Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Curhat.


__ADS_3

Taraaaaa. Assalamualaikum. Aku mau curhat dikit biar pada tau keadaanku.


Wkkw. Di titik ini aku lagi kepusingan liat outline ceritaku sendiri. Jujur baru kali ini aku bikin cerita pake gaya-gaya misteri. Ternyata bikin pusing ya. Jadi aku mohon maaf, jikala isinya kurang memuaskan. Ya, semoga ada yang memaklumi kalo aku lagi belajar.


Seperti yang sudah kenal aku sebelumnya. Aku adalah penulis komedi yang biasa menulis bacaan ringan. Bahkan banyak pembaca yang gak nyangka aku bikin cerita seperti ini. Kaya bukan ceritaku karena mereka terbiasa dibawa ngakak-ngakak.


Untuk mengatasi kepusinganku, sekarang waktunya aku bagi dengan menulis cerita komedi yang merupakan kebiasaanku.


Buat yang belum tahu dan mau sejenak santai sembari ngakak-ngakak. Bisa mampir ke kisah barunya Mia dan Bima ya.


Judulnya MENANTU IDAMAN.


Klik dipencarian atau langsung kunjungi beranda aku.


Babnya lumayan banyak dan bisa kalian baca di sana. Semoga berkenan dan memiliki waktu luang untuk berkunjung dan maraton baca, ya. Makasih. semuaaanya. 🥰🥰🥰


Salam sayang dari Ana.



Cuplikan di Bab 1


Malam Pertama Yang Mendebarkan


***


Berbalut baju kebanggan yang dihiasi manik-manik mutiara palsu, gadis bernama lengkap Miafa duduk sendiri di dalam kamar pengantin yang keseluruhan desainnya tampak biasa-biasa saja. Matanya mengindahkan seluruh ruangan, menatapi setiap jengkal dekorasi itu dengan pikiran yang melayang tak karuan.

__ADS_1


Siang tadi, Miafa, atau gadis yang sering dipanggil Mia oleh bapak ibunya, baru saja melangsungkan resepsi pernikahannya dengan Bima—seorang anak yatim piatu mapan yang memiliki paras cukup tampan. Dengan bekal penerapan protokol kesehatan dan sosial distancing, acara pernikahan sederhana Mia dan Bima berakhir dengan lancar tanpa adanya hambatan. Menutup kisah bahagia dan melanjutkannya pada acara malam mendebarkan yang akan segera berlangsung.


"Aku harus apa ya, nanti?" Mulai bermonolog dengan diri sendiri, gadis lugu berusia 19 tahun itu meremas jemarinya Ketakutan. Pikirannya dipenuhi dengan perkataan orang-orang yang menggodanya tadi siang. Membuat Mia merasa ngeri dengan candaan manusia busuk tak bertanggung jawab itu.


"Siap-siap menjerit ya, Mia!" Begitulah salah seorang menggoda Mia sambil kedip-kedip mata. Kode alam yang Mia sendiri tidak tahu artinya apa.


"Asik, akhirnya pisang mas Bima sold out," teriak salah seorang Lagi. Bahkan menggunakan mix penyanyi dangdut sampai beberapa hadirin yang mendengar ucapannya tergelak sama-sama. Mia yang yang tidak paham perkodean aneh orang dewasa memilih diam, bersembunyi di balik rasa malu dan pura-pura tak mendengar apa pun.


Menjelang malam, ternyata ketakutan Mia semakin jadi daging. Ia terus memikirkan ucapan teman-teman Bima saat menghadiri resepsi pernikahan mereka tadi siang. Ia penasaran, apa yang dimaksud dengan pisang dan menjerit? Ia juga bingung harus bersikap bagaimana saat menghadapi suaminya nanti. Apalagi pernikahan mereka tidak melalui proses jatuh cinta dulu seperti kebanyakan pasangan lain. Keduanya sama-sama mau menikah secara sukarela.


Bima bersedia menikahi Mia karena ia butuh pendamping agar hidupnya lebih terurus. Sementara Mia, ia mau menikah dengan Bima karena pria itu baik dan rajin bekerja. Sudah punya motor dan rumah sendiri pula. Kurang apalagi? Daripada jadi pengangguran yang menambah beban keluarga, lebih baik Mia menikah dengan Bima. Dapat gaji dan tentunya tidak tidur sendiri lagi.


Di tengah-tengah suasana kebingungan, tiba-tiba Mia dikejutkan oleh suara pintu hingga ia menoleh dan terperangah.


"Astaga, Mas Bima!"


Aroma shampo sachet-an menguar pekat begitu Bima mendekati gadis itu. Menggelitik bulu-bulu hidung yang masih normal dalam soal penciuman.


Pria itu ikut duduk, terpaku menatapi sang istri yang menutupi wajahnya malu-malu. "Kenapa, Mi? Tidak perlu grogi seperti itu. Sebentar lagi kita akan—"


"Maaaaas!" Teriakkan Mia yang sedikit keras membuat Bima menghentikan ucapannya secara terpaksa. Gadis lugu itu mengintip dari balik tangannya.


"Mas Bima pakai baju dulu, aku belum terbiasa melihat yang seperti itu," sela Mia sambil memalingkan wajahnya ke mana pun. Asal tidak melihat tumpukkan roti sobek yang membuat air liurnya menetes seperti bayi kelapar yang belum genap enam bulan. Mau makan seblak tapi tidak bisa, begitulah kira-kira isi hati si bayi


Bima tersenyum geli mendapati tingkah istrinya yang malu padahal mau. "Ya sudah, aku pakai baju dulu ya, Mi."


Pria itu berjalan ke arah lemari kayu di pojok kamar. Tangannya cekatan mengambil satu set pakaian kebanggaannya. Memakai kaos partai bergambar wajah presiden dan sarung motif kotak-kotak sebagai penutup bawahannya. Tidak ada kostum istimewa yang bisa Bima kenakan di malam pertama, ia tidak punya piama, hanya orang kampung biasa.

__ADS_1


"Kamu ngga mau mandi, Mi? Emangnya nggak gerah?" Pria itu berjalan kembali ke tempat Mia duduk.


Wanita itu menggeleng. "Engga usah, Mas. Aku tidak terbiasa mandi malam. Badanku juga sakit-sakit semua, mau langsung tidur aja kalau bisa."


"Hah?" Bima menohok.


"Kenapa, Mas?"


"Gak papa sih, kalau nggak biasa mandi malam ngga usah, nanti takutnya malah tambah sakit."


"Iya Mas, nanti kalau aku udah tidur jangan bangunin aku ya." Kode konfirmasi penolakkan yang kedua kalinya melayang dari bibir Mia.


Perkataan gadis itu membuat Bima tambah melongo. bonteng cihuy yang sedari tadi bersiap-siap melepas pelurunya langsung luntur dan pingsan dadakkan. Kok mau langsung tidur sih? Batin Bima jengkel.


Sepertinya malam ini bukan rejekiku ya. Mungkin anak perawan yang masih original memang begini. Kamu harus sabar, Bim.


Lalu ia menjawab, "Ya sudah, ganti baju terus tidur. Aku mau ke depan dulu nemuin bapak dan ibu kamu di ruang tamu."


Pria jangkung bertubuh kekar itu keluar kamar demi menjaga bonteng cihuy peliharaannya agar tidak bertindak paksa pada gadis yang belum siap melaksanakan adegan icikiwir bersamanya. Barangkali tengah malam berubah pikiran, siapa tahu 'kan?


.


.


.


***

__ADS_1


__ADS_2