Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Seperti terhimpit di dalam lubang yang sempit, begitulah pikiran Hero saat melihat wajah muram Marco yang tak berbeda jauh dengan sepotong mayat hidup.


Semenjak membawa Vanya untuk tinggal di rumah utama bersama Nadya, tingkah Marco jadi tambah semakin aneh. Ia mulai sering marah-marah dan mengamuk tidak jelas setiap waktu. Hero sampai pusing memikirkan apa sebenarnya yang diinginkan pria itu.


Satu-persatu balas dendamnya kepada Vanya telah Marco lakukan sesuai rencana awal. Namun hal itu tak kunjung membuat Marco puas dengan segala tindakannya. Justru wajahnya semakin tak bersemangat dan terlihat lesu. Hatinya ngilu. Hidupnya hampa. Sama sekali tidak ada aura bahagia-bahagianya di sana.


Sementara itu, sudah beberapa hari ini Vanya terus mengirim banyak sekali rentetan pesan yang membuat Hero mendesahkan napasnya tak tega. Bahkan hari ini ia sudah mendapat tujuh pesan panjang dengan berbagai kata yang layak dijadikan sebait novel.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa Nona. Ini semua keinginan tuan Marco." Pria itu berguman menatapi layar ponsel tanpa berniat membalas satu pun pesan berisi makian Vanya.


Ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Hero bangkit dari ruang kerjanya, kemudian melangkah dan membuka pintu menuju ruangan Marco untuk membicarakan proyek yang baru saja ia setujui bersama klien.


"Astaga, Tuan!"


Hero lekas berlari begitu melihat Marco tersunggukur di samping sofa. Ia langsung sigap memapah pria itu dan mendudukkanya di atas sofa.


"Tubuh Anda panas sekali, Tuan," ucap Hero seraya memegangi dahi Marco cemas.


"Tidak apa," lirih pria itu. Napasnya mulai terdengar berat menandakan bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja. Tangannya sedari tadi memegangi kepala yang teras berat sampai sulit untuk diangkat.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Anda pasti kelelahan karena akhir-akhir ini sering lembur dan pulang malam." Hero hendak melangkah untuk menelpon ambulan, namun Marco langsung menyergah sambil memegangi lengan pria itu.


"Bawa aku pulang saja. Aku ingin istirahat di rumah."


"Ke rumah sakit saja, Tuan! Di sana ada dokter spesialis yang sudah pakar dalam menyembuhkan sakit. Kesehatan Anda lebih terjamin di sana."


"Bawa aku ke rumah!" lirihnya dengan ketegasan.


"Baiklah, Tuan."

__ADS_1


Hero terpaksa mengiyakan. Kalau sudah sakit seperti ini, tak ada yang bisa Hero lakukan selain menyetujui permintaan bossnya.


*


*


*


Kembali pada rumah utama Marco. Vanya dapat mendengar Hero datang dan langsung memerintahkan beberapa pelayan pria entah untuk apa.


Kegaduhan di ruang tamu mulai terdengar saat Vanya sedang bersenda gurau bersama pelayan di dapur. Selama empat hari tinggal di rumah utama Marco, Vanya memang selalu menghindari segala pertemuannya dengan Nadia. Wanita itu juga sepertinya masuk dalam golongan orang sibuk. Karena setiap hari Nadya selalu berangkat pagi dan pulang menjelang sore hari. Vanya tidak pernah bertanya kegiatan Nadia. Ia tidak peduli dan tidak mau tahu urusan semua penghuni rumah ini kecuali urusan perutnya sendiri.


Vanya ingin mencoba bahagia dengan menganggap semua yang ada di sini tidak nyata. Biarlah ia hidup dalam kekosongan di ruang yang ia sebut hampa.


"Di mana Nona Vanya?" Suara Hero mulai terdengar kembali, kali ini nada bicaranya agak dibuat sedikit panik di sebelah sana.


Vanya mendengkus tanpa berniat menghampiri ke ruang tamu karena masih kesal pada Hero yang terus mengabaikannya selama ini.


Tak lama kemudian. Deru langkah sepatu pantofel milik Hero terdengar mendekat ke arah Vanya yang masih anteng duduk di meja makan khusus pelayan. Wanita itu pura-pura sibuk dan tak menghiraukan kedatangan Hero sama sekali.


"Tuan Marco sakit, badannya panas sekali, cepat bawakan dia air hangat dan kompres tubuhnya."


Vanya masih asik mengunyah seakan Hero adalah bayangan yang tak terlihat di matanya.


"Nonaaaa, jangan bercanda! Cepat urus suami Anda!"


Beberapa pelayan yang sedang berada di dekat Vanya segera menyingkir saat suara Hero mulai menggelegar. "Saya siapkan dulu air kompresannya Nona!"


"Nona!" panggil Hero lagi, masih tidak mau menyerah.

__ADS_1


Vannya mendesahkan napasnya tanpa menoleh sedikit pun. "Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit? Dokter juga banyak ... panggilan saja dokter," ketusnya.


"Tuan tidak mau! Kalau bukan permintaannya, saya tidak akan membawanya ke sini," jawab Hero setengah ketus juga.


Vanya mulai mendongak dengan wajah santai. "Aku hanya istri pajangan. Kau telpon saja isrti asli untuk merawatnya. Kenapa harus aku yang mengurus dia?"


"Tuan Marco hanya mau Anda seorang yang merawatnya! Kalau bukan perintanya, saya sudah menyuruh nona Nadia pulang."


Vanya mendelik ke arah Hero. Matanya menghardik penuh sambil memandangi pria itu dengan tatapan protes.


"Kenapa harus aku? Dasar pria tidak tahu diri!"


"Anda istrinya. Saya sudah menaruh tuan Marco di kamar Anda. Sebaiknya segera datang sebelum dia marah-marah," ucap Hero mengingatkan sekali lagi.


"Beraninya kau membawa dia ke kamarku!"


"Dia yang minta," balas Hero santai.


Vanya terpaksa bangkit daripada Hero terus mengoceh tak jelas dan membuat kepalanya tambah pusing. Ia segera mengambil baskom dan alat kompres yang baru saja disodorkan pelayan di atas meja untuk membasuh tubuh Marco nanti.


"Dasar pria sialan! Disaat sakit begini kau baru mencariku, tapi setiap malam selalu tidur dan menghabiskan waktumu bersama Nadia. Kau pikir aku babumu, hah?"


Hero tampak tersenyum mendengar omelan Vanya yang enggan tapi tetap bangkit melakukan. "Apa Anda merindukan sentuhan?" lirihnya.


"Kau bilang apa sekretaris Sialan? Mau kusiram air panas?" Wanita itu menoleh bengis.


"Tidak Nona, hari ini cuacanya sangat panas. Saya haus!" Lantas mengambil gelas dan segera menekan tombol air dingin di knop dispenser.


***

__ADS_1


Segini dulu deh. Takut gak ada yang baca. Kwkwkw.


Lama ngga up ya? Aku cuma mau tau masih ada yang mau baca apa engga? Karena alur ngga mungkin di ubah, tapi kalau tempat menulis masih bisa di pindah ke mana pun yang bisa mendapatkan pembaca yang mau menerima bahwa ini hanya sekedar cerita. HEHEHE.


__ADS_2