Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Lima Puluh Lima


__ADS_3

Vanya masih belum bisa meng-klaim bahwa neraka dunianya sudah berakhir dengan semudah ini. Teka-teki di depan matanya belum sepenuhnya usai meski Marco sudah menjabarkan semua perasaannya. Masih ada banyak sekali pertanyaan berkelebatan di kepala yang ingin sekali ia tanyakan langsung pada pria itu. Namun, Vanya belum berani mengajak ngobrol lebih lantaran keadaan Marco masih dilingkupi perasaan miris sekaligus sedih.


Di atas ranjang yang menghadap lukisan buatan Marco bergambarkan wajah muda Vanya, kini keduanya tengah berpelukan dalam pelarutan rasa dan pikirannya masing-masing. Vanya terus berusaha menenangkan Marco, sementar pria itu masih menangis penuh penyesalan di dalam pelukannya.


"Apakah aku sangat menyedihkan?" lirih pria itu.


Vanya tak bisa menjawab. Bibirnya terasa kelu sesaat sekan-akan koneksi otak dan mulutnya terputus begitu saja.


"Aku mencintai wanita sudah sampai segila ini. Dan bodohnya orang yang aku cintai tidak pernah mencintaiku sama sekali."


Lagi-lagi Vanya masih belum bisa menjawab. Ia juga tidak tahu perasaannya terhadap Marco sudah seperti apa sekarang. Yang ia tahu pasti, perasaannya terhadap Adit masih ada meski pria gila itu sudah lama menghilang dari kehidupannya. Vanya tetap belum sepenuhnya melupakan Adit. Mengingat kenangan mereka cukup banyak dan tak mudah dilupakan begitu saja.


Tiga puluh menit berlalu, mereka habiskan dengan saling berpeluk untuk membangun kekuatan diri. Vanya masih belum sempat menanyakan apa pun pada Marco. Ia takut menyakiti dan salah bicara terhadap pria itu. Yang Vanya hadapi sekarang adalah Marco yang dulu. Marco yang lemah dan memiliki hati rapuh selembut salju. Maka ia harus lebih hati-hati lagi agar tak sembarangan melukai perasaannya.


Merasa canggung, Vanya pun berusaha bangkit dari ranjang itu. Akan tetapi Marco mencegah dan merengkuh tubuhnya semakin dalam. "Biarkan seperti ini sebentar lagi," lirihnya penuh permohonan. Seolah tahu apa yang Vanya pikirkan, Marco berkata lagi,


"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Tanyakan saja jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu dan ingin kamu tanyakan," ujar pria itu.

__ADS_1


Vanya menatap wajah sendu Marco sedikit ragu. Ia dapat melihat kehancuran sedang mengambang di antara wajah kuyu itu hingga aura tampannya sedikit hilang.


"Aku tidak ingin bertanya apa-apa, lebih baik kamu istirahat saja," ujar wanita itu sambil mengusap sisa air mata yang mulai mengering di wajah muram Marco. "Aku temani sampai kamu tidur. Belanjanya kapan-kapan saja."


"Tap—"


Vanya segera membungkam bibir Marco dengan ciumannya. Di mana wanita itu lebih mendominasi dalam memainkan ritme adegan. Marco sampai terkesiap dengan perlakuan Vanya yang cukup lihai dalam memainkan lidah di rongga mulutnya. Tidak biasanya wanita itu bersikap agresif tanpa dipancing terlebih dahulu.


Sesaat ciuman itu terlepas. Gemali sayup terdengar napas Vanya yang mulai memberat. Wanita itu menatap Marco kembali seraya membelai bingkai wajahnya. "Anggap saja ini adalah hadiah paling tulus yang bisa aku berikan untukmu. Sekarang kamu tidur, istirahatkan dirimu. Aku tahu kamu lelah."


"Aku tidak ingin tidur. Aku masih ingin bicara panjang lebar denganmu agar semua permasalahan kita lebih jelas," tegas Marco menolak keinginan Vanya.


Wanita itu terpaksa mengangguk setuju walau ia tahu keadaan Marco sedang tidak baik-baik saja. Ia lekas duduk di sandaran tempat tidur diikuti oleh Marco yang juga sudah mendudukkan dirinya. "Kalau begitu kamu dulu yang bicara. Sepertinya kamu juga ada yang ingin ditanyakan padaku."


Tangan Vanya memberi isyarat untuk mempersilakan Marco bicara.


"Kamu dulu saja," kata Marco balik mempersilakan Vanya.

__ADS_1


Wanita itu menghela pelan. Kemudian menatap Marco sambil menggenggam jari-jemarinya. "Meskipun senang sudah sedikit terbebas dari jerat balas dendammu, jujur saja aku masih bingung. Kenapa pada akhirnya kamu memilih berhenti? Dan malah mengakhiri balas dendammu di tengah jalan. Apakah ada faktor tertentu yang mengganjal dipikirannmu?"


Marco sedikit tertegun mendengar pertanyaan Vanya. Sorot matanya meredup dipenuhi rasa sesal yang berkecamuk. Lalu ia menjawab, "Karena semakin aku berusaha membencimu, aku merasa separuh diriku menghilang. Menjadi Marco yang arogan dan jahat bukan diriku yang sebenarnya. Tanpa aku sadari hal itu menjadi pukulan telak yang semakin menghancurkan diriku sendiri, Van. Bukan hanya menyesal, kadang aku merasa tidak pantas lagi hidup sebagai manusia normal."


Kini Vanya tersenyum bahagia mendengarnya. Satu usapan lembut Vanya melayang di bahu kokohnya.


"Aku tahu Marco David Fernando adalah pria baik. Dari dulu dia selalu baik. Anggap saja apa yang kamu lakukan adalah kegelapan sesaat. Bersyukurlah karena sekarang kamu telah kembali menjadi dirimu yang sebenarnya."


"Apa kamu tidak membenciku? Kata-katamu barusan sama sekali tidak pantas diucapkan kepada orang yang telah menghancurkan hidupmu."


Marco menunduk dengan posisi kaki yang berselonjor memangku bantal guling. Ia sudah siap menerima jawaban terburuk yang akan segera Vanya lontarkan.


***


Masih dalam proses saling mengungkapkan rasa.


Btw aku angen banget sama kalian. Maaf ya, baru bisa up segini. Nanti nambah lagi.

__ADS_1


__ADS_2