
Vanya tertawa renyah mendengar candaan-candaan ringan yang Marco lakukan. Namun tiba-tiba wanita itu teringat pada nasib hubungan seseorang yang tak kalah mendapat kontroversi seperti dirinya juga.
"Oh ya, bagaimana keadaan Anna sekarang? Pasti dia sudah menikah dengan Hero bukan?"
"Belum," lirih Marco. Wajahnya langsung berubah saat pembahasan beralih pada hubungan Hero dan Anna.
"Kenapa belum? Bukannya waktu itu Hero bilang ingin menikahi Anna jika sudah sudah lulus kuliah?"
"Ayah kandung Anna tidak mau menikahkan Anna dengan Hero. Bahkan papi dan mami sampai mengiba di depan mereka, tapi kedua orang tua Anna kompak tidak mau menikahkan putrinya. Mereka sangat membenci Hero, dan Hero juga sangat keras kepala, selalu acuh tak acuh pada orang tua kandung Anna. Malahan terkesan benci."
"Ya Tuhan!" Vanya menutup mulutnya tidak percaya. "Kasihan sekali nasib Anna, usianya sudah masuk ke kategori telat menikah, tapi orang tua kandung jahat sekali. Baru tahu ada orang seperti itu."
"Entahlah, aku suka pusing jika memikirkan hubungan mereka yang hanya stuck pada status berpacaran selama bertahun-tahun!"
Vanya menunduk prihatin. Di saat ia merasa hidupnya menderita, ternyata ada yang jauh lebih tersiksa. Hero dan Anna sudah saling mencintai sejak lama, tapi hubungannya masih belum bisa naik taraf ke jenjang yang lebih serius lagi.
"Sudah jangan pikirkan percintaan Anna dan Hero. Mereka tidak seburuk yang kamu pikir, mungkin sebentar lagi mereka akan kawin lari."
"Iskh! Dia adikmu tahu!" Vanya berdecak dengan gaya hendak memukul.
"Iya adikku, tapi hari ini aku sedang tidak ingin dipusingkan dengan kisah cinta mereka. Bahas mereka lain kali saja. Besok mobil yang kupesan datang, aku akan mengajak keluarga baruku berdua jalan-jalan."
"Besok aku kerja," ujar Vanya. "Hari minggu saja kalau mau mengajak jalan-jalan."
"Ya sudah." Marco mengangguk patuh, tapi pikirannya sudah berkelana menyusun rencana licik.
__ADS_1
Puas-puaslah bekerja, karena sebentar lagi kamu akan dipecat saat aku sudah menjadi bossnya.
Matanya memandang Vanya dengan senyum penuh kelicikan. Ia akan menyuruh Hero membeli perkebunan itu secepatnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum?"
"Tidak!" Marco melipat bibitnya ke dalam. Kemudian meletakkan kepalanya dengan gestur manja di pangkuan Vanya "Aku kangen! Mau disayang, yang tadi masih kurang!"
Ia meletakan tangan Vanya di atas rambut kepalanya. Tangan itu segera mengelus-elus rambut Marco tanpa disuruh lebih rinci.
"Iya, seperti itu Van! Enak, aku suka. Elus-elus sampai aku tidur." Matanya terpejam menikmati. Bohong kalau Marco berkata ingin tidur, karena mungkin sudah tersusun rencana licik lain di balik kepala hitamnya.
"Kalian berdua benar-benar sama persis. Ella juga seperti ini kalau sedang manja," ujar Vanya.
"Ck. Sudah lama aku tidak mendengar kata-taka ini." Terakhir Vanya mendengar itu saat usia kandungannya lima bulan.
Tak puas hanya dielus-elus kepalanya, Marco menarik tangan Vanya agar menyentuh pipinya. Posisinya sekarang sudah seperti bayi besar yang tingkahnya cocok jika dianggap adik Ella.
"Hibur aku Van, aku masih sedih sekali karena Ella belum juga mau menerima kehadiranku. Beruntung kamu sudah, jadi aku tak perlu loncat dari batu ke dasar sungai."
Ada helaan napas yang membuat dada Vanya sedikit membusung. "Sabar, Ella hanyalah anak kecil, jangan terlalu dipikirkan kata-katanya."
"Tapi sakitnya di sini Van!" Marco menarik tangan Vanya, menaruhnya di atas dada kiri. "Setiap melihatku Ella selalu memalingkan wajah seperti melihat seorang musuh. Hatiku sakit sekali! Aku tidak terima. Apa aku harus benar-benar operasi menjadi si Jimin itu untuk mendapatkan perhatian Ella?"
Pria itu nampak serius. Tergurat kesedihan yang cukup dalam di wajahnya.
__ADS_1
"Jika kamu operasi plastik, aku tidak mau melihatmu lagi!"
"Lalu aku harus bagaimana? Menaklukan dua wanita dengan hati baja sekaligus bukan keahlianku," Marco mengayunkan bibir, kepalanya mendongak menatap leher jenjang Vanya yang dipenuhi ruam merah bekas tanda cintanya.
"Lalukan pelan-pelan. Semuanya butuh protes, aku akan membantu mengatakan yang baik-baik tentangmu pada Ella setiap hari. Tadi saja dia sudah bilang tertarik padamu," bohong Vanya.
Padahal saat hendak menidurkannya, Ella merengek, meminta Vanya mengusir Marco dari rumah karena tidak suka dengan kehadiran pria itu. Itulah kenyataan yang sesungguhnya.
"Benarkah? Mungkin karena dilihat-lihat aku sangat mempesona ya, jadi Ella berpikir dua kali untuk memusuhiku. Kalau begitu besok aku akan melakukan pendekatan ekstra," ujarnya bahagia. Vanya hanya tersenyum canggung. Semoga saja besok tidak terjadi peperangan antara bapak dan anak, pikirnya.
Pria itu bangkit dari posisi tidurnya. Lantas berkedip nakal memandangi bagian tubuh Vanya. "Sudah cukup elus-elusnya, Van. Malam ini gantian kamu, aku mau memanjakanmu sampai puas."
Alih-alih ingin muntah, pipi Vanya seketika merona dengan godaan Marco. Hatinya membuncah. Dadanya berdebar tak beraturan. Otaknya sulit berpikir jernih kalau sudah berada dalam posisi seperti ini.
"Awhk!" Wanita itu tersentak dari lamunan saat Marco menyelusupkan tangannya pada balik daster.
"Mau apa?" tanya Vanya sedikit gemetar.
"Memangnya mau apalagi Vanya. Yang tadi kurang leluasa, anggap saja hanya simulasi. Aku mau melakukan yang sebenarnya di tempat ini."
Marco merebahkan wanita itu pelan-pelan ke atas ranjang, kemudian mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memberikan pelayanan terbaik pada wanita yang sangat dirindukannya itu.
Aku cinta kamu, Anya sayang.
***
__ADS_1