
"Seseorang pernah berkata, tingkatan tertinggi dalam mencintai adalah melepas dan membiarkan ia memilih jalan kebahagiaannya sendiri." Hero menyodorkan segelas kapucino hangat untuk Marco. Potongan kalimat yang baru saja Hero ucapkan membangunkan pria itu dari lamunan.
"Kau menyuruhku melepaskan, Vanya?" ujar pria itu seraya mendongak. Menatap Hero yang baru saja menarik sebuah kursi di hadapannya.
"Saya tidak menyarankan Anda melakukan itu. Saya hanya memberi wejangan sederhana agar hati Anda sedikit lega. Karena sejujurnya kita tidak bisa memaksa kehendak seseorang agar selalu bahagia bersama kita. Mereka memiliki jalan pikirannya masing-masing untuk kelangsungan hidupnya."
Sedikit tertegun, Marco menarik cangkir putih di depannya. Menghirup lalu menyesap kapucino yang masih mengepul menerpa wajah itu dengan sangat perlahan.
Hero kembali bicara,
"Bersikap egois sesekali memang perlu dalam suatu hubungan. Semua memilikinya, semua merasakannya, dan pasti semua melakukannya! Itu adalah hal yang biasa dan lumrah terjadi di antara sesama pasangan." Tatapan Hero menunduk pada gagang cangkir kopi yang dipegang erat-erat oleh Marco. "Tapi jika dilakukan melebihi porsinya, egois akan menyakiti orang yang kita cintai, dan parahnya dapat melukai diri kita sendiri."
"Jadi aku harus melepaskan Vanya?" tanyanya lagi. Ternyata kalimat yang Hero katakan berhasil menusuk mental Marco semudah itu.
"Bukan melepaskan!" Kali ini Hero mendongak demi melihat ekspresi wajah bossnya. "Tapi mengerti apa yang dia mau. Memahami apa yang dia inginkan untuk kemudian memberi jalan terbaik sebagai pilihannya."
"Hmmmm." Pria itu berdehem lesu. Tampak hatinya sedang menahan luka akibat perbuatannya sendiri. "Aku tahu apa maksudmu, Her. Cinta yang tercipta di ruang hatiku memang cinta kotor, jauh dari kata layak, dan lebih baik diakhiri daripada dipertahankan."
Seulas senyum terbit perlahan dari bibir Hero. Pria itu tahu persis bagaimana hancurnya hati Marco. Pria yang yang lemah menyangkut cinta. Dan bisa melakukan hal bodoh apa saja demi orang yang dicintainnya.
Ketidakmampuan Marco dalam mendapatkan Vanya membuat pria itu nekat dan membangun gunungan dendam di atas laut luka. Ia tidak hanya menjerumuskan diri, tapi juga mengajak orang-orang terdekatnya ikut terjerumus masalah yang dibuatnya.
__ADS_1
"Saya mengerti apa yang Anda rasakan saat ini. Kembalilah ke pulau seberang, biarkan saya yang menghandle urusan kantor untuk sementara waktu."
Merasa tidak tega, akhirnya pria itu mengorbankan dirinya lagi untuk setumpuk data yang harus diselidiki. "Urusan tuan Fernando biarkan saya yang mengurusnya juga. Sebagai sekretaris, saya juga ikut bertanggung jawab atas apa yang Anda perbuat," ucap Hero yang kemudian menarik salah satu berkas untuk diperiksa.
"Soal Mami bagaimana?"
Hero tidak berani menjawab. Matanya pura-pura sibuk memeriksa data di tangannya.
"Mami bagaimana, Her?" tanya pria itu khawatir. Firasat buruk datang menyeruak dan seketika menghimpit dada. "Anna tidak mungkin tidak menghubungimu soal keadaan rumah, 'kan!" tukasnya lagi.
"Katakan padaku, Her! Jangan membuatku semakin kalut!" desaknya.
"Nyonya Maria sudah tahu tentang gosip Anda yang beredar di luar sana. Tapi beliau sedikit tenang berkat nasihat dari tuan Fernando yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja," jawab Hero dengan suara lemah pada akhirnya.
"Ya, Tuhan! Bahkan papi sampai ingin turun tangan segala. Aku memang tidak becus memimpin perusahaan, Her! Semuanya jadi kacau sejak aku memimpin perusahaan papi!" Marco meraup wajahnya, kasar. Matanya memerah saat membayangkan ribuan karyawan yang selalu bergantung pada perusahaannya.
"Anda bukan tidak becus. Tapi Anda kurang berpengalaman. Maka dari itu, Anda harus segera mengesampingkan urusan pribadi demi semua orang yang bergantung pada kelangsungan I-Mush grup. Selesaikan masalah Anda, baik dengan nona Nadia ataupun nona Vanya. Setelah itu kembalilah fokus pada perusahaan yang butuh diselamatkan!"
Marco mengangguk. Kali ini ia benar-benar sadar di mana letak kesalahannya. Keegoisan yang menguar dari dalam jiwanya telah menghancurkan apa pun.
Ibarat gelas kaca, dia akan pecah bilamana digenggam terlalu kuat. Begitulah sifat Marco. Ambisius, berbakat, tapi sangat bodoh jika sudah menyangkut soal cinta.
__ADS_1
Dengan keegoisan setinggi itu, Marco merasa ia tidak pantas menjadi pemimpin di perusahaan sebesar I-Mush grup. Pria itu kembali menunduk dengan wajah meratap sedih.
"Jangan berkecil hati, Tuan! Sejauh ini Anda sudah hebat menurut saya. Anda berhasil mengembangkan pulau seberang sebagai destinasi wisata yang mewah dan membantu puluhan rakyat di sana. Jujur saya kagum dengan bakat Anda di bidang itu."
"Kau hanya menghiburku!" sungutnya. Lalu papi bagaimana? Dia masih membicarakan kebodohanku tidak?"
Hero menggeleng. "Tuan Fernando sudah tidak marah lagi. Menurut saya, sebagai pemegang terlama di perusahaan ini, beliau sudah menemukan titik terang untuk melawan penyerang."
"Kok bisa begitu?"
"Ini hanya dugaan saya, Tuan!"
"Biasanya dugaanmu selalu tepat!" Marco menenggak kapucino terakhir di cangkirnya. "Kalau begitu panggil pilot pribadi kita, aku mau berangkat ke pulau seberang menggunakan helikopter saja!"
"Helikopter kita sudah bertengger cantik di atas rooftoop, Tuan. Pilot sudah memegang kemudinya di atas helipad."
Seketika merinding, Marco benar-benar dibuat tercengang dengan kehebatan Hero yang selalu bisa membaca isi pikirannya.
Padahal Hero sendiri bisa tahu hal itu karena melihat Marco yang setiap saat gelisah. Sudah pasti pria itu terus-terusan memikirkan keadaan Vanya. Dan Hero merasa tidak nyaman bekerja dengan pria yang dijuluki bucin akut oleh pacarnya—Anna.
***
__ADS_1
Maaf kalo ada typo. Entar Ana edit lagi.
Satu bab lagi, yang uwu-uwu, tapi jangan ditungguin, masih proses review.