
Masalah adalah bumbu spesial yang melengkapi kehidupan manusia dalam setiap langkahnya. Tanpa hal itu perjalanan hidup manusia seperti tak akan ada warnanya sama sekali. Hambar layaknya sayur tanpa bumbu dan garam.
Namun, kita harus tahu bahwa sebuah perkara tak mungkin bertahan dalam biduk kehidupan kita selama-lamanya. Pasti ada jalan jika kita mau bertahan dalam titik ini sebentar lagi.
Seperti rumah tangga Vanya dan Marco, pelan-pelan mereka mulai menemui titik terang. Kegigihan mereka dalam menjemput kebahagian akhirnya membuahkan hasil dan membuat hati jadi mengembang setiap hari. Di mana keduanya mendapati masa depan cerah sudah tersaji tepat di depan mata mereka.
Selepas dari rumah sakit, Marco dan Vanya langsung bergegas menjemput Ella di sekolahnya. Cuaca hari itu sangat cerah hingga semuanya memutuskan mampir ke kedai es krim untuk menyejukkan pikiran sekalian menambah momen kebersamaan.
Tanpa basa-basi Marco memberi tahu pada Ella bahwa mamanya tengah mengandung adik yang selama ini dinanti-nanti Ella.
Gadis kecil itu sangat antusias mendengar kabar bahagia ini sampai-sampai ia bertanya bagaimana caranya menyiapkan diri agar bisa menjadi kakak yang baik untuk adiknya. Sepanjang waktu Ella terus bertanya ini itu sampai kelelahan dan berakhir tidur di jok belakang.
Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang karena nenek Laura terus menghubungi Vanya sedari tadi. Sepertinya nenek tua itu sudah tahu perihal insiden yang menimpa cucunya. Mungkin nenek diberi tahu oleh mantan teman kerjanya yang masih bekerja di perkebunan itu.
"Kita kapan sampainya kalau seperti ini?" Vanya mencebikkan bibirnya setengah geram karena Marco sangat lamban mengendari mobilnya. Sedari tadi laju ban mobil itu bergerak perlahan nyaris setara dengan orang berjalan.
__ADS_1
"Sabar istriku! Aku harus melakukan ini demi bayi kita. Nanti kalau kamu kenapa-napa bagaimana? Bisa-bisa Tuhan mengutukku jadi batu karena terus -menerus tak becus dalam mengurus istri," ucapnya.
"Tapi tidak seperti ini juga Papa Marconah! Bahkan orang berjalan jauh lebih cepat dari laju mobil kita!"
"Eitss! Jangan memanggilku dengan panggilan itu. Hanya Ella yang boleh memanggilku dengan sebutan papa Marconah. Istriku tidak boleh ikut-ikutan!" Sambil mencubit pipi Vanya gemas.
Lagi-lagi Vanya memanyunkan bibirnya untuk kesekian kali. "Terserahmu sajalah! Yang penting segera naikkan laju mobilnya. Tidak perlu cepat asal gerakannya masuk di akal."
"Tidak bisa Sayangku! Ini adalah batas maksimal saat berkendara dengan wanita hamil. Aku sudah membacanya dari media sosial." Marco menggelengkan kepalanya penuh penolakkan. Matanya masih tetap fokus menatap jalan lurus yang tersadi di hadapannya. "Semua ini demi keselamatan kamu dan calon buah hati kedua kita. Ingat itu jika kamu hendak marah!"
Vanya memalingkan wajahnya kesal. Rasanya ingin menjerit karena terlalu lama berada di dalam mobil.
Kenapa dia jadi posesif sekali si? Ini sih gila namanya.
Matanya kembali melirik-lirik ke arah Marco. Sudah pura-pura ngambek saja pria itu masih tetap pada pendiriannya. Sepertinya mobil ini kesurupan hantu kura-kura. Mengapa malah tambah lamban seperti ini? Kapan sampainya, aduh.
__ADS_1
"Hmmm." Vanya berdeham. Akhirnya ia menemukan pembalasan yang setimpal untuk menyerang ke-posesif-an pria itu.
"Kenapa Sayang!?" Marco menoleh sekilas kemudian kembali fokus ke depan.
Vanya memandangi pria itu dengan alis berkerut. "Sepertinya kamu benar-benar ingin menjaga keselamatanku dan bayi kita ya?" pancing Vanya memulai.
"Tentu saja. Bukannya tadi aku sudah bilang?" Matanya melirik ke arah Ella dari kaca penumpang. Gadis kecil itu tertidur pulas dengan napas teraturnya.
Vanya menyunggingkan sebuah senyum tanda kelicikkan. "Baguslah kalau begitu. Berarti mulai nanti malam kamu tidur dengan Ella saja, ok. Malam ini aku harus mulai mengasingkan diri agar tidak dimakan oleh buaya lepas."
"Kok begitu?" Marco menoleh. Tentu saja matanya memancarkan aura penolakkan yang sangat kentara.
***
300 komen aku up lagi. Hehe
__ADS_1