
Yang kangen Vanya Marco.... Selamat membaca dan bertemu lagi dengan mereka.
Cekidot ...
***
Itulah sepenggal kisah hidup Anna di masa kecil. Masa-masa tersulit seorang gadis malang sebelum akhirnya bertemu dengan orang tepat yang dengan suka cita merawatnya hingga sebesar ini.
Ngomong-ngomong soal yang lain, kini Anna sudah lulus kuliah dan bekerja di perusahaan Marco, lho. Dia menjabat sebagai manager di bagiaan keuangan yang ruang kerjanya terpisah dengan Marco dan Hero, tetapi masih berada di lantai yang sama sehingga mereka bertiga selalu bertemu bahkan sering makan siang bersama.
Kedekatan hubungan mereka semua juga terlihat sangat mencolok dan selalu menjadi buah bibir manis para karyawan di kantor. Karena Vanya, Marco, Hero, dan juga Anna adalah topik romansa terbaik. Kepribadian Anna yang periang dan tanggap sangat cocok dipadu padankan dengan Hero yang tegas dan hangat. Apalagi jika ditambah dengan harmonisnya hubungan rumah tangga Marco dan Vanya yang selama ini selalu dipandang sempurna. Wanita beranak dua itu hampir tak pernah absen mendatangi kantor Marco untuk sekedar makan siang. Membuat siapa saja iri dan ingin cepat-cepat memiliki pasangan demi merasakan kehangatan.
Ah ya! Hampir lupa, mengenai keretakan hubungan Anna dan Hero, kini berita mereka mulai terendus oleh orang sekitar. Sikap Anna yang tiba-tiba acuh tak acuh membuat semuanya sulit ditupi. Apalagi Anna yang biasanya menempel pada Hero, kini sama sekali enggan menemui pria itu. Kira-kira sudah satu minggu lebih Anna dan Hero melakukan perang dingin sejak kejadian di taman waktu itu. Mereka sama-sama bersikeras dengan tekatnya masing-masing.
Anna ingin Hero menerima keadaan orang tuanya yang matre dan menyebalkan, sementara Hero tak sudi bersikap baik pada orang munafik yang menurutnya suka bersembunyi di balik status orang tua kandung. Hal itu pun membuat Marco dan Vanya tidak tenang. Lantas menyadari bahwa hubungan dua manusia itu sedang berjalan tidak baik.
Di ruang kantor yang luas dan terjaga privasinya, Vanya sedang berusaha mendebat Marco agar membujuk Hero untuk menuruti keinginan Anna. Yaitu berbaikan dengan orang tua kandung anak itu. Pasalnya Vanya sudah sangat risih mendengar segala ocehan anak gadis itu yang cukup membuat hatinya tergerak untuk ikut campur.
"Tumben kamu ke sini sebelum jam makan siang?" tanya Marco ketika melihat Vanya melangkahkan kakinya menuju meja besar tempat duduknya kini.
"Aku kangen kamu, Sayang." Wanita itu duduk di kursi depan Marco setelah mencium lembut punggung tangan suaminya. Kini keduanya saling pandang dengan meja besar sebagai penghalang posisi.
__ADS_1
"Hmmm ... kemarilah. Duduk dipangkuanku saja jika kamu memang rindu. Tapi jika kedatanganmu ke sini hanya ingin membicarakan soal hubungan Anna dan Hero, sebaiknya kamu pulang dan rawat Ella dengan baik! Aku tidak menerima keluh kesah soal itu!"
Sontak Vanya membulatkan matanya lebar-lebar. "Kok kamu tega berkata seperti itu? Justru aku ke sini ingin membicarakan soal hubungan mereka, tahu!"
"Aku tidak punya waktu, Van! Deadline-ku di akhir bulan sangat padat, " jawab Marco sambil membuka lembaran pekerjaannya kembali. Membuat Vanya mengerutkan alis, serta melipat tangannya dengan kesal di depan dada.
Sebenarnya Marco bukan tak mau peduli, namun pria itu merasa tak enak karena Anna dan Hero merupakan dua bagian penting yang nyaris sama-sama kuat di matanya. Sehingga di saat-saat ini ia bingung harus membela siapa.
"Kenapa? Bukahkah dia adikmu? Aku kasihan melihat Anna curhat tentang Hero sampai menangis-nangis seperti itu, Sayang! Bahkan anak itu bertambah kurus karena terus memikirkan hubungannya. Apa kamu tidak kasihan terhadap adikmu?"
Ucapan Vanya berhasil membut Marco mendongakan wajahnya sedikit. Lantas menghentikan aktivitas pura-pura kerjanya. Dia sempat mendesah kesal sebelum akhirnya angkat bicara.
"Mereka sudah besar Van, biarkan saja keduanya mengurusi permasalahan mereka sendiri. Lebih baik kita lakukan program anak ketiga saja daripada kamu sibuk mengurusi hubungan mereka. Dan ... sampai kapan kamu mau menempelkan alat KB itu di tubuhmu? Kau pikir aku tidak tahu bahwa koyo di punggungmu itu adalah alat KB?"
"Uhuk ... uhuk!" Wanita terbatuk oleh ludah sendiri. "Da-darimana kamu tahu itu?" tanya Vanya mulai tergugu. Ia begitu takut melihat ekspresi Marco yang mulai berubah sejak pembahasan mereka berpindah soal anak ketiga.
"Aku tahu dari dokter pribadiku. Awalnya aku penasaran kenapa kamu sering memakai koyo padahal tubuhmu baik-baik saja. Dan saat aku bertanya, dokterku memberi tahu bahwa koyo aneh yang kamu pakai bisa jadi merupakan alat penunda kehamilan, sengaja kamu melakukan itu agar aku tidak curiga, kan? Hmm ... Vanya, tidak bisakah kau memberikan anak ketiga untukku? Apa trauma keguguran itu sangat berat untukmu sampai kamu tidak ingin hamil anakku lagi?"
Kata-kata Marco terdengar sedikit menekan hati Vanya. Di mana pikiran wanita itu terbuyar sempurna tanpa arah yang jelas. Bahkan Vanya tidak sadar saat Marco mendekatkan tubuhnya perlahan. Kemudian menempelan ujung jari miliknya pada bawah dagu Vanya.
"Hmmm ... maafkan aku! Aku butuh waktu soal itu."
__ADS_1
"Aku tahu itu berat, tapi cobalah lupakan masa lalu dan mulailah hidup baru. Toh ... mamiku sudah menyesali perbuatannya satu tahun lalu. Dia juga sudah menganggapmu layaknya anak sendiri. Jadi kurang apalagi?"
"Iya, aku akan coba percaya sekali lagi," lirih Vanya gugup. Wanita itu berdiri mengalungkan dua tangannya di pinggang Marco. "Tapi jangan marah padaku soal kb itu."
Ternyata Marco malah menyambut pelukan Vanya dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak marah sama sekali. Lepaskan alat KB itu jika kamu sudah memaafkan perbuatan mami dan kesalahanku, Van. Percayalah ... tidak ada perlakukan buruk yang akan terjadi di kemudian hari."
"Iya," ucap Vanya pelan, lagi-lagi ia dibuat menelan ludah karena tangan Marco tiba-tiba menyusup pada bagian punggunnggnya, lantas menarik paksa alat penunda kehamilan yang selama ini menempel erat di punggung wanita itu.
Apakah ini sudah waktunya? Apakah yakin hatiku sudah memaafkan ibu mertuaku?
Tubuh wanita itu sedikit bergetar mengingat kejadian kelam satu tahun lalu. Saat ia datang ke keluarga Fernando dan mendapat perlakuan buruk dari sang mami mertua hingga pada akhirnya ia harus kehilangan bayi di dalam perutnya.
"Kenapa lagi? Masih belum bisa percaya padaku?"
Vanya menggeleng. "Tidak ... tapi aku hanya ingin meminta sesuatu. Jika nanti aku hamil lagi, aku ingin tinggal di rumah nenek selama mengandung."
Marco tersenyum. "Baiklah. Lagi pula aku sudah pernah bilang bahwa kamu adalah orang yang sangat aku cintai, Van. Apa pun yang kamu mau akan aku turuti. Jika kamu minta satu, maka aku akan memberikan sepuluh. Jika kamu meminta lebih banyak dari angka sepuluh, maka aku bisa memberimu sebanyak dua ratus, jadi—sekarang kamu bersedia mempercayaiku sekali lagi? Memberiku anak ketiga sebagai bentuk kepercayaan?"
Vanya mengangguk sambil menangis haru di pelukan Marco. "Akan aku lakukan. Akan aku lakukan demi masa depan keluarga kita."
***
__ADS_1
Siapa yang baru tau kalau alat kb juga ada yang bentuk dan pemakaiannya kek koyo? uhuuuy.... Met ketemu Vanya ya... abis ini adegan 21+.
Bocil dilarang baca. wkkwkw