Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Dua Puluh Satu


__ADS_3

Duduk di sofa dengan gelisah, Vanya pun mulai membaca satu persatu daftar tugas yang telah di susun Hero. Tidak terlalu banyak, namun sukses membuat Vanya melotot tajam begitu membaca semua tugas berlebihan yang Hero buat. Dia pikir Vanya budak cinta apa, kenapa malam membuat daftar pekerjan untuk orang gila seperti ini? 


Daftar pekerjaan Nona Vanya hari ini :




Suapi tuan Marco pada jam makan siang sampai kenyang.




Pijit tuan Marco dengan penuh kasih sayang jika ia letih.




Beri pelukan dan ciuman setiap satu jam sekali agar badannya segar kembali.




Bercinta dan layani dengan sukarela saat tuan Marco menginginkannya.



__ADS_1


Turuti semua perintah tuan Marco apa pun itu.




Tetaplah bahagia saat menghabiskan waktu bersama karena kesempatan ini sangat langka.




Terima semua peraturan ini dengan defensif.




Sorot mata mengancam Vanya menukik hingga terasa mencekam. Ia memperhatikan Hero yang tengah berdiri di depannya sambil menghela napas dan membuangnya secara kasar.


"Itu adalah tugas Nona!" jawab Hero santai. Tidak takut pada Vanya sama sekali karena Hero tahu bahwa wanita itu ada di bawah kendali Marco saat ini.


"Bisakah kau membuat daftar yang lebih bermanfaat lagi wahai sekretaris Hero yang agung? Kau pikir aku wanita malam. Untuk apa aku melakukan hal seperti itu di kantor? Di rumah saja aku jijik!" pekik wanita itu masih dengan mata mendelik garang.


"Tentu saja itu sudah yang paling bermanfaat untuk tuan Marco. Sebagai laki-laki saya sangat paham apa yang diinginkan pria ketika membawa wanita bersamanya." Dengan tidak tahu dirinya Hero berkata. Ia melirik sedikit si tuan yang tengah sibuk dengan layar pintarnya. Namun, ia bisa merasakan bahwa pria itu mendengarkan percakapannya dengan seksama.


"Coba jelaskan satu-persatu manfaatnya. Jika itu masuk akal, aku akan menerima, jika tidak, aku tidak akan melakukan tugas-tugas ini."


Tanpa sadar Marco tersenyum mendengar ungkapan Vanya. Apaan sih, kenapa hatiku mendadak senang begini?


Abaikan sejenak karena Hero sudah mulai menjelaskan. Marco pun ikut menjadi pendengar setia walau mata hazel itu terus menatap layar dan pura-pura sedang bekerja.

__ADS_1


Hero mulai menunduk untuk menjelaskan satu-persatu poin di kertas yang ia pegang. Kertas itu sedikit lecek karena ulah Vanya yang sempat membuangnya dengan kasar.


"Poin satu, saya menyuruh nona menyuapi tuan Marco karena belakangan ini beliau sangat susah makan. Dan jika perut tuan Marco dalam keadaan lapar, semua karyawan yang ada di sini akan menderita termasuk nona dan saya. Karena menurut penelitian ilmiah, manusia akan menjadi galak ketika dalam keadaan perut kosong." 


Sialan kau Her, kali ini aku akan memaafkanmu. Lanjutkan pertunjukkanmu, aku ingin melihat ekspresinya yang tertekan. Marco berbicara dalam hati.


“Poin ke dua dan tiga: memijat, memberi pelukan, dan juga ciuman setiap satu jam sekali adalah kegunaan Nona berada di sini. Semua wanita yang masuk keruangan boss pasti akan melakukan itu. Termasuk Nona Vanya.” Suara Hero terdengar semakin menyebalkan di telinga Vanya.


Andai aku mampu menaruh sebungkus racun ke dalam minumannya, itu jauh lebih baik, batin Vanya geram. Akan tetapi tetap memilih diam untuk menghemat tenaganya.


“Poin keempat adalah bercinta!” Hero sedikit mendongak dengan seringai mesum yang melukis rahang tegasnya. “Itu merupakan kelanjutan dari semua yang Nona lakukan sebelumnya. Nona bukan patung yang sedang dipajang di kantor ini, tidak mungkin seorang laki-laki normal tidak menginginkan ikan sementara ada yang menggiurkan di depan matanya."


“Sekretaris sialan!” sembur Vanya murka. Lantas melempar hero dengan bantal sofa yang ia raih dari sampingnya. Hero tampak tersenyum puas, dendamnya pada Vanya yang sempat menggodanya waktu itu merasa terbalas.


Pria itu melirik Marco dengan nada mengadu. "Tuan, apa tugas yang saya berikan berlebihan. Bukankan itu yang Anda mau?"


Kali ini Marco benar-benar tersenyum. Ia tidak tahan melihat ekspresi marah Vanya akibat ulah Hero yang jail. "Benar ... itu yang kumau," jawab Marco.


Hero menatap kertas di tangannya kembali. Menjelaskan tugas berikutnya dengan seksama. “Untuk poin kelima sampai ketujuh sebenarnya tidak terlalu penting untuk tuan Marco. Ini lebih ditujukan kepada Nona. Tugas Nona hanya perlu menuruti setiap keinginan tuan Marco, lantas pasanglah wajah bahagia karena lelaki tidak senang melihat wanitanya bersikap tak acuh apalagi masam."


"Wanita juga tidak senang melihat pria berwajah kutu busuk sepertimu!" ejek Vanya dengan lantang.


Hero tak memperdulikan ucapan Vanya dan terus melanjutkan ucapannya. "Terakhir adalah defensif … Nona harus kuat dan bertahan karena ini adalah takdir Nona. Sebagai lelaki, saya sangat setuju bahwa wanita yang tidak setia dan suka bermain api layak dihukum.”


Sialan! Lemes sekali mulut kutu busuk itu Vanya sudah mengepalkan kedua tangannya geram. Begitu muak sampai ia memalingkan wajahnya agar tidak melihat Hero.


***


Mau ngetes komen.


100 komen aku up lagi yang agak banyakan.

__ADS_1


__ADS_2