
Pikiran yang sudah buntu total kian membawa Vanya menuju jalan mala. Tanpa diduga, wanita itu langsung memegang handle mobil dan menekan panel kunci yang terletak pada pintu. Ia nekat melompat tepat saat mobil Marco mulai melaju meninggalkan baseman tersebut.
Brugh!
Vanya berguling menjatuhkan dirinya. Ia segera bangkit dengan langkah tertatih-tatih sambil mencari bantuan orang sekitar untuk membawanya ke tempat yang lebih aman dan jauh dari jangkauan Marco.
"Sial!" Marco membanting setir dan menendang pintu kemudi. Ia tidak menyangka bahwa Vanya kembali membahayakan dirinya dengan cara tidak masuk akal seperti itu.
"Tolong ... tolong!" teriak wanita itu sekeras-kerasnya. Beberapa orang yang panik mulai datang mengerubuni wanita itu.
"Ada apa, Nona?" sergah beberapa orang yang matanya sudah tertuju pada bagian perut Vanya.
Wanita itu terus memegangi perutnya yang mulai terasa sakit akibat guncangan hebat yang terjadi barusan. Ia tahu aksi nekatnya dapat membahayan keselamatan bayi yang ada di dalam kandungannya. Namun Vanya tak ada pilihan lain selain menggunakan cara seperti ini agar terbebas dari jerat lelaki iblis itu.
"Tolong aku! Dia ingin membunuhku! Tolong selamatkan aku!" teriak Vanya saat melihat Marco berlari mendekat ke arahnya. Ia bersembunyi di balik punggung satpam sambil mencengkram seragam hitam putih itu kuat-kuat.
Wajahnya Vanya memucat penuh getar ketakutan. Darah segar sudah keluar perlahan dari pangkal paha wanita itu. Beberapa orang yang berkerumun langsung menangkap tangan Marco untuk diserahkan kepada polisi.
"Lepaskan aku sialan! Untuk apa aku membunuh istriku sendiri?" geram Marco terus memberontak.
"Tolong aku, aku tidak mau ikut bersamanya." Vanya mencoba menghindari tatapan murka Marco yang sengaja ditujukan kepadanya.
"Mohon kerja samanya. Tolong Anda jelaskan semua ini di kantor polisi saja Tuan," ujar salah seorang satpam yang sudah sigap memutar tangan Marco dan memborgolnya dari belakang.
"Saya suaminya, untuk apa saya menjelaska! Ini hanyalah masalah rumah tangga," tukas Marco membela diri.
__ADS_1
"Nona itu bilang bahwa Anda mau membunuhnya! Tentu saja kami tidak akan tinggal diam. Dasar pria jahat!" seru orang tak dikenal yang lebih membela Vanya atas bukti nyata di depan mata.
"Mana mungkin saya membunuh istri sendiri. Sudah gila apa!" Marco menghempaskan napasnya dengan kasar dan terus memberontak. Sayangnya hari ini ia tidak membawa satu pun bodyguar yang biasa mengiringi segala aktivitasnya.
"Nona itu tidak akan nekat jika Anda tidak berbuat jahat. Bawa saja ke kantor polisi!" seru ibu-ibu sambil melempar kebencian ke arah Marco.
Vanya segera dilarikan ke rumah sakit karena keadaannya sudah melemah, sementara Marco diarak ke kantor polisi terdekat untuk diminta keterangan lebih lanjut.
*
*
*
Mala melintang yang Vanya hadirkan berujung menjadi sebuah kesia-siaan. Kini ia berbaring di rumah sakit dengan tubuh lemah tak berdaya. Malangnya lagi, bayinya nyaris saja meninggal jika tidak segera dibawa ke rumah sakit oleh orang sekitar.
Tepat di samping Vanya, ada Hero yang tengah duduk menunggu sambil memandang wanita itu penuh iba.
"Ini adalah kedua kalinya Nona melakukan hal gila seperti ini. Apa masih belum puas?"
Vanya membuang muka saat Hero mulai berceramah. Pria itu terus menggelengkan kepala karena harus ikut repot dengan kasus yang sama untuk kedua kalinya.
"Saya tahu nona ingin mempertahankan hak asuh anak itu, tapi cara yang nona gunakan sama sekali tidak dibenarkan. Apa Anda tidak berpikir bahwa keselamatan kalian berdua bisa saja terancam karena drama gila yang Anda ciptakan?" tukas Hero.
Vanya menoleh kembali. Matanya menukik tajam dengan tangan mengepal kuat menahan emosi. "Kau tidak tahu seperti apa rasanya terancam dan berada di ujung tanduk, Hero. Aku tidak akan tahu seperti apa hasilnya jika tidak mencoba semua ini! Mungkin aku akan menyesal jika hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa saat bayiku hendak direbut."
__ADS_1
"Jadi Nona masih berpikir bahwa apa yang Nona lakukan benar?" geram Hero sambil menggeleng penuh keheranan. Ia balas menatap Vanya sampai seluruh matanya dipenuhi wajah angkuh wanita itu.
"Ya!" jawab Vanya singkat.
"Nyatanya hal ini sia-sia Nona! Anda hanya membuang waktu dengan membahayakan dua nyawa sekaligus tanpa mendapat hasil apa-apa!" tandas Hero begitu sarkasme.
Vanya memalingkan wajahnya kembali. Pertahanan mulai melemah. Air mata wanita itu jatuh perlahan. Hatinya sakit. Otaknya berteriak frustrasi dengan nasib buruk yang terus-terusan datang kepadanya tiada henti.
Maafkan ibu Nak. Akibat sikap egois ibu, kamu hampir saja pergi meninggalkan ibu.
Ia meraba perutnya perlahan tanpa memperdulikan Hero yang sedang menatap dirinya dengan wajah datar.
"Maaf," lirih Vanya.
Hero tidak tahu kata-kata itu ditujukan kepada siapa. Yang jelas ia ikut menyesal atas kata-kata sarkasme yang ia ucapkan kepada Vanya sampai wanita angkuh itu menangis.
Segala tindak-tanduk pria memang selalu berbanding terbalik dengan wanita. Ia menggunakan logika saat berbicara. Sayang wanita tidak seperti itu, mereka lebih menggunakan hati setiap kali menghadapi sebuah masalah.
"Nona!" panggil Hero sedikit tegang. Melihat keadaan Vanya yang rapuh dan jauh dari kata angkuh membuat Hero semakin merasa kasihan.
Vanya memilih diam tanpa pergerakan. Mengabaikan Hero yang sudah berdiri sambil meneliti wajah sedih Vanya dari arah samping.
"Saya mohon maaf atas ucapan saya tadi." Pria itu menunduk sopan. Merasa tak enak hati melihat Vanya menangis dalam keterdiamannya. "Tadi saya sudah berusaha membujuk tuan Marco, tapi tuan terlalu keras kepala sama seperti watak Nona. Saya tidak bisa membantu apa-apa atas kejadian ini. Saran saya hanya satu, itu pun jika Anda masih mau mendengarkan ucapan saya. Buanglah segala keegoisanmu, Nona, dan buatlah tuan Marco jatuh cinta agar Anda dapat terbebas."
***
__ADS_1