
"Bedebah! Mengurus yang seperti itu saja kalian tidak becus!"
Hero mengendarai mobilnya dengan wajah santai saat Marco mengumpat kasar dan bersikap uring-uringan. Pria itu tampak gelisah. Entah karena kabar maminya yang sakit, atau karena tidak rela meninggalkan Vanya di pulau seberang sendirian.
"Saya dan Anna sudah berusaha membujuk nyonya Maria, tapi beliau tetap kekeh dan mengancam akan mencabut semua fasilitas Anda jika tidak segera datang menemui nyonya. Beliau marah sekali," ucap Hero. Lagi-lagi dikatakan dengan pembawaan santai seperti bukan pada boss-nya.
"Lari dari masalah memang bukan solusi. Ini adalah jalan yang Anda pilih, seharusnya Anda memikirkan solusi untuk menghadapi masalah dikemudian hari, bukan malah melimpahkan semuanya pada saya atau adik Anda," lanjutnya. Membuat otak Marco mendidih seketika itu juga.
"Sialan Kau Her! Sepertinya kau ingin sekali turun jabatan menjadi OB!" gerutu Marco kesal. Namun Hero sudah paham betul bahwa yang dikatan Marco tidak serius.
Mata pria itu bergerak liar ke arah luar jendela. Berusaha menyusun kata-kata untuk menghadapi amukkan ibunya nanti.
Sambil menendang jok belakang Hero, Marco berkata lagi,
"Asal kau tahu! Aku bukan sedang menghindari masalah, Her. Aku hanya ingin meminta jeda waktu sebentar sampai semuanya terasa normal. Kau 'kan tahu sendiri bahwa aku baru saja berdamai dengan Vanya kemarin lusa," ujar Marco Marco membela diri.
Hero hanya diam serta menganggukkan kepala. Pandangannya memilih fokus membelah jalan raya. Berjibaku dengan para pengendara lain yang tengah memadat di jam istirahat kerja.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Nadia? Apa perempuan itu ada membelaku sedikit?" ucap Marco lagi.
Hero melirik ke arah kaca penumpang. Dilihatnya wajah Marco yang tampak kusut menandakan kurang tidur.
"Saya lihat Nona Nadia berusaha menenangkan Nyonya sejak kemarin," terang Hero. "Cobalah minta bantuan pada nona Nadia. Menurut saya, Anda tidak akan bisa menghadapi nyonya Maria jika hanya menjelaskan masalah secara sepihak. Bagaimanapun nona Nadia dipandang sebagai korban dalam permasalahan ini. Setidaknya Anda akan kuat jika mengandalkan peran bersama."
Marco tampak menimbang-nimbang ucapan Hero yang ternyata ada benarnya juga. "Benar katamu, tapi aku merasa tidak enak hati karena sempat melayangkan pengajuan cerai tanpa aba-aba terlebih dahulu. Bahkan sejak mengirimkan surat ajuan itu, aku belum pernah menghubungi Nadia sama sekali!"
Kini otak Marco berputar memikirkan bagaimana caranya mengajak Nadia untuk kerja sama. Meski tidak saling cinta, tetap saja perbuatan Marco dinilai tidak sopan. Dan Marco sendiri merasa bersalah karena terlalu cuek pada istri pertamanya itu.
Lima belas menit sudah berlalu. Setelah berdebat di dalam mobil nyaris satu jam, Hero dan Marco telah sampai di rumah utama. Marco langsung berlari ke dalam rumah untuk segera menemui Mami saat mobil baru saja dihentikan Hero.
Anna dan Nadia tengah mengobrol di ruang tamu saat Marco datang dengan napas tersengal-sengal.
"Di kamar utama tamu. Mami sedang istirahat," jawab Anna sedikit menelan ludah saat melihat ekspresi wajah datar Marco. Ia takut kena marah karena tidak berhasil menenangkan ibu berwatak arogan yang hidupnya selalu menjunjung sosialita itu.
Marco mengayun langkah kakinya cepat menuju kamar mami. Pria itu membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. "Mam, Marco pulang ...," lirihnya.
__ADS_1
Mendengar suara yang tak asing lagi di telinga, nyonya Maria langsung melotot. "Anak kurang ajar!" bentak wanita itu tanpa berniat bergerak dari ranjang karena masih ada infus melekat di tangannya.
"Maafkan Marco Mam! Ini tidak seburuk yang Mami kira! Dengarkan penjelasan Marco dulu ...." Pria itu mendekat seraya membungkukkan kepalanya di samping mami Maria.
Plakk!
Satu tamparan melayang kasar hingga Marco terlonjak. Ini adalah pertama kalinya mami Maria menampar anak pertamanya itu.
"Mami tega melakukan seperti pada anak Mami," lirih Marco masih tidak percaya.
Tangan kirinya menyentuh pipi yang memanas akibat tamparan sang mami. Rasanya terasa seperti mimpi. Ia masih berusaha sabar untuk tidak mengeluarkan amarah. Setelah meraup oksigen banyak-banyak, Marco mendudukkan dirinya di bibir tempat tidur. Tepat di samping sang mami.
Pria itu tetap menunjukkan sikap lembut mengingat kondisi maminya sedang tidak baik-baik saja.
"Tolong maafkan Marco, Mam! Marco tahu kalau Marco salah, tapi sumpah demi Tuhan! Marco sudah memiliki niat untuk membicarakan hal ini pada Mami, hanya waktunya saja yang belum tepat."
"Belum tepat apanya? Kalau mami tidak tahu sendiri, mami yakin sampai mati pun kamu akan tetap menyembunyikan wanita perusak hubungan orang itu!"
__ADS_1
***