
Malam ini Marco pulang ke rumah agak awal. Sambil tersenyum-senyum sendiri, dia membawa dua tiket bulan madu yang ia dapatkan dari sekretarisnya Hero.
Hero memang sengaja memberi Marco libur agar lelaki itu bisa mencari ketenangan berdua. Masalah Ella, dia berjanji akan mengurus Ella bersama Anna.
"Sayang....." Dia mencari Vanya, wanita itu baru saja selesai menidurkan Ella.
"Anyaaa... Di mana kau?"
"Hei, apa kamu tidak mau menyambut suamimu pulang?" Marco terlihat menggerutu kesal.
"Sttt. Ada apa? Suaramu ini bisa pelan sedikit atau tidak? Aku baru saja selesai menidurkan Ella. Sejak tadi anak itu tidak mau tidur!" Vanya keluar dari kamar sambil melotot.
"Maafkan aku, Sayang. Habisnya aku tidak sabar keluar memberikanku ini." Marco memberikan dua tiket bulan madu kepada Vanya.
Sontak Vanya terkejut.
"Bulan madu? Kau ini ada-ada saja! Kita bahkan hendak menantikan anak kedua. Apanya yang bulan madu?"
"Hmmm. Kalau kami tidak suka dengan sebutan bulan madu, ganti saja dengan liburan. Yang jelas aku ingin liburan berdua denganmu."
"Jangan sembarangn bicara Marco!" Vanya yang kesal lantas berjalan menghindar. Dia pergi menuju dapur untuk menyaipkan makan malam.
Di rumah itu memang banyak pembantu. Tapi terkhusus Marco, Vanya biasa menyiapkan makanan itu sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak bercanda, Sayang. Aku serius!" Marco memeluk Vanya dari belakang saat wanita itu tengah menyiapkan makanan untuknya."
"Please, jangan seperti ini Marco! Pokonya sampai bayi kita lahir. Tidak ada bulan madu, liburan, atau apa pun yang kamu katakan itu."
"Vanya ... Jangan seperti ini."
Vanya berbalik. Dia menatap Marco lalu membelai wajahnya.
"Jangan egois, kita sudah punya Ella. Mana mungkin kita bisa keluyuran berdua dengan tanpa membawanya. Bagaimana pun juga kau harus menerima kodratmu sebagai ayah, Marco."
"Ya Tuhan Vanya. Kau kejam sekali." Marco mendengkus.
"Begini saja. Bagaimana jika aku bujuk Ella dulu. Jadi nantinya, selama kita bulan madu, Ella akan tinggal bersama Anna. Jika dia setuju maka kita berangkat, tapi jika dia tidak setuju, kita tidak usah lakukan."
"Hmmm. No, Thanks!"
"Please," pinta pria itu lagi. "Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku. Aku ingin kita bisa menghabiskan waktu dan saling mendekatkan lagi."
"Kita sudah dekat Marco! Apa tidur berdua setiap malam masih kurang dekat di matamu?"
Nada bicara Vanya meninggi. Sungguh dia tidak suka dengan kalimat protes Marco saat ini.
"Bukan seperti itu? Tapi--"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapi Marco! Habiskan makananmu dan kita tidur."
"Oh Tuhan Vanya! Kau memang keras kepala!" Marco mendesah. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk dan mulai membalik piring.
Selama makan malam, Marco dan Vanya tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Dia terus menghabiskan makanannya di piring.
Keduanya kembali ke kamar. Marco ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu dia naik ke ranjang.
Tampak Vanya sudah mulai tidur miring membelakanginya.
"Ayolah Vanya ... Jangan pura-pura tidur begitu. Aku tahu kau hanya pura-pura."
Marco mencolek pipi Vanya. Ia bahkan mengecupnya.
"Vanya, jangan marah! Niatku mengajak bulan madu itu baik. Jika kamu tidak suka, kamu tetap tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Paham?"
"Ah, sialalan!" Marco menggeram kesal. Ternyata Vanya sudah tertidur pulas.
"Apakah dia sangat lelah sampai tidur secepat ini? Dasar beruang," gumam Marco kesal.
***
Yang mau nambah jangan lupa kasih dukungan bintang buat novel ini ya.
__ADS_1
***