Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Wajah Marco masih merah menghitam saat menyusul Vanya ke ruang OBGYN. Ucapan dan hinaan Zenith benar-benar sukses membuatnya geram dan kalah telak saat itu juga.


Karena pikirannya masih lumayan kacau. Pria itu tidak langsung masuk menemui Vanya dan dokter ke dalam ruang pemeriksaan. Ia memilih duduk di kursi depan dan menunggu kemunculan Vanya. Namun beberapa saat kemudian Vanya keluar karena ia telah selesai menjalani serangkaian pemeriksaannya.


Kandungan Vanya sudah memasuki minggu ke 21 sekarang. Dokter bilang berat bayinya sudah mencapai 500 gram. Wanita itu sudah mulai mendapat larangan ini itu yang membuat dirinya tambah pusing. Vanya dituntut bahagia, menjaga pola makan, tidak boleh kelelahan, dan yang utama jangan sampai terlalu banyak pikiran. Hal yang paling sulit untuk Vanya hindari saat ini karena memikirkan nasib buruknya bersama Marco.


Hasil foto USG sudah berada di tangan Vanya. Wanita itu memasukannya tanpa memperlihatkannya dulu pada Marco karena merasa tidak perlu. Ia melangkah menuju kursi tunggu untuk menemui Marco yang sedang tertunduk dengan wajah suram.


"Bagaimana hasilnya?" tanya wanita itu.


"Kita bicarakan saja di mobil! Ayo pulang." Marco melirik perut besar Vanya untuk pertama kalinya. Selama ini ia selalu cuek pada bayi di dalam kandungan itu. Saking jarangnya bertemu, Marco sampai tak sadar bahwa perut Vanya sudah tampak membesar beberapa kali lipat dari ukuran sebelumnya. Terakhir mereka bertemu saat usia kandungan Vanya baru menginjak usia ke dua bulan. Dan saat menikah kemarin barulah keduanya bertemu lagi.


Mereka berdua sudah berada di dalam mobil sekarang. Marco menyerahkan amplop yang isinya sudah dilihat terlebih dulu olehnya ke tangan Vanya. Wanita itu langsung membukanya dengan cepat saking tak sabarnya.


"Sembilan puluh delapan persen?" gumam Vanya lirih. Wajah wanita itu mendadak pucat kesi. Hatinya bimbang antara mau senang atau bersedih. Ia memang senang bahwa asumsinya terbukti benar. Namun, jauh di dasar hati Vanya sangat takut bahwa langkah balas dendam Marco selanjutnya adalah memisahkan wanita itu dengan anaknya.


Meski awalnya Vanya tidak senang mengandung anak Marco, tapi wanita itu sudah banyak membangun kedeketan antar ibu dan anak dengan bayi di dalam perutnya. Dia adalah alasan kenapa Vanya masih bisa bertahan sampai detik ini. Seandainya tidak ada kehadiran bayi itu di dalam perutnya, Vanya rasa ia tidak akan mampu menjalani hidup di dalam penjara mewah yang Marco bangun untuk dirinya selama ini. Sendiri. Kesepian. Dan tentunya tidak pernah dijenguk oleh pria itu.

__ADS_1


"Hmmm." Marco berdeham pelan. Memecah kehenginan yang terjadi beberapa saat di antara mereka berdua.


Vanya mendongak cepat. Meremas dua tangannya sambil menunggu Marco berbicara.


"Karena anak di dalam kandungan itu adalah milikku. Mulai sekarang aku akan merubah kontrak perjanjianku dengan mantan suamimu. Ketika bayi itu lahir, aku akan menyerahkanmu kembali kepadanya. Dan sebagai gantinya bayi itu akan menjadi milikku seutuhnya. Bagaimana?" tawar Marco tanpa perasaan. Membuat Vanya membeliak dengan dua tangan yang reflek mengepal kuat.


"Mana bisa!" gertak Vanya tidak terima. "Selama ini kau selalu membenci kehadiran bayi ini dan nyaris membunuhnya! Sampai mati pun aku tidak akan membiarkan dia hidup bersama ayah jahat sepertimu!" tukas Vanya.


"Aku ayah biologisnya. Dalam hal ini aku lebih berhak merawat anak itu!"


Tamparan keras itu mendarat di pipi Marco untuk pertama kali dalam sepanjang sejarah hidupnya.


"Kau!" Marco hendak membalas. Tangannya sudah terangkat. Namun ia urungkan karena teringat kondisi Vanya yang sedang mengandung darah dagingnya.


"Kau tidak pantas menjadi ayah kandunganya Marco! Selama ini kau sangat membenci kehadirannya. Tidak pernah menjenguk. Bahkan sekedar menanyakan kabarnya saja tidak pernah sama sekali. Bagaimana bisa kau ingin mengambil dia dariku dengan tidak tahu dirinya?"


Vanya memukul-mukul dada Marco. Kali ini wanita itu melawan dengan derai air mata yang sudah terjun bebas membasahi pipinya. Ia mengamuk. Meluapkan semua amarahnya pada Marco sepuas-puasnya.

__ADS_1


Suara Vanya melengking kuat di mobil yang tengah terparkir di baseman tersebut. Marco sampai tak enak karena sudah ada beberapa satpam yang mengawasi mobil mereka dari kejauhan.


"Aku yang mengandung. Aku yang merawatnya. Aku yang menderita. Aku yang setiap pagi lari ke kamar mandi karena mual. Apa kau merasakannya? Apa kau peduli? Tidak, 'kan?" tukas wanita itu lagi.


Bibir Marco tiba-tiba bungkam. Ia merasa sangat bersalah atas perbuatannya pada calon buah hatinya. Gara-gara keegoisannya dalam membalas dendam pada Vanya, darah dagingnya harus terseret dan ikut-ikutan menderita juga.


"Kenapa diam! Apa kau tidak punya mulut?" teriak Vanya terus memancing amarah Marco.


Marco segera menyalakan mesin mobilnya perlahan. Kali ini ia membiarkan Vanya mengamuk dan memakinya sampai puas.


Mengambil anak dari tangan Vanya memang tidak pernah ada dalam daftar balas dendamnya. Bahkan Marco masih tidak menyangka bahwa perbuatannya mampu menghasilkan benih di dalam kandungan Vanya.


Entah ia harus menyebut ini anugrah atau justru Alam yang sedang menentang perbuatan jahatnya.


***


Up lagi kalo like udah 2000 dan 200 komen lebih. Macih ... macih semuanya yang mau baca. 🥰🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2