
Mata sudah melirik-lirik cantik sedari tadi. Beberapa kali Anna mengusap tangan Hero yang tengah aktif memegang setir kemudi. Pandangan pria itu begitu fokus menatap lurus ke arah jalan raya. Sedang menuju ke rumah orang tuanya di pinggiran kota untuk menyelamatkan diri dari godaan gadis genit terkutuk yang tak henti menggoda pikiran jahanamnya sedari tadi.
Lebih tepatnya, Hero adalah pria sejati alias normal 500 persen. Berada di dalam apartemen dengan dukungan kesunyian tidak bagus untuk kesehatan si makhluk kecil yang ada di bawah sana. Ia takut sesuatu tak kasat mata lewat dan berakhir melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Tidak! Tidak! Hal itu jangan sampai terjadi. Hero sudah berjanji pada diri sendiri akan menjadi super hero yang memiliki hati ksatria. Sebesar apa pun hasratnya pada Anna, ia akan berusaha untuk tidak merusak kesucian wanita sebelum berhasil menjadikannya sebagai hak paten.
Tak lama kemudian, mobil Hero berhenti tepat di halam bercat putih tulang dengan nuansa pohon-pohon hias yang mengelilingi halaman rumahnya.
Langit tampak menjingga saat Hero menuntun Anna menuju ambang pintu rumah. Menandakan matahari akan segera istirahat dari tugasnya menerangi bumi.
"Herooo!" Terdengar suara wanita paruh baya berseru heboh sedang berlari ke arah pintu yang terbuka lebar sedari tadi. Ia menubruk tubuh besar Hero dan berakhir masuk ke dalam pelukan bayi mungil yang sudah menjelma menjadi jagoan tampan kebanggan.
"Kemana saja kamu Nak? Ibu rindu kamu!" Anna sedikit menyingkir ke belakang untuk memberi jarak pada dua insan yang tengah melepas rindu tersebut.
Beberapa saat kemudian, ibu mulai menyadari bahwa ada sosok Anna di belakang tubuh anak kesayangannya. "Ya ampun, calon mantu alot ibu juga datang juga toh?" Ibu berganti memeluk Anna.
"Ibu apa kabar? Maaf, Anna ngga bawa apa-apa ke sini."
"Halah, ibu tidak butuh apa-apa An, cukup kamu siapkan diri untuk dinikahi Hero, itu sudah cukup buat ibu. Sampai kapan kamu membuat anak ibu menggantung dengan status perjaka seperti itu?"ketus ibu penuh semburan.
Ucapan ibu membuat Hero berdecak. "Ibu ... nanti juga kita nikah kalau sudah waktunya."
"Sabar ya, Bu, tunggu kuliah Anna selesai," ujar anak itu seraya melepas pelukannya pada ibu.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah yang hanya dihunii oleh ibu dan pembantu harian yang setiap sorenya pulang. Ayah Hero sudah lama meninggal sejak Hero masih kecil.
Ceritanya sangat panjang jika dijelaskan. Singkatnya ayah Hero dan ayah Marco, ialah tuan Fernando, dulunya adalah sahabat karib yang sangat dekat. Di suatu ketika, mobil yang ditumpangi ayah Hero dan tuan Fernando mengalami kecelakaan tunggal hingga mengakibatkan ayah Hero meninggal di tempat kejadian. Hal itu membuat pukulan telak bagi keluarga ataupun Fernando sendiri. Karena ibu Mariam memutuskan hidup sendiri setelah ditinggal suaminya, keluarga Fernando memutuskan untuk andil dalam proses tumbuh kembang Hero kecil di masa lalu. Sejak kecil ia sudah dijejali segala pengetahuan tentang bisnis agar dapat menjadi orang sukses dikemudian hari.
Seperti namanya, Hero tumbuh menjadi pahlawan yang membuat perkembangan pesat I-Mush grup sampai menjadi perusahaan bertaraf internasional. Ia menjadi tokoh hebat yang memiliki peran penting di balik kesuksesan tuan Fernando dan juga Marco.
***
"Kak!" Anna mengintip dari balik pintu untuk melihat penghuni di dalamnya sudah bangun atau belum. Pagi sudah menjelang, membuat Anna rindu setelah mereka berpisah semalaman lantaran statusnya masih belum sah. Hero tidur di kamarnya, sementara Anna dipaksa tidur di kamar bersama ibu. Ia yang semalam merengek-rengek ingin tidur dengan Hero, akhirnya masuk dan menyelinap ke kamar pria itu lagi lagi ini.
"Aku masuk ya." Tampak Hero setengah mengerjap, merasakan kehadiran Anna samar-sama mendekati ranjang tidurnya.
__ADS_1
Gadis itu menubruk tubuh Hero, kemudian masuk ke dalam selimut yang sama hingga Hero sedikit terperanjat.
"Astaga Anna!"
"Aku kangen kamu," lirih Anna manja. Hero melirik petunjuk jam yang terpajang di dinding tembok.
"Ibu sebentar lagi bangun Ann! Aku bisa mati kalau sampai ketahuan dalam keadaan seperti ini."
"Aku juga sebentar lagi akan mati kena marah, Mami sedang dalam perjalanan ke sini, sepertinya dia sudah tahu kalau aku di sini."
"Yang benar saya kamu!" Hero reflek mencengkeram dua sisi wajah Anna saking tak percayanya.
"Sakit Kak!" Gadis itu memekik.
"Emm. Maaf!" Hero melepaskan kedua tangannya. Dia segera bangun untuk meraih ponsel di atas nakas. "Tuan Marco dalam bahaya. Jangan sampai nyonya melihat nona Vanya. Aku harus segera menghubunginya."
"Kakk!" Anna mencegah. Wajahnya terlihat pasrah. "Percuma, Mami sudah tahu tentang keberadaan istri kedua kakakku."
"Tau dari mana?" Dahi pria itu membentuk tiga lipatan lurus. Alisnya sedikit menukik dengan tatapan begitu intens.
"Tidak tahu, mungkin mata-mata mami atau orang suruhannya."
"Tidak tahu! Tadi aku sudah mengirim pesan ke kakak. Mungkin dia belum membaca pesannya. Aku sungguh takut ... aku takut kak Marco menyalahkanku," lirih anak itu sedikit gemetar.
Hero mengeratkan pelukannya. "Tenanglah, cepat atau lambat bangkai yang ditutupi akan ketahuan juga, sebelum kakakmu melakukan sebuah tindakan, pasti ia sudah tahu resiko terburuknya terlebih dahulu, jadi ini bukan salahmu. Kita doakan saja yang terbaik."
Anna sempat terdiam mendengarkan ceramah Hero dengan seksama. Namun wajahnya seketika merona saat sesuatu di bawah sana terasa keras dan menggesek bagian pahanya. Bukannya menanggapi persoal kakaknya, fokus Anna malah terbuyar entah ke mana.
"Emm. Itunya besar," gumam gadis itu lirih. Membuat Hero membola mendengar ucapan sarkasme yang keluar dari bibir sialan Anna.
"Kamu ya!"
"Apa itu akan muat nanti?"
Hero semakin melotot geram. "Teruskan bicaramu, aku benar-benar bisa memakanmu sekarang juga," acam pria itu.
__ADS_1
Anna terus mengoceh tanpa peduli. "Bagaimana kalau aku kesakitan di malam pertama?"
"Annnn!"
Gadis itu menautkan tangannya di depan wajah. "Ya Tuhan! Bisakah ukurannya diperkecil saja, setidaknya harus muat dan tidak menyakitiku. Aku tid—"
Anna tidak dapat melanjutkan kalimat terakhirnya. Bibir Hero menerja begitu buas tanpa rasa peduli. Ciuman itu terjadi kembali, dipenuhi nafsu membara yang sudah tak terkontrol oleh visual prianya. Tanpa sadar tangan keduanya saling memeluk. Menghangatkan udara dingin AC yang menyeruak masuk melakui sela-sela selimut.
Cukup lama mereka saling beradu dan menukar saliva sampai sebuah suara setara petir datang menyambar.
"Ya Tuhan Heroooo!" Teriakan ibu membuat Hero terenyak, lantas berguling panik hingga punggungnya terhantam lantai keramik yang begitu keras.
Pintu kamar Hero yang sedikit terbuka digebrak kuat-kuat.
"Anak kurang ngajar kamu ya!" Sapu ijuk yang ibu pegang melayang, tepat mengenai tulang tengkorak pria itu. "Berani-beraninya kamu melakukan hal terlarang di rumah ini!"
"Ampun Bu ... ampun!" Sapu ijuk kembali diambil, ibu mengamuk tiada hentin, membuat Anna ikut panik melihat calon suaminya dipukuli oleh ibu kandungnya sendiri.
"Sakit Bu ... sakit!"
"Sakit ya? Ini belum ada apa-apanya dengan api neraka yang akan kamu tanggung nanti, Hero! Kurang ajar ya kamu! Ibu tidak pernah mendidik anak ibu untuk melecehkan wanita seperti itu."
"Ya ampun Bu! Hero tidak melakukan apa-apa!" teriaknya penuh pembelaan.
Anna berusaha membela juga. "Iya Bu, Kak Hero hanya cium Anna dan remas-remas bagian atas, tidak sampai ke bawah-bawah apalagi melakukan adegan itu-itu!"
"Heroooo!" Ibu berteriak semakin kencang. Sapu ijuk itu sudah patah menjadi dua bagian. Beliau mengambil potongan sapu itu dan memukulkannya pada Hero yang masih berposisi menelungkup di bawah lantai.
Sial! Hero mengutuki nasib buruknya. Sepertinya pria itu layak dinobatkan menjadi cowok tersial sedunia lantaran ketahuan ciuman oleh ibu kandungnya sendiri.
Anna mulai menangis karena sudah terlalu panik. '"Bu, jangan sakiti kak Hero lagi. Anna yang mau kok, Anna yang membolehkan kak Hero melakukannya!"
Maksud hati ingin membela, namun ibu semakin gencar menyiksa anaknya acap kali Anna berbicara.
"Jangan ngomong lagi Ann, lama-lama aku bisa mati!" tandas Hero sambil melindung kepalanya agar tidak terkena pukulan ibu di bawah sana.
__ADS_1
***
***