
Petir yang menyambar-nyambar mulai diiringi oleh hujan yang mengguyur bumi dengan derasnya. Vanya berlari menembus perkebunan apel. Melewati puluhan pohon-pohon yang berjajar rapi untuk menghindari kejaran pria itu.
Ia tak tahu kemana arah tujuannya berlari. Yang ia inginkah adalah menghindar dari pria itu sebisa mungkin.
"Vanya!" Marco berteriak. Kakinya terbuka lebar dan terus menyusuri perkebunan lebat itu dengan napas tersengal-sengal. Ia gencar mencari sosok Vanya di tengah derasnya air hujan dan juga kabut putih yang menyelimuti permukaan udara.
"Van!" teriak pria itu terus berlari brutal menyusuri jalanan setapak. Langkahnya terhenti saat melihat tubuh menggigil sedang bersembunyi di balik pohon apel yang cukup besar.
Marco langsung berlari menghampiri wanita itu. Vanya tengah menangis terisak-isak di bawah siraman air hujan sambil memeluk tubuh kurusnya.
"Maafkan aku, Van!"
Dadanya terasa sesak saat melihat keadaan Vanya yang begitu kacau.
"Pergi kamu!"
__ADS_1
"Tidak, Van!"
"Pergi, aku tidak ingin melihat wajahmu!"
Gertakan Vanya tak membuat kegigihan Marco luruh begitu saja. Ia justru menarik tubuh kedinginan itu ke dalam dekapannya.
Vanya memberontak. Memukul-mukul dada Marco dengan seluruh tenaganya. "Lepas! Lepaskan aku! Dasar pria sialan!"
Jerit tangis Vanya saling bersautan dengan petir yang menyambar-nyambar di atas langit.
"Mau apalagi? Apa masih belum puas melihat penderitaanku selama ini, hah? Sekarang kamu masih harus menyalahkanku dengan cara membentak-bentak!" Vanya berteriak. Ia merasa Marco seperti sedang menyiram air garam di atas luka lamanya. Menambahkan luka baru yang membuat wanita itu berfikir ratusan kali untuk kembali bersama Marco.
Vanya beralih memukul-mukul punggung Marco. "Kamu egois, Co! Kamu memaksaku untuk memaafkanku tanpa kamu tahu seberapa menderitanya aku selama ini!"
Perih! Hatinya begitu perih saat ia masih harus disalah-salahkan di tengah-tengah kehidupnya yang penuh dengan tekanan sana-sini.
__ADS_1
"Maaf Van! Tadi aku sama sekali tidak bermaksuk membentakmu! Jujur aku bingung dan buntu melihat sikap acuh kalian berdua! Apa pun yang kulakukan seolah tidak ada benarnya di mata kalian. Aku frutrasi, Van! Aku hampir gila dengan ketidakberdayaan ini."
Satu pukulan kuat mendarat di bahu Marco. Wanita itu mendongak dengan tatapan tegas dan menusuk.
"Baru satu hari di sini kamu sudah bilang frustrasi! Bagaimana jika kamu jadi aku, Co? Melahirkan dan merawat anak seorang diri selama empat tahun lebih! Sudah hidup susah, ditambah dengan hinaan dari para tetangga pula! Apa kamu pikir hidup seperti ini enak? Tidak sama sekali! Andai tidak ada Ella mungkin aku sudah mati bunuh diri sejak dulu."
"Justru itu, Van!" Dirangkumnya wajah penuh emosi itu dengan pandangan teduh. "Hal itulah yang membuatku semakin frutrasi saat bertemu kalian lagi. Aku ingin cepat-cepat menjadi manusia berguna. Manusia bermanfaat yang dapat meredam penderitaan kalian selama ini! Tapi yang aku dapat hanya sikap acuh dan acuh dari kalian berdua. Diluar ekspektasi, ternyata kehadiranku sama sekali tidak dapat menambah kebahagian. Yang kuinginkan hanya satu. Menebus semua kesalahanku dengan cara membahagiakan kalian!"
Seketika membeku, bibir Vanya yang sudah memberiu sedikit berkedut seolah hendak mengatakan sesuatu. Namu segala kata yang melintas di kepala seakan lenyap. Vanya tak dapat berkutik lagi di hadapan Marco. Bahkan tubuhnya memberikan reaksi yang berbeda. Tubuh itu tidak lagi memberontak, cenderung meminta dipeluk lebih erat.
"Aku sudah pernah melakukan kesalahan yang fatal dengan cara membencimu! Dan itu sangat menyiksa. Hidupku seperti berada dalam jurang penyesalan! Itu sebabnya aku tidak mau kamu dan Ella ikut melakukan hal seperti itu juga. Buka mata dan bukalah hatimu, Van! Lihatlah semuanya berdasarkan pengalamanku. Memaafkan suami durhaka sepertiku mungkin terdengar tidak etis, tapi membenci jauh lebih menyiksa diri. Aku yakin batinmu sangat terluka!" Marco menunjuk dada kiri Vanya, tempat di mana orang biasa menganggapnya sebagai simbol hati bersarang.
***
Gengs, kabar gembira. Visual Marco Ella dan Vanya yang cocok udah aku unggah di postingan IGku. Udah diliat sama ratusan pembaca mereka juga. Banyak yg bilang sangat cocok, apalagi Ella imut banget. Buat yg penasaran boleh cek ya, @anarita_be. lagi gak dikunci kok ig nya. Bebas mau follow atau kagak.
__ADS_1
Gak bisa ditaruh di sini, entar kena hak cipta.