Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Sembilan Puluh


__ADS_3

"Apa ini?" Marco menatap amplop putih yang baru saja diterimanya dari tangan Vanya. "Ini bukan surat perpisahan, 'kan?"


"Itu jenis keelamin anak kita. Memangnya kamu tidak penasaran?"


"Benarkah?" Buru-buru pria itu membuka amplop di tangannya. Wajahnya kembali berbinar setelah membaca pernyataan di surat tersebut.


"Perempuan?"


Marco berseru penuh. Sementara Vanya mengangguk menunggu reaksi pria itu. "Iya, anak kita perempuan."


"Syukurlaaaah!" Pria itu sedikit menarik nafas lega. Menghadirkan sebuah isyarat aneh di kepala Vanya hingga pada akhirnya wanita itu bertanya,


"Kenapa?"


"Syukurlah anak kita perempuan!"


"Syukur kenapa?"


"Aku lebih bahagia jika anak kita perempuan," jawab Marco seraya melepas jas yang sejak kemarin tidak pernah diganti. Selagi Vanya tidak merasa terganggu, bodo amat, pikirnya.


"Memangnya kalau laki-laki kenapa?" tanya wanita itu lebih rinci.


"Yang jelas kamu akan kerepotan."


"Kerepotan kenapa?"

__ADS_1


"Karena aku tidak menyukai saingan!" tukas Marco mulai bersikap manja sambil meletakkan amplopnya ke atas nakas. "Aku tidak mau kamu mencintai laki-laki lain selain aku!"


"Termasuk anakmu? Cemburu pada anakmu sendiri?" cibir Vanya yang tangannya sudah cekatan membantu Marco melepas kemeja putihnya. Bersiap memulai pertempuran setelah pertengkaran.


"Iya! Karena kamu sudah menyatakan cinta, jadi kamu tidak boleh memberikan kasih sayangmu kepada siapa pun lebih besar dari yang aku dapatkan!"


"Segitunya?" Vanya meninggikan satu alisnya dengan ekspresi setengah heran.


"Iya, aku harus mendapat kasih sayang paling besar. Jika ada anak laki-laki di antara kita, takutnya aku belum siap dan membuatmu kerepotan karena ayahnya cemburuan." Mendengar itu, Vanya mengatupkan bibirnya.


Posesif sekali dia! sepertinya tantangan hidupku semakin berat. Tapi kenapa hatiku merasa senang? Apa ini yang di namakan ketulusan?


Vanya meng ulum senyum geli.


Kruk ... Kruk.


"Shit!" geram pria itu kesal sekali.


"Kamu lapar?"


Pria itu menggeleng malu. "Abaikan saja!"


"Kapan terakhir kamu makan?" cecar Vanya setengah menghardik. "Ingat ya, kamu tidak boleh membohongiku! Kita sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Mulai saat ini kamu harus jujur, termasuk makan dan hal-hal remeh yang kamu lakukan tanpa sepengetahuanku!"


Marco memasang ekspresi lesu saat apa yang ia inginkan tak kunjung didapatkan. "Terakhir aku makan saat kamu menyuapiku pagi-pagi. Saat aku membatalkan janji karena hendak mengurus masalah perusahaan."

__ADS_1


Cetak!


Sentilan gereget mendarat di dahi Marco.


"Bisa-bisanya kamu tidak makan! Apa saja yang kamu lakukan sampai kelupaan makan begitu?"


Marco mendesahkan napasnya frustrasi. Setelah diomeli sana-sini, ia masih harus menerima omelan Vanya yang terdengar tidak pas dengan momen haru biru yang baru saja terjadi.


"Aku sibuk Van. Bisakah aku memakanmu sekarang?"


"Tidak! Tidak ada yang seperti itu." Vanya bergeser ke samping hingga kakinya menjuntai lantai. " Pakai bajumu sekarang juga! Ayo kita makan dulu!"


"Sebentar saja Van," pinta Marco memelas seperti pengemis. "Aku benar-benar sudah di ujung tanduk. Apa kamu tidak kasihan?"


"Tidak bisa Marco!"


"Ya Tuhan, Van! Mengapa kamu kejam sekali?"


Bayangan-bayangan percintaan yang beberapa lalu sempat berputar di kepala Marco seketika lenyap. Ia harus menunda hasratnya. Dengan ekspresi wajah tertekan, ia mengikuti langkah kaki Vanya menuju meja makan setelah menutup kancing kemejanya kembali.


***


Novel ini belum tamat gengs, tapi karena updatenya agak slow, jadi aku klik tamat biar gak dapet notif suruh update sama admin.


Bagi suportnya ya, capek loh, dibully terus, mau up rutin juga keburu down.

__ADS_1


__ADS_2