Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Boncap 13


__ADS_3

"Jadi ... bisakah kita lanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi ?"


Marco menatap Vanya dengan intens karena wanita itu terus memandang punggung Hero selama pria itu berjalan ke luar.


Bahkan setelah pintu ditutup, Vanya masih saja melihat bekas bayangan Hero di pintu tersebut.


"Kau terus melihat punggung Hero! Apa kau mulai suka padanya juga?" ketus pria itu sebal. Lantas menarik Vanya yang masih berdiri hingga terjatuh di pangkuannya kembali.


"Eh, apaan sih? Mana ada aku naksir kepadanya. Aneh-aneh saja kamu!" Wanita itu menggeliat-geliat risih berusaha menangkis tangan Marco dari penjelajahan di bagian sensitif yang masih terbalut kain penghalang.


Marco mencibir. sinis. “Dari sorot matamu saja aku sudah bisa melihat bahwa kamu sedang memikirkan sesuatu tentang pria itu. Cepat katakan, apa yang sedang kamu pikirkan tentang dia. Awas saja jika kamu sampai memiliki fantasi liar dengannya."


“Hahaha Sayang!” Wajah Vanya berubah tersipu, membuat Marco semakin kesal saja.


“Aku memang sedang memikirkannya si!”


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Marco ketus. Ia begitu murka melihat ekspresi wajah Vanya yang kini sudah berubah makin merona.


Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan wanita centil satu ini?


“Aku hanya sedang berpikir, ternyata sekretaris Hero tampan juga. Pantas saja Anna sudah sangat ngebet pengin menikah dengannya. Bahkan di usianya yang hampir menginjak kepala empat Hero masih terlihat seumuran denganmu.”


“Oh begitu!” Ruangan AC yang menyala full berubah jadi panas seketika.


“Iya, Sayang.” Vanya mendongak. Ia sontak terkesiap begitu melihat wajah Marco berubah murka semurka-murkanya.


Ah, sepertinya aku telah memancing raja singa yang lapar. Padahal aku 'kan cuma bercanda!


Vanya langsung berdiri menjauh dari pria itu. Tubuhnya kini menempel di tembok seperti cicak-cicak di dinding. Berusaha kabur namun ia tahu nasibnya akan habis di ruangan ini jika sampai melakukan perlawanan lebih.


“Sini kau! Akan kubuat kau tidak bisa jalan seharian ya, Vanya!”


“Ampun Sayang!” sambil berlari semakin jauh dari tempat duduk Marco. Dia tergelak.


Marco segera memutar kursinya menghadap Vanya.


“Kembali ke sini atau kuhabisi kau!”


“Ampun Sayang, tapi aku takut padamu. Kamu seram.” Tawa Vanya semakin keras. Membuat Marco terpaksa berdiri serta menarik wanita itu.

__ADS_1


Dalam sekejap ia berhasil menjangkau Vanya yang terus mengangsur tubuhnya ke sana-ke mari.


Menarik lengan serta membuat wanita itu terperangkap dalam dekapannya.


"Jangan bercanda! Kamu mau memberikannya untukku atau tidak?" bisik Marco lembut tetapi terdengar menyeramkan. Vanya sudah paham sekali arah tujuan pria itu akan berlabuh di perhentian yang mana.


"Di rumah saja ya," rengek wanita itu.


Marco menggeleng. "Di rumah ada Ella. Kau tahu sendiri aku tidak bisa leluasa karena Ella pernah melihat kita melakukannya waktu itu."


"Iya sih!" Vanya menangguk. Ia jadi teringat ekspresi takut Ella yang berpikir bahwa Marvo sedang menyakitinya. Padahal wanita itu sedang berteriak di bawah temaramnya lampu. Ah, jadi malu.


"Jadi tidak nih?" tanya Marco mempertegas karena Vanya sejak tadi hanya diam saja.


" Iya ... iya jadi!"


"Kalau begitu kenapa masih berdiri saja? Cepat layani aku! Apa kau mau membuatku gelisah menahan resah?" kesal Marco seraya bersungut-sungut. “Aku sudah tidak tahan Vanya! Bisa-bisanya kau menyiksa suamimu sendiri sejak tadi !"


"Iya iya. Ayo kita melakukannya sekrang."


*


*


*


Tringgg ....


Sebuah E-mail misterius dari orang tak di kenal datang memenuhi layar monitor Marco.


Vanya yang baru selesai memakai baju dan masih duduk di pangkuan Marco mengernyit. "Email dari siapa, Sayang?"


"Tidak tahu," jawab Marco seraya membuka E-mail tersebut.


Bola mata Vanya dan Marco langsung membeliak terkejut begitu melihat isi foto-foto di tempat tersebut.


"Apa-apaan ini?!" teriak Marco marah sekali.


"Sayang tenang!" Vanya berusaha mengelus dada Marco agar pria itu sedikit tenang. Ia sendiri juga terkejut bukan main melihat isi e-mail tersebut.

__ADS_1


Marco langsung menarik kabel telepon untuk menghubungi petugas CCTV.


"Cepat periksa CCTV. Cari di mana sekretaris Hero berada!" Napas Marco naik turun tidak jelas. Ia langsung mematikan sambungan telepon sebelum petugas cctv menjawab dari balik sana.


Lima menit kemudian petugas CCTV menghubungi. Mengatakan bahwa Hero dan Anna menuju rooftop beberapa menit yang lalu. Marco segera berdiri dan bergegas menyusul mereka.


Vanya berteriak, berusaha mencegah Marco, namun pria itu terlihat berapi-api sekali.


Sesampainya di rooftop Marco langsung berlari melayangkan bogem mentah dari arah belakang.


Bughhhh!


“Bangsatttt!” Tubuh Hero terpental ke lantai.


“Kakak!” Anna yang ada di situ berteriak sambil menutup mulutnya tidak percaya.


“Kak Marco apa yang kamu lakukan?” teriak Anna lagi. Tetapi Marco terlihat marah sekali terhadap Hero.


Bugh ... Bugh .... Bugh ....


Pria itu melayangkan banyak tinjuan di wajah Hero. Anna berusaha menarik lengan Marco, tetapi tenaganya tidak cukup kuat.


“Sialan! Apa yang kau lakukan terhadap Adikku, hah?”


Hero hanya diam. Anna berlari melindungi Hero yang sudah tersungkur dengan darah segar mengalir di hidung dan dua sudut bibirnya.


“Hentikan Kak! Dia tidak melakukan apa pun!”


Bugh!


Marco menendang tulang kering Hero sekuat tenaga hingga pria itu meringis menahan sakit.


“Cepat katakan .... Apa yang kau lakukan terhadap Adikku Veronika? Apa kau ingin mengusik kedamaiannya, hah?”


Sontak Anna membeliak begitu mendengar nama itu di sebut. Nama keramat yang bahkan tak yang boleh ada orang yang mengungkitnya, kini Marco ucapkan dengan lantang di hadapan Anna dan juga Hero.


Ya Tuhan!


Apa yang sebenarnya terjadi?

__ADS_1


***


__ADS_2