Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Sembilan Puluh Lima


__ADS_3

Adit, Marco, Vanya ....


Tiga manusia berlumuran dosa dan penyesalan itu melangkah dengan jalan tujuannya masing-masing setelah mengambil hikmah dari apa yang mereka perbuat di masa lalu. Ketiganya meneruskan hidup yang setiap detiknya terasa menyesakkan rongga dada hingga penyesalan itu tak kunjung hilang setelah ditelan waktu bertahun-tahun lamanya.


Apa yang pernah mereka perbuat menjadi tragedi yang penuh pelajaran buruk untuk jangan diulangi dikemudian hari. Baik oleh mereka atau siapa pun yang ada di dunia ini.


Kini ketiganya sedang menebus dan mempertanggungjawabkan dosa mereka masing-masing.


Adit, pria pekerja keras itu memilih hidup sendiri karena masih menyesali perbuatan yang sekarang dinilainya paling tidak manusiawi. Padahal saat melakukan perselingkuhan sampai menjual istri Adit tidak memikirkan resikonya sama sekali.


Ternyata, perusahaan yang sudah stabil dan berkembang cukup baik tak membuat hidupnya senang. Ia justru kesepian karena Vanya yang paling ia cintai telah pergi akibat kebodohannya sendiri. Akibat itu, Adit menjadi pria yang hidup dalam bayang-bayang hina sehingga ia merasa tidak pantas dicintai wanita lagi.


Sampai detik ini Adit masih menjadi duda tanpa berniat mencari wanita pengganti.


Sementara Vanya, orang yang dianggap sebagai korban memilih jalan terbaik untuk menetap di kampung halamannya bersama putri dan neneknya. Meskipun pada awalnya mendapat banyak hujatan dari para tetangga lantaran hamil tanpa didampingi oleh suami, tetapi Vanya dapat melewati masa-masa sulit itu hingga tak terasa waktu sudah berjalan empat tahun lamanya. Lambat kian para mulut tetangga itu bosan sendiri dan mulai menerima keberadaan Vanya dan anak tanpa ayah tersebut.


Teruntuk Marco, sepertinya pria itu menjadi target Tuhan yang mendapat karma terberat. Terbukti ia sangat sibuk dengan urusannya sendiri sampai tak ada waktu barang sedetik pun untuk menemui istrinya.


Sebenarnya bukan tidak ada waktu, Marco memang sengaja di hukum oleh tuan Fernando akibat kesalahan fatal yang ia perbuat itu. Tidak hanya disuruh menstabilkan dan mengembangkan perusahaan, tapi tuan Fernando juga menarik Hero sehingga Marco harus berjuang sendiri membangkitkan perusahaan. Ia menjalani hari-hari hampa tanpa ada satu orang pun yang mendukungnya.

__ADS_1


Dua tahun pertamanya ia lewati dengan tertatih-tatih tanpa ada Hero lagi di sisinya. Marco benar-benar harus berjuang sendiri demi sebuah restu yang tuan Fernando janjikan kepadanya.


Ya, papinya bilang akan merestui hubungannya dengan Vanya jika ia bisa menunjukkan kinerjanya dengan baik. Membuktikan bahwa ia mampu menjadi seorang pemimpin perusahaan yang layak dipandang oleh dunia. Itu sebabnya ia mati-matian mendedikasikan waktu dan seluruh tenaganya untuk membangkitkan I-Mush Grup agar lebih jaya dari sebelumnya.


'Jika kamu memang mencintai wanita itu, lakukan satu hal terakhir yang menjadi kebanggaan papi-mu. Papi tidak mau tahu caranya, I-MUSH Grup harus kembali berjaya atau kamu tidak akan mendapat restu secuil pun dari papi.'


Mendengar itu, anak mana yang tidak ingin mendapat restu dari orang tuanya?


Dan empat tahun berlalu sudah lebih dari cukup menunjukkan giginya pada sang papi bahwa Marco bisa dewasa. Bisa menjadi pemimpin dan tentunya sudah bisa memantaskan diri untuk mengejar cinta Vanya.


"Akhirnya waktu yang kutunggu telah tiba." Marco tersenyum menatap E-Tiket di layar ponselnya. Setelah jam makan siang nanti, ia akan berangkat ke provinsi X untuk menemui Vanya dan putrinya yang kini sudah berumur empat tahun.


"Permisi, Tuan." Sekretaris pengganti Hero itu mengetuk pintu lalu masuk ke ruang kerjanya. Membuyarkan pria itu dari angan angan indah tentang momen kebersamaannya dengan anak dan istrinya nanti.


"Kau! Beraninya kau datang ke sini lagi! Sudah kubilang aku tidak ingin melihat wajahmu! Apa kau tuli, tidak tahu malu?"


Wanita anggun itu memasang ekspresi wajah masa bodo dan melangkah pelan mendekati Marco yang tengah duduk di kursi kerjanya. "Aku akan terus ke sini sampai kamu mau memaafkanku," ujar wanita itu.


Marco semakin membuncah dan menatap sarkasme. Rahangnya yang mengeras lebih dari cukup untuk menunjukan kebencian yang teramat dalam terhadap wanita itu. "Cih! Kau terlalu berharap lebih, Alea. Melihat wajahmu saja aku tidak sudi! Ingin rasanya aku meludah di wajahmu jika tidak ingat kamu siapa. Sebaiknya kamu pergi karena usahamu hanya akan membuang waktu saja "

__ADS_1


"Ck. Aku tidak peduli! Jika kamu tidak memaafkanku, itu artinya kamu ingin melihatku seumur hidup." Dia tertawa renyah setelahnya.


"Terserahmu saja, aku tidak peduli!"


Tawa Alea semakin terdengar nyaring saat mendengar suara Marco yang terdengar emosi sekali. Bahkan untuk mengatur napas saja pria itu sampai tersengal-sengal.


"Hei kau!" Marco menunjuk sekretarisnya yang sejak tadi berdiri tidak berguna. "Usir wanita ini dari ruanganku. Kenapa malah diam saja?"


"Ba-baik, Tuan!."


Gemetar-gemetar takut, sekretaris itu meraih lengan wanita bernama Alea tersebut. Namun langsung ditepis hingga membuat nyalinya setengah menciut lantaran ia tahu siapa wanita yang sedang menemui Marco itu.


"Ayolah, Co! Jika kamu memaafkanku, aku tidak akan mengganggumu! Bukankah ini sangat menguntungkan untuk dirimu sendiri?"


Wanita itu menuju sofa untuk menghempaskan tubuhnya. Membuat mood Marco yang tadinya sumringah seketika memburuk. Pria itu menatap tajam ke arah Alea yang kini sedang duduk mengamati furniture di ruang kerja Marco.


Setelah membuatku hancur, apalagi yang ingin dia lakukan?


***

__ADS_1


Hai-hai ...


Pelan-pelan ya gengs, sambil main tebak-tebakkan. Namanya juga genre misteri. Kwkwkw.


__ADS_2