Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Tujuh Belas


__ADS_3

Dua piring nasi goreng buatan Vanya tersaji di depan mata. Marco menikmati makanan enak khas negeri +62 itu dengan hati bahagia.


Bagi Marco itu adalah makanan terenak, melebihi steak harga dua belas juta yang biasa ia nikmati di restoran mewah bersama keluarga atau kolega bisnisnya.


Setelah selesai menghidangkan dua piring nasi goreng dan memakan sepotong roti, Vanya berpamitan ke belakang, mengerjakan beberapa tugas rumah yang belum kelar.


Vanya memang sengaja menghindari interaksi berlebihan dengan Marco karena masih sedikit canggung. Apalagi ia baru saja menyerahkan diri setelah memaki pria itu habis-habisan.


Sambil memasukan baju-baju kotor tetangga ke mesin cuci usang di belakang rumah, Vanya termenung memikirkan perkataan sang nenek saat ia menjelaskan sudah berbaikan dengan Marco.


'Bagus kalau sudah memaafkan, lebih cepat lebih baik," kata nenek santai.


Vanya menyela, 'Sebenarnya ini terlalu cepat, Nek. Marco sudah banyak melakukan kesalahan. Jika para wanita di dunia ini tahu aku memaafkannya secepat ini, mungkin mereka akan menghujatku wanita terbodoh sedunia!'


'Biarkan saja! Jika mereka sampai berani melakukan itu padamu, sama halnya mereka sedang menghina diri sendiri. Pada dasarnya hati kita sudah di desain lembut untuk menjadi pribadi yang penyayang dan penyabar. Mereka menghinamu, tapi nenek yakin mereka juga melakukan hal yang sama pada suami dan orang-orang terkasihnya. Wanita itu tidak bisa marah lama-lama, apalagi pada suaminya. Seperti apa pun kesalahan suami, jika ia sudah menyesal dan meminta maaf, pasti kita akan memaafkan.'

__ADS_1


'Iya sih Nek, waktu mas Adit meminta maaf dan mengakui penyesalannya, hatiku juga langsung tergerak memaafkan, tapi enggan kembali bersamanya.'


'Ya begitulah memang wanita! Ini bukan tentang bodoh atau tidak tahu logika, tapi tentang hati nurani yang tertanam di bagian hati terdalam. Meskipun kamu belum memaafkan Marco dengan lisan, tapi nenek tahu bahwa sudut hatimu sudah memaafkannya dari jauh-jauh hari. Hanya saja manusia butuh pengakuan, itu sebabnya nenek menyuruhmu cepat-cepat memaafkan pria itu. Suatu perasaan yang kuat tidak enak jika ditahan-tahan! Nenek tahu kamu menunggunya, nenek tahu kamu juga merindukannya,' telak wanita paruh baya itu.


'Dari mana Nenek tahu perasaanku yang satu itu? Aku sendiri saja tidak paham,' ujar Vanya.


'Dari caramu membenani diri setiap hari, kamu merasa sudah dimiliki, rela menolak laki-laki lain masuk ke kehidupanmu karena ada hati yang sedang kamu jaga. Tanpa sadar selama ini kamu melakukan semua itu untuk Marco.'


Dan saat itulah Vanya mulai merenung. Apa yang nenek katakan benar semua. Jika rasa egois dan benci tidak menyelimuti perasaan manusia, mungkin tidak ada perdebatan dan pertengkaran yang terjadi hari ini. Meskipun begitu Vanya merasa senang karena ia dan Marco mampu melewati masalah ini.


'Menikah bukanlah tentang mencari kebahagian. Jika kamu berpikir rasanya akan seperti itu, lebih baik tidak usah menikah seumur hidup saja. Pernikahan bisa kita ibaratkan sebagai tali pengikat, agar kita bisa saling bahu membahu melewati tantangan dan ujian Tuhan bersama pasangan kita tercinta.'


Wejangan terakhir nenek terdengar sangat indah. Vanya akan menerapkan hal itu dalam hidupnya untuk menghadapi masalah yang mungkin jauh lebih besar. Bersama Marco, ia yakin masalah akan terlewati dengan sempurna.


"Van!" Suara bariton Marco membuat wanita itu tersentak dari lamunan. "Kamu sedang apa? Kenapa berisik sekali?"

__ADS_1


Pria itu menyandarkan tubuhnya di dekat tembok. Pandangannya tertuju pada mesin cuci usang. Juga tumpukan baju-baju yang memenuhi banyak ember dan bak-bak besar.


"Sudah habis makannya?" tanya Vanya seraya mematikan mesin cuci yang sedang dalam mode pengeringan.


Marco mengangguk. Matanya masih tertuju pada tumpukan baju yang baru saja selesai dicuci. "Cucianmu banyak sekali, bukannya kalian berdua hanya tinggal bertiga?"


"Ini baju tetangga, selain bekerja diperkebunan aku juga menjadi buruh mencuci baju tetangga."


"Tetangga?"


Mendengar itu alis Marco berkerut. Detik kemudian kesedih mulai muncul menghiasi sebagian wajahnya. Ia tidak suka dan tidak rela Vanya melakukan pekerjaan seperti itu.


"Maafkan aku, Van! Kamu sampai melakukan pekerjaan apa saja demi anakku Ella. Tapi kupastikan ini yang terakhir kali, mulai besok kamu tidak usah bekerja lagi saja."


***

__ADS_1


Up 3 Bab sekaligus.


Jangan lupa Like dan komen dulu. Kalau belum muncul tungguin aja.


__ADS_2