
Marco tersenyum getir mendengar penghujung kalimat yang Vanya lontarkan. "Tahu dari mana?"
"Menurut instingku, hanya saja aku masih bingung apa maksud di balik semua yang kamu lakukan," tutur Vanya sedikit blak-blakkan. Bukan hanya wanitai itu, semua orang yang mungkin mengetahui kisah rumit mereka pasti akan bingung seperti ekspresi Vanya saat ini. Bagaimanapun juga, selain tidak wajar, segala perlakukan Marco pada Vanya lebih dari cukup menyita perhatian orang untuk berpikir lebih jauh jika ingin menembus teka-tekinya.
Marco mengembuskan napasnya pelan sebelum bicara lagi. "Ya, beginilah aku dan segala kegilaanku. Biar kuceritakan semuanya dari awal agar kamu paham. Jujur aku datang dan mengambil alih perusahaan ayahku hanya untuk membalas dendam kepadamu. Aku memata-matai kehidupanmu sudah lama sejak aku kembali dari luar negeri. Awalnya aku mematai-matai kehidupanmu yang bahagia bersama suamimu. Namun, lama-kelamaan aku merasa janggal saat mata-mataku memberikan beberapa bukti perselingkuhan Adit dengan sekretarisnya. Saat aku hendak maju untuk menghancurkanmu lewat perselingkuhanmu dengan Adit, tiba-tiba sosok Nadia datang menghalau semua tujuanku. Dia berhasil meyakinkanku bahwa aku tidak perlu balas dendam. Cukup menikah dan mencoba melupakan semuanya, maka perasaan gilaku padamu bisa hilang seiring berjalannya waktu."
Marco menjeda setengah percakapannya karena tidak kuat. Di mana Vanya membiarkan pria itu istirahat dengan menyalurkan kekuatan dengan mengusap-usap punggungnya agar lebih kuat. "Aku sabar mendengarkan ceritamu. Behenti saja dulu jika tidak kuat. Lanjutkan nanti saja."
Pria itu menggeleng dan memaksa untuk melanjutkan ceritanya. "Aku akan melanjutkannya. Maaf jika bicaraku sedikit berbelit-belit," lirihnya.
Setelah mengatur perasaannya hingga sedikit tenang, Marco mulai bicara kembali. "Pada akhirnya aku dan Nadia mutuskan untuk menikah. Namun, perasaan benci bercampur cinta yang ada di dalam diriku seakan sudah mendarah daging. Tak lama setelah kami menjalani pernikahan, aku makin tak tahan, dan memutuskan untuk melanjutkan balas dendam dengan penuh percaya bahwa aku bisa melupakanmu jika dendam di dalam jiwaku sudah terbalas."
__ADS_1
"Sssst" Vanya merangkul tubuh Marco yang sudah gemetar. Dengan sisa-sisa tenaganya, pria itu masih terus melanjutkan bicara.
"Kebetulan sekali aku mendapatkan peluang. Kata Monika mata-mataku yang saat itu masih bertugas sebagai sekretaris keuangan, perusahaan Adit nyaris bangkrut karena dana kantornya terus dipakai untuk membiayai selingkuhannya. Disitulah aku muncul, dan berhasil memprofokasi Adit agar menukarkanmu padaku dengan kelangsungan perusahaannya."
Dagu Marco jatuh di pundak Vanya saat ia tengah selesai membongkar semua rahasianya.
"Van, apa orang seperti itu menurutmu masih layak mendapatkan kata maaf?"
"Kamu sudah berani jujur dan mengatakan segalanya di depanku. Aku tahu itu bukan hal yang mudah untuk diungkapkan begitu saja. Kamu lelaki hebat. Tentu saja aku sudah memaafkanmu, Co."
"Aku juga serius, aku sudah memaafkanmu."
__ADS_1
Ada binar bahagia di wajah Marco yang sulit sekali diungkapkan. Mendapatkan maaf dari Vanya dengan semudah ini, bagi Marco rasanya seperti mimpi yang tidak mungkin jadi kenyataan. Namun hal itu terbukti dari tegasnya pernyataan Vanya saat mengatakan. "Terima kasih Van ... terima kasih."
Tangan gemetar Marco turun menggenggam jari-jemari lentik Vanya. Napasnya terlihat naik turun dan dipaksakan untuk tetap tegak. Ia memberanikan diri untuk menanyakan status hubunannya dengan Vanya lebih lanjut. "Jika aku berusaha mengejarmu sekali lagi, apakah masih ada kemungkinan untukku, Van?"
"...."
Sejenak hening. Vanya memalingkan wajah dan segera menjaga jarak dari pria itu. Pikirannya bimbang dan kalut. Ia tidak bisa memutuskan sesuatu yang ia sendiri saja tak tahu jawaban pastinya saat ini.
"Apa kamu masih ingin kembali dengan Adit?" tanya Marco mengklarifikasi lebih jelas. Jika Vanya menolak Marco, ada kemungkinan bahwa ia ingin kembali pada Adit. Sosok yang mungkin masih Vanya cintai.
"Aku tidak tahu Marco, dijual suamiku dan dibeli mantan pacarku adalah hal tergila yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku bisa memaafkan semuanya, tapi tidak untuk melupakan. Aku berharap hanya aku seorang yang mengalami semua hal buruk ini. Sekarang aku tidak lagi memikirkan dengan pria mana hatiku akan berlabuh nantinya. Aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku. Semua ini sudah cukup bagiku. Sekarang, menjalani sebuah pernikahan normal adalah hal kesekian yang tak pernah masuk daftar hidupku lagi. Aku takut menikah. Aku takut mencintai. Aku tidak mau menikah lagi."
__ADS_1
***
Bantu kasih kopi dan hadiah ya mentemen. Doain semoga bisa nangkring di rank. 🙏🙏🙏