Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Dua Puluh


__ADS_3

Satu bulan berlalu sangat cepat. Sepanjang waktu itu Marco benar-benar menjalankan perannya sebagai pengangguran tanpa melakukan apa-apa sepanjang waktu.


Setiap hari Senin sampai dengan Jum'at, Vanya dan nenek bekerja di perkebunan apel yang niatnya hendak dibeli Marco tapi belum resmi karena masih ada beberapa berkas yang harus diurus. Sementara Marco lebih banyak di rumah menghabiskan waktunya dengan Ella. Atau ngemil sambil menikmati camilan yang disediakan oleh Vanya.


Oh ya, apakah ada yang penasaran mengenai hubungan ayah dan anak itu? Ck.


Pelan-pelan Ella mulai bisa menerima kehadiran Marco. Namun, hampir setiap hari mereka bertengkar meributkan sesuatu. Bahkan hal sepele sekali pun.


Ella merasa ibunya mulai tak sayang padanya sejak kehadiran Marco. Hati polosnya masih belum bisa berbagi ibunya dengan sang papa terutama ketika harus melihat papa dan mamanya tidur di kamar yang sama setiap hari.


'Kenapa papa boleh tidur sama mama? Kenapa Ella tidak boleh? Mama udah gak sayang Ella?'


Begitulah gadis kecil bernetra jingga itu protes setiap harinya. Menilai Vanya lebih sayang pada Marco dibandingkan anak kandungnya, Ella.


Ya, seperti itulah kalau dua mahluk berwatak sama digabungkan jadi satu. Karakter Ella dan Marco seimbang. Sama-sama posesif, cemburuan, dan tentunya sangat manja.


Butuh tenaga ekstra untuk meyakinkan Ella tentang masalah tidur itu. Beruntung anak itu mau mengerti setelah dijelaskan oleh nenek Laura secara pelan dan penuh kehati-hatian.


Suasana rumah pun terasa jauh lebih hangat meski dibumbui sedikit keberisikan saat Marco dan Ella saling bercengkrama.


Untuk masalah papa jelek, anak itu masih menganggap bahwa Jimin yang ada di televisi adalah pria tertampan. Mendevinisikan bahwa Ella adalah K-Popers sejati dari sejak dini.


Pagi menjelang waktunya sarapan, Vanya keluar dari kamar mandi dengan handuk membalut kepala basahnya. Perempuan yang sedang gencar-gencarnya menjalankan peran sebagai ibu itu langsung cekatan menuju mesin pemanggang roti. Menyiapkan sarapan sederhana untuk satu keluarga.

__ADS_1


Marco yang hanya cuci muka saja ikut bergabung duduk. Pengangguran itu sangat menikmati indahnya hidup santai tanpa beban pikiran. Hari-harinya begitu berwarna karena Naraciaga mendapat jatah rutin setiap malam.


"Pagi semua!" Marco menyapa dengan senyum secerah matahari pagi saat menarik kursi di meja makan. Nenek Laura tersenyum sambil menikmati roti bakar miliknya. Ella terlihat masa bodo karena sedang menunggu Vanya mengisi piring kosongnya.


Dua roti bakar rasa cokelat ia letakkan di piring Ella dan Marco. Lantas ia menaruh roti tanpa isi apa pun di piringnya sendiri.


"Hari ini Ella berangkat sekolah sama papa lagi ya, kepala mama agak pusing!"


Sontak gadis kecil itu cemberut. Tapi mulutnya tetap menjawab sesuai perintah ibunya. "Iya Ma!" Matanya melirik Marco dengan muka lecek layaknya koran bekas.


"Kamu sakit apa, Van?" tanya Marco menghentikan kegiatan makannya. Nenek Laura memilih diam. Menjadi pendengar setia di antara keluarga baru itu.


"Hanya pusing biasa. Sudah minum paracetamol." Vanya membuka pengikat kepala, menaruh handuk itu di pundak dan membiarkan rambut basahnya tergerai.


"Mama kebanyakan keramas ya, makannya jadi pusing? Dulu mama jarang keramas, sekarang jadi sering semenjak ada papa, Nek."


"Kenapa mama keramas mulu, sih? Jadi sakit, 'kan?"


Akhirnya nenek menjawab dengan bahasa yang sudah dirangkum sesederhana mungkin untuk dimengerti anak kecil. "Iya, keramas itu kesehatan! Ella juga setiap pagi mandi dan keramas 'kan?"


"Ella keramas setiap hari, tapi mama biasanya tidak seperti itu!"


Nah 'kan! Jangan lupa sertakan logika masuk akal setiap kali hendak menjelaskan pada si buah hati. Karena diam-diam mereka selalu memperhatikan gerak-gerik kita setiap harinya.

__ADS_1


Nenek merevisi ucapannya kembali, "Dulu tidak ada papa Ella, sekarang ada papa, jadi mama harus rajin mandi dan keramas agar terlihat cantik di depan papa."


Simpel, tapi masuk akal.


"Oh gitu, ya?" Ella menelan potongan roti terakhir di mulutnya. "Tapi papa Markonah bilang Ella yang paling cantik sedunia. Itu artinya mama gak cantik! Tidak usah sering-sering keramas Mah, soalnya cuma Ella yang paling cantik di rumah ini. Iya 'kan Nek?"


Sontak semuanya tergelak.


Anak kecil berwajah imut itu memang memilikir kepercayaan diri yang sangat tinggi. Persis dengan terdakwa berkepala hitam yang sedang tertunduk malu. Pura-pura hikmat memotong sepotong roti di piringnya.


***


Pagi semuanya. Orangnya udah klarivikasi, jadi bab sebelumnya udah aku ganti dengan visual Ella. Buruan cek bab sebelumnya untuk yang belum lihat.



Untuk kakak yang bersangkutan di atas, Ana ucapkan terima kasih dan maaf sebanyak-banyak atas ketidaknyamannya. Untuk yang lain Ana juga minta maaf. Semoga mood sudah kembali baik dan bisa menulis lebih banyak lagi.


Novel Hello My Boss adalah novel karya aku sendiri btw. Memang Terpana Asmara Tuan Perkasa adalah spin offnya. Jadi wajar kalo nama tokohnya sama persis.


Tapi memang banyak yang bilang itu karya Myafa atau Nasya Mahila. Bahkan si author yang tidak menulis suka diteror surup update cerita. Wkkwwk. Padahal itu bukan novel mereka.


Terima kasih untuk klarifikasinya. Dan semoga kedepannya semua teman-teman lebih bijak lagi, sertakan nama author dan judul novelnya jika ada kesamaan.

__ADS_1




__ADS_2