
"Ah, maaf. Aku tidak tahu bahwa hal itu dapat membahayakan bayi kita. Kupikir timbal balik dalam suatu hubungan sangat perlu. Makannya aku melakukan itu untukmu juga."
Vanya terdiam tanpa kata. Matanya melirik pada Adit yang sedang berdiri canggung di belakang tubuh Marco. Ide jahat di kepalanya seketika muncul bertebaran.
Sepertinya seru juga membuat Adit cemburu. Biarlah ia semakin sadar bahwa gajah di pelupuk mata lebih baik daripada pasir di seberang lautan yang selama ini sibuk dicari-carinya.
Marco mengecup puncak kepala Vanya lembut seakan tahu isi pikiran di kepala wanita itu. "Baiklah, lain kali aku tidak akan berlebihan melakukannya." Lantas mengedipkan mata segenit-genitnya.
"Kamu berbohong aku pun percaya!" jawab Vanya sontak. Membuat Macro mengu lum senyum dengan wajah merona. Lagi-lagi ekor matanya melirik Adit demi merekam proses perubahan wajah pria itu. Ia tertawa jahat dalam hatinya.
Keadaan semakin terasa tidak nyaman di pihak Adit. Ia yang hatinya sudah terbakar-bakar sedari tadi segera membuka suara. Merasa tak dibutuhkan lagi kehadirannya.
"Berhubung keadaanya sudah stabil, kalau begitu saya pamit kembali ke kantor dulu, Tuan." Kepalanya menoleh pada Vanya bersamaan dengan anggukkan kepala Marco. "Jangan lupa jaga kesehatan Van. Ikuti perintah dokter," ucapnya menggunakan nada putus asa setengah tak rela.
"Terima kasih sudah meluangkan waktumu, Mas. Terima kasih juga sudah menghubungi Marco," jawab Vanya pelan. Adit melepas senyum. Marco hanya diam memperhatikan wajah puas Vanya yang tidak dapat disembunyikan sedari tadi. Mata jeli wanita itu terpaku menatap ke arah pintu hingga bayangan tubuh Adit menghilang di baliknya.
"Bagaimana? Apa kamu puas dengan bakat aktingku? Sepertinya kamu senang sekali melihat mantan suamimu meradang, ya."
Lagi-lagi Vanya tersenyum. Tangannya membelai wajah Marco penuh kebahagiaan. "Terima kasih. Aku suka melihat ekspresi kesal mas Adit. Entah aku harus menganggap ini hari duka atau keberuntungan."
"Boleh keduanya," balas Marco seraya menahan tangan Vanya agar terus berada di pipinya. Wanita itu mengikuti naluri, membawa jiwanya semakin dalam meresapi, hingga tanpa sadar ia mulai membelai bulu-bulu halus yang menghiasi rahang tegas Marco menggunakan ibu jarinya.
Satu kecupan pun sudah mendarat sempurna di atas pipi pria itu. "Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan bayi di dalam kandunganku," lirihnya.
"Dia juga anakku," jawab Marco lekas berpindah mengelus perut buncit berisi darah dagingnya. "Aku akan lebih hati-hati lagi. Tadi dokter bilang apa saja?"
Mereka terlihat seperti pasangan sungguhan jika dilihat-lihat.
"Dokter bilang perbanyak istirahat. Jangan terlalu berlebihan melakukan hubungan badan jika tidak ingin terjadi kontraksi mendadak lagi seperti tadi."
Dahi Marco mengkerut sedikit dalam. "Benarkah aku terlalu berlebihan? Bukankah kita jarang sekali melakukan hubungan seperti itu? Bahkan sudah lama tidak?"
Pipi Vanya merona saat potongan adegan tadi malam melintas di kelapanya secara tiba-tiba. Buru-buru ia memasang wajah ketus sebelum Marco berhasil membaca isi pikirannya. "Kamu seorang cassanova! Satu kali pun dapat membuat orang mati!"
"Mana ada begitu. Semua hal-hal seperti itu hanya pernah kulakukan denganmu. Kesucianku, tubuhku, semua masih mutlak menjadi milikmu. Aku masih awam soal begitu," ucap Marco sungguh-sungguh.
Membuat Vanya membuang muka kesal. "Cih! Awam kepalamu!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kamu terlalu menyebalkan!" Masih dengan posisi memalingkan wajah, kepalan tangan Vanya mendorong dada Marco yang terus maju agar menjauh darinya.
Bangku di sampingnya tak kasat mata hingga Marco lebih memilih duduk di tepi ranjang Vanya yang hanya dapat menampung setengah pahanya.
Marco melipat bibirnya ke dalam. Perasaan seperti ini sangat nyaman. Ia seperti kembali pada masa ABG di mana keduanya masih sama-sama pemalu. Andai waktu itu dapat di putar kembali. Atau kalau tidak, sering-seringlah terjadi hal-hal menggemaskan seperti ini.
Sementara Vanya masih berpaling ke segala arah. Asal tidak melihat wajah Marco yang terus menatap intens sedari tadi. Di titik ini ia merasa takut, takut tekadnya akan terpatahkan oleh perasaan yang kian tumbuh semakin dalam di dasar hati sana.
Marco yang dulunya selalu datar-datar saja sudah jauh berbeda, Vanya takut hatinya akan terbuka jika terus-menerus diserang oleh hawa hangat dan nyaman seperti ini. Ia belum siap. Demi apa pun Vanya belum rela membuka hatinya untuk siapa pun.
Dan tanpa sadar, Vanya menoleh dengan ucapan yang reflek keluar dari bibirnya seolah mendesak untuk diungkap sedari tadi. "Mengenai tawaranmu untuk menjalani kehidupan rumah tangga selayaknya pasangan suami istri normal lainnya, sepertinya aku sudah setuju, asal kamu mau menepati janjimu untuk membiarkanku hidup dengan anakku saja, aku tidak masalah."
"Benarkah?" tanya pria itu penuh binar. Kesempatan untuk mendapatkan hati Vanya kembali terbuka. Setidaknya ia masih memiliki waktu satu tahun, ia dapat membangun kedekatan dengan anak kandungnya setelah lahir nanti agar dapat menjerat Vanya selama-lamanya. Itulah rencana Marco untuk ke depan.
"Iya benar. Aku setuju," jawab Vanya mengkonfirmasi lagi. "Aku akan bersikap selayaknya istri sungguhan untuk satu tahun ke depan."
"Terima kasih ... terima kasih." Kata-kata itu terucap berkali-kali. Vanya memeluk Marco sebagai balasan gemasnya.
*
*
*
"Aku ingin bicara denganmu sebentar, Mon. Kau ada waktu, 'kan?"
Monika tampak ragu. Setengah hatinya ingin' menolak.
"Sebentar saja Mon, sepertinya urusan kita masih ada yang belum terselesaikan. Kumohon ...."
Akhirnya ia berniat menginyakan karena tak tega melihat wajah Adit yang berubah sedih setelah keluar dari ruangan Vanya. Mungkin ia butuh teman untuk sekedar berbagi, pikirnya.
"Mau kan, Mon? Kenapa kau diam?"
Monika terlonjak dari lamunan. "Baik Tuan. Saya akan mengabari atasan saya dulu kalau hari ini saya izin kerja setengah hari."
Dia menunduk gugup, mencari-cari keberadaan ponsel di dalam tasnya, diikuti senyum getir yang baru saja lepas dari bibir Adit saat melihat dari balik kaca pintu yang menampilan Vanya dan Marco tengah bermesraan.
"Kau bukan karyawanku lagi, tidak usah memanggilku Tuan. Ayo ... teleponnya di mobilku saja."
__ADS_1
"Saya lebih nyaman seperti ini. Sudah terbiasa memanggil Anda dengan sebutan tuan."
Monika menundukkan kepala. Sudut matanya berusaha melihat wajah Adit untuk memastikan pria itu masih menatapnya atau tidak. Mereka pun pergi ke sebuah tempat yang Monika tidak tahu di mana.
Selang beberapa menit, Mobil Adit berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit tadi. Mereka masuk beriringan, dan berakhir duduk berhadapan di samping jendela kaca yang menampilkan pemandangan jalanan luar dengan cuaca panas yang udaranya tampak melahap-lahap aspal.
Adit menyodorkan buku menu ke arah Monika. "Pesanlah apa pun yang kau mau."
"Saya tidak lapar," jawab Monika datar.
"Kalau begitu minum. Kau mau minum apa?" tanya Adit santai. sedari tadi hanya Monika seorang yang selalu memasang wajah gugup sekaligus takut.
"Kalau bisa langsung bicara saja Tuan," ucap Monika menyodorkan buku menunya ke tengah meja dan langsung menunduk untuk menghindari tatapan mata Adit yang aneh.
"Baiklah." Adit mendesahkan napasnya pelan. Matanya meneliti wajah Monika yang sedikit berubah-rubah. Antara canggung dan malu dengan situasi ini.
"Santai saja Mon, aku sudah melupakan semua kesalahanmu, kalau begitu aku langsung bicara. Ngomong-ngomong sejak kapan kau mulai menjadi mata-mata Tuan Marco di tempat kerjaku?"
Monika yang sedari tadi tertunduk mendongak. "Sejak pertama kali melamar dan memegang divisi keuangan," ujarnya.
Adit mengangguk paham. Cukup lama juga, pikirnya.
"Seberapa banyak yang kau tahu tentang hidupku?"
"Hampir semua. Dulu saya dekat sekali dengan Helena (Sekretaris lama/selingkuhan Adit). Dia sering menceritakan rumah tangga Tuan dan nona Vanya yang tidak harmonis. Helena juga bercerita kalau tuan Adit sering sekali membelanjakannya barang-barang mewah dan lebih mencintai Helena daripada nona Vanya. Semua yang saya ketahu tentang nona Vanya dan Anda selalu saya kumpulkan sebagai bahan laporan untuk diberikan kepada tuan Marco," ujar Monika menjelaskan.
"Jadi kamu sudah tahu dari awal tentang perselingkuhanku?"
Monika mengangguk. Tak ada lagi yang perlu ditutupi. Belangnya sudah terlalu banyak. Ia akan menjadi lega setelah mengungkapkan semuanya. "Bahkan foto mesra Anda bersama Helena saya dapat dari Helana-nya langsung. Dulu tuan Marco menyuruh saya menyimpan foto itu untuk keperluan yang akan datang."
Adit tersenyum masam. Perutnya mendadak mual saat mendengar nama Helena disebut-sebut. Wanita itu bukan hanya membuat Adit jadi bangkrut, tapi biang utama dari rusaknya rumah tangga antara dirinya dengan Vanya.
Adit masih ingat betul bagaimana Helena datang merayu di saat hatinya tengah kosong. Ia terbuai dan mulai menyongsong kenikmatan fana hingga terjerambab dalam lubang dosa dari tragedi perselingkuhannya.
****
Hallo. Ada yg kangen gak?
Like dan komen yang banyak dulu. Nanti Ana kasih 1 bab lagi.
__ADS_1