabul!"


"Mana ada!" tukas Hero kesal. Bahkan ia belum ada ketertarikan terhadap anak kecil seperti Anna.


"Kalau mataku melihatnya seperti itu ya seperti itu! Memangnya kamu bisa apa?" Marco memicing sinis sedikit mengejek. "Awas saja jika kau berani macam-macam dengan adikku."


Cih! Bahkan dia belum sah menjadi adikmu. Aku lebih dulu mengenalnya sialan!


Tentunya makian itu hanya dapat Hero ucapkan dalam hati. Sambil mendengkus dan sesekali melirik Marco dengan tatapan kesal.


"Ingat ya! Meskipun kau adalah calon suaminya, tapi Anna akan tetap menjadi milikku selama dia belum menikah. Nyawamu akan menjadi taruhannya jika berani macam-macam terhadap Anna!"

__ADS_1


"Hmmm." Hero menjawab dengan dehaman malas. Melihat Anna akan menjadi keluarga Marco, entah dia harus bahagia atau sedih.


__ADS_2