
"Matamu menunjukkan bahwa kamu tidak percaya padaku!"
Membuat Marco geram dan menunjuk dua bola matanya dengan dua jari.
"Mataku kenapa? Hal buruk apa yang sudah mataku lakukan sampai membuatmu jadi kesal seperti ini ...?" Ia mulai tidak bisa mengontrol getaran emosi dalam diri.
"Matamu menyebalkan!" sungutnya seraya memalingkan wajah.
Ada helaan napas panjang sebelum Marco mencubit pipi Vanya dengan gemas lantas terduduk di samping wanita itu.
"Aku percaya padamu! Sudah kubilang aku hanya ingin memastikan. Jika sudah melakukan itu, aku baru bisa merasa lega. Paham kan Sayangku?"
"Huuh!" Vanya makin menunjukkan aura kesal. "Lakukanlah! Tapi ... jangan berani macam-macam padaku!"
"Hanya pegang! Aku berjanji untuk itu," ucap Marco yakin. Kini tangannya bergerak perlahan membuka baju terusan yang wanita itu kenakan. Dalam sekejap tubuh Vanya terpampang dan hanya menyisakan dua kain tipis sebagai penghalang bagian sensitifnya.
"Sudah 'kan?" ketus wanita itu berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Belum," ucap Marco sambil melipat bibirnya ke dalam menahan perasaan gemas saat melihat tingkah istrinya yang mendadak berubah seperti bocah.
Vanya lantas memalingkan muka sekali lagi. Ia tak mau menatap wajah Marco barang sedetik pun karena dalam kesadaran yang masih terjaga seratus persen.
"Buruan! Aku mau cari Ella! Dia belum meminum jatah susunya." Bibirnya memutar alasan dengan membawa-bawa nama anak yang sebenarnya sedang tidur nyenyak di kamar sebelah.
"Ella sudah tidur siang dengan tenang. Tadi 'kan dia makan es krim dan sepotong cake. Artinya perut anak itu sudah kenyang."
"Hmm. Aku lupa," ujarnya kikuk. Inilah yang Vanya rasakan saat mata tajam Marco mulai menyusuri setiap inci tubuhnya. Dan belum sampai Marco menyentuh pada bagian itu, ia sudah merinding tak karuan seperti di sengat listrik bemega-mega volt.
Boleh kabur saja tidak si?
__ADS_1
Batin Vanya mulai menjerit.
Marco tersenyum lega. Syukurlah ... ternyata tidak ada luka secuil pun di tubuh bagian dalam istrinya. Ia lantas mengusap kulit perut wanita itu sampai si korban tersentak salah tingkah.
"Ma-mau apa?" Dahinya berkeringat saking gugupnya. Come on Vanya ... kalian bukan sedang malam pertama di kamar pengantin.
Namun, tak di pungkiri pemeriksaan itu terasa seperti eksekusi bertajuk penyiksaan—penyiksaan batin lebih tepatnya.
"Dia yakin baik-baik saja, kan? Si keparat itu tidak menyentuh perutmu sama sekali!" tanya Marco geram saat mengingat wajah menyebalkan Syam di gudang tadi.
Hal utama yang memaksa Marco menghukum kebiri pria itu adalah mulut sok tidak berdosanya. Bukannya minta maaf dan mengakui kesalahan, pria itu justru menyerang Marco dengan tipu daya sialan.
Syam mengatakan bahwa ia telah menikmati tubuh Vanya berkali-kali. Bahkan Syam mengarang cerita bahwa Vanya adalah tipe wanita yang haus akan sentuhan lelaki. Tentunya Marco tidak percaya. Ia melakukan berbagai cara sampai akhirnya Syam mau mengaku kesalahannya.
Namun, hal itu tetap saja membuat Marco geram hingga akhirnya ia memutuskan untuk memotong anu berharga milik pria itu.
Penjelasan sudah cukup.
"Yang ini tidak sampai disentuh 'kan?"
"Kenapa menyentuh yang itu?"
"Aku hanya memastikan!" tegasnya lagi.
Vanya menunduk. Menunjuk bagian sensitifnya menggunakan isyarat mata. "Dia tidak sampai menyentuhku pada bagian ini dan ini. Hanya hampir mencium bibirku. Itu pun tidak kena karena aku segera menangkisnya dengan tangan. Sebisa mungkin aku memberontak sampai berhasil kabur," jelasnya.
"Jadi bibir ini hampir—" Otak Marco langsung mendidih seketika. Ia menghentikan bicara dan langsung mengecup sekilas benda menggemaskan yang satu itu.
"Ini milikku! Aku harus segera menghapus jejaknya walau itu hanya secuil debu dari tubuh si manusia kotor itu." Satu kecupan mendarat lagi.
__ADS_1
Augh. Pria posesif ini, geram Vanya gemas dalam hatinya.
"Ok. Pemeriksaan sudah cukup. Sekarang aku baru percaya bahwa kamu sudah baik-baik saja." Marco mengambil baju terusan Vanya yang tergeletak di samping pahanya. Berniat memasangkan kain penghalang itu kembali pada tubuh Vanya.
"Tunggu dulu!"
"Kenapa?" Pria itu mengernyit. Menatap wajah merona Vanya dengan mata terheran-heran. "Mau pakai sendiri? Kamu masih malu paeq suamimu sendiri?"
Ck. Padahal Marco melihatnya hampir setiap hari.
"Bukan!" Wanita menggeleng sungkan.
"Aku mau. Aku pengiiiiin." Ia melingkarkan dua tangannya di pundak Marco. "Sekarang," perintahnya.
"Mau ini?" tanya Marco memastikan.
"Iya itu," jawab Vanya seantusias Ella saat bicara.
Marco tersenyum. Apa sih yang tidak bisa ia lakukan untuk ibu hamil yang satu ini? "Hmmm. Baiklah, aku akan melakukannya dengan tempo waktu cepat agar kamu tidak kelelahan."
Lagi-lagi Vanya menggeleng penuh penolakan.
"Nooooo! Aku mau empat ronde!"
"Apa?"
Saat itu juga kesadaran Marco jatuh ke dasar bumi.
Apa yang membuat istriku berubah agresif seperti ini? Apa karena bayi itu sudah memiliki bakat mesum sejak dini?
__ADS_1
***
Pagi ..... Buat nemenin sarapan kalian. Komennya dund. Yang semarak semerbak. Wkkwkwk. Yang mau lagi kasih dukungan dulu dund. Gak usah koin. Kasih bintang juga aku udah seneng. Maciih