Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Lima Puluh Enam


__ADS_3

"Apa kamu tidak membenciku? Kata-katamu barusan sama sekali tidak pantas diucapkan kepada orang yang telah menghancurkan hidupmu, Van."


Marco menunduk dengan posisi kaki yang berselonjor memangku bantal guling. Ia sudah siap menerima jawaban terburuk yang akan segera Vanya lontarkan untuknya.


"Apa ini merupakan kata-kata penting yang ingin kamu tanyakan?" balas Vanya dengan pertanyaan. Marco mengangguk sebagai jawaban iya.


"Baiklah, biar aku jawab. Awalnya memang iya. Aku membencimu dengan segenap jiwa dan sisa hidupku. Wanita mana yang tidak marah diperlakukan seperti itu. Disiksa, dicampakan, diperlakukan seperti sampah, bahkan aku merasa pelacur jauh lebih mulia dibandingkan diri ini yang selalu dinistakan."


Helaan napas panjang yang kemudian Vanya empaskan membuat Marco tak bekutik sama sekali. Ia begitu hikmat meresapi titik-titik kesalahan fatal yang diberpuatnya kepada Vanya selama ini.


Lalu Vanya pun berkata, "Tapi lama-kelamaan aku semakin sadar, bahwa hidupku sudah lama hancur jauh sebelum kamu datang untuk membalaskan dendammu itu. Justru kedatanganmu membuatku membuka mata, bahwa rumah tangga yang selama ini kuanggap baik-baik saja, adalah fatamorgana yang menipu mata dan hatiku. Jadi aku harap kamu tidak terlalu menyalahkan diri atas nasib buruk yang harus kutanggung di dunia ini."

__ADS_1


Marco tak berkedip mendengar penuturuan Vanya. Apa pun yang wanita itu katakan, sama sekali tidak mengurangi perasaan bersalahnya pada wanita itu. Dan terlebih, ada darah daging Marco yang juga ikut tersiksa akibat ulah jahat ayahnya.


Pandanga Marco beralih, memilih menatap lukisan manis Vanya daripada melihat objek aslinya.


"Semua perbuatanku benar-benar tidak bisa dimaafkan Van. Kenapa kamu malah berkata seperti itu?" balas Marco dengan tangan yang mendadak gemetar. Hingga Vanya yang tengah menggenggam jari-jemarinya dapat merasakan hal itu. Vanya sampai menatap teduh Marco.


"Mungkin ini adalah bagian dari karmaku juga. Kamu bisa menjadi seperti itu akibat dari ulahku di masa lalu. Tidak mungkin ada kebakaran jika tidak ada sumber apinya. Jadi aku menganggap semua yang terjadi adalah bagian dari kesalahanku. Sekali pun hal itu ditinjau lagi dari perbuatanmu ataupun Adit, aku pun tidak layak jika hanya sekedar dijadikan seorang korban, karena aku ikut berperan penting dalam setiap ukiran kisah ini."


"Kisah kita bukan tentang adu siapa yang paling banyak melakukan kesalahan Co, tapi kita bertiga memang salah, tidak ada yang benar! Adit, aku, kamu, semuanya salah!" tukas Vanya dengan kesimpulan terbulatnya.


Pada akhirnya Marco memilih diam membekukan keheningan. Ia tidak menjawab dan memilih larut dalam perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu," sergah Vanya seraya menatap Marco lebih serius dari sebelumnya.


Marco mendongak lagi, kali ini wajahnya teramat pasrah saat menatap Vanya.


"Katakanlah ..," lirih pria itu.


"Hmmm." Vanya menganguk. Dua tangannya saling tertaut di atas paha untuk meredam perasaan gugup. "Tadi kamu sempat bilang bahwa kamu menikah dengan Nadia karena ingin melupakan bayang-bayang masa lalu, 'kan? Kalau tidak salah mengartikan, kalian tidak saling mencitai, tapi sengaja memutuskan hidup bersama seperti simbiosis mutualisme. Lalu kenapa pada akhirnya kamu membeliku dari Adit? Dan malah sekarang menikahiku. Aku yakin hal ini sudah kamu rencanakan sebelumnya, meksipun bayi di dalam kandunganku tidak ada, kamu akan tetap menikahiku demi jutuanmu yang entah maksudnya apa."


Marco tersenyum getir mendengar penghujung kalimat yang Vanya lontarkan. "Tahu dari mana?"


***

__ADS_1


Up dua bab. Likenya dan komennya jangan dilewatin ya mentemen


__ADS_2