
Toilet menjadi tempat tujuan utama Vanya saat ini. Ia menyeka air matanya berkali-kali sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Kejadian yang terjadi baru saja sukses membuat harapan Vanya yang mulai tumbuh menjadi mati.
Semua kenangan manisnya bersama Adit benar-benar wajib dikubur. Bagaimanapun caranya Vanya juga harus melupakan niatnya kembali pada Adit setelah satu setengah tahun nanti.
Biarlah lima tahun hubungannya bersama Adit kandas begitu saja. Meskipun Vanya tahu Adit masih cinta, tapi pria itu terlalu banyak melakukan kesalahan fatal. Menjual Vanya tanpa izin. Menceraikannya. Ditambah sekarang Vanya mengetahui fakta baru yang lebih menyakitkan. Yaitu perselingkuhan Adit dengan mantan sekretarinya.
Pantas saja selama dua tahun ini Adit jarang sekali menyentuh Vanya. Ternyata pria itu sudah main serong dengan sekretarinya sendiri. Hal yang tidak pernah Vanya sangka adalah, Adit pernah membawa mantan sekretarisnya itu pulang ke rumah beberapa kali. Bahkan pernah sekali diajak ikut makan malam bersama Vanya.
Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati Vanya saat mengetahui semua ini. Sekretaris yang Vanya pikir baik dan sering berkunjung ke rumah, ternyata adalah selingkuhan yang sengaja Adit bawa. Andai semua hal ini terjadi karena dosa Vanya di masa lalu, Vanya rasa semuanya sudah lebih dari cukup. Wanita itu sudah hancur sehancur-hancurnya sekarang.
Sungguh miris sekaligus tragis. Bisa-bisanya Vanya sampai tidak tahu bahwa pria itu telah lama menyelingkuhinya. Kalau bukan karena dibongkar oleh Marco, Vanya yakin belang Adit akan tertutup rapat hingga kapan pun.
Vanya jadi teringat mereka acap kali berduaan di ruang kerja Adit sampai malam menjelang. Adit bilang bahwa pekerjaanya di kantor sangat banyak, maka dari itu Adit mengajak sekretarisnya lembur di rumah agar Vanya tidak khawatir dan dapat mengontrol kegiatan suaminya secara langsung.
Bodoh ... bodoh! Vanya merasa dirinya benar-benar bodoh lantaran mau saja percaya dengan mulut berdusta Adit yang manis sekali. Bahkan tak ada rasa curiga sama sekali.
Vanya keluar dari bilik toilet setelah puas menangis. Ia paham bahwa berlama-lama menangis untuk pria seperti Adit tidak ada gunanya sama sekali. Itu hanya akan menambah beban dan membuat hidup Vanya jadi semakin runyam. Lebih baik Vanya kembali sebelum Marco datang membawa pasukan bodyguar-nya untuk menyeret Vanya lantaran tak kunjung kembali.
__ADS_1
Wanita itu mencuci mukanya di wastafle agar sembabnya sedikit berkurang. Setelah itu baru Vanya keluar dari toilet.
"Van!" Adit sudah menghadangnya di depan pintu saat Vanya baru saja membukanya. Wajah pria itu sudah berubah menjadi kucing jalanan lusuh yang tidak pernah dirawat. Beda sekali dengan tadi yang tampak sumringah.
Plak ... Plak .... Plakk.
Vanya menampar pipi Adit sebanyak tiga kali. "Menyingkir dari hadapanku Mas Adit! Mulai sekarang jangan pernah menghubungi atau berani menemuiku lagi.
"Tahan dulu emosimu Van!"
Adit tidak peduli, ia terus mengungkuh Vanya ke pojok tembok sambil memegang kedua bahunya, erat-erat. "Dengarkan penjelasanku dulu, Van! Baru kamu marah!" tegas Adit.
Vanya hendak menyingkir. Namun lag-lagi Adit menahan tubuh kecil wanita itu dengan badan besarnya. "Apalagi sih, Mas?" bentak wanita itu seketika.
"Aku hanya ingin menjelaskan kronologisnya. Intinya semua perselingkuhan ini bukan murni kesalahanku saja Van. Kamu pun ikut berperan karena kamu duluan yang memulainya. Andai dua tahun lalu kamu mau melayaniku layaknya istri-istri lain, aku tidak mungkin main seroang dengan sekretarisku sendiri."
Sontak Vanya melotot tajam ke arah Adit. "Beraninya kamu menyalahkanku Mas! Harusnya kamu mikir kenapa aku menolakmu. Intropeksi diri, bukan pergi ke lain hati!"
__ADS_1
"Itulah kenyataannya Van! Aku berselingkuh karena istriku tidak mau memberikan hakku. Apa aku salah?"
Ungkapan Adit membuat Vanya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Wanita itu ingin sekali meludahi muka busuk Adit yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Aku sengaja melakukan itu agar otakmu berpikir Mas. Apa salahnya jika aku ingin punya anak darimu? Tapi kamu terus saja menyuruhku mengonsumsi obat penunda kehamilan tanpa memikirkan keinginanku. Bagaimana aku tidak marah padamu?" Vanya tak mau kalah dalam menjawab.
Jadi sebelumnya Vanya dan Adit memang sempat tidak berhubungan badan selama setengah tahunan. Vanya sengaja menolak setiap kali Adit ingin lantaran Vanya berharap pria itu mau berpikir mengenai masa depan hubungan mereka. Ia sudah lama menikah. Lebih dari tiga tahun, tapi Adit masih tetap saja bersikeras tak mau punya anak dulu.
Sementara Vanya ingin sekali memiliki anak. Namun Adit bersikeras menolak permintaan Vanya karena merasa umur wanita itu masih terlalu muda. Adit juga kurang suka anak kecil karena dianggap terlalu merepotkan. Adit mau Vanya hamil jika umurnya sudah mepet 30 tahunan.
Maka terjadilah perselisihan di antara mereka. Vanya tidak mau disentuh Adit jika ia tidak boleh hamil. Awalnya Adit tidak terlalu mempermasalahkan karena menganggap itu adalah bentuk ngambek seorang wanita pada suaminya. Namun siapa sangka bahwa Adit jadi tergoda wanita lain gara-gara hal ini. Lama-kelamaan hubungan tidak wajar mereka pun semakin keterusan hingga dua tahun lamanya.
Bahkan saat Vanya dengan sukarela menyerahkan diri di atas ranjang, Adit sudah tidak ingin, ia sering kali menolak ajakkan Vanya dengan berbagai alasan. Lelah. Capek. Ngantuk. Apa pun Adit ucapkan untuk menggugurkan ajakkan Vanya.
Ternyata inilah jawabannya. Adit sudah mendapat pemuas baru sehingga tidak membutuhkannya lagi dari Vanya.
***
__ADS_1
Berikan kata kata terbaik kalian untuk suami seperti Adit.