Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, usia kandungan Vanya sudah memasuki bulan ke lima. Wanita itu begitu terkejut saat Marco mengajaknya pergi ke suatu tempat yang ternyata adalah dinas pencatatan sipil.


Awalnya ia ragu, namun Vanya tetap mengikuti Marco masuk ke dalam gedung tersebut walau dengan langkah lambat dan hati bimbang.


Begitu mereka masuk, Vanya langsung di sambut oleh Hero yang sudah memegang berkas-berkas pernikahan mereka. Vanya sampai syok lantaran penampilannya tak seperti orang menikah pada umumnya.


"Tidak usah memikirkan penampilanmu. Kita di sini bukan untuk menikah dengan hati bahagia seperti orang lain!" Suara Marco terdengan ketus dan dingin di telinga Vanya. Sama sekali tidak ada kelembutan disetiap nada bicaranya.


Vanya memilih diam. Meratapi nasibnya yang selalu saja kurang beruntung dalam hal apa pun.


Dengan menggunakan baju hamil sopan, dan make up tipis seadanya, Vanya dan Marco mengucapkan janji suci di sana. Hanya ada beberapa saksi yang sengaja Marco sewa untuk membantu memperlancar proses berjalannya pernikahan mereka. Tidak ada satu pun sanak keluarga yang datang, baik dari Vanya, maupun dari keluarga Marco yang masih misterius di mata Vanya.


Proses pernikahan dilalui dengan waktu singkat dan padat. Tidak ada yang spesial sama sekali dalam pernikahan mereka. Meskipun awalnya Vanya pernah meminta Marco menikahinya agar terhindar dari perbuatan maksiat, Vanya tidak pernah menyangka bahwa Marco akan menikahinya dengan cara menyedihkan seperti ini. Tanpa dihadiri keluarga apalagi acara resepsi, bahkan bisa dianggap seperti pernikahan di atas kertas yang sengaja disembunyikan dari hadapan publik.


Setelah mendapatkan akta pernikahan yang sah, Vanya dan Marco segera dijemput oleh Hero menggunakan mobil di depan lobi. Mobil mereka melaju ke suatu tempat yang Vanya tidak tahu di mana itu.


"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya Hero memastikan sambil melirik ke arah kaca penumpang.


"Bukankah kau sudah menyiapkan segalanya, kenapa malah tanya padaku?"


"Eh ... maksudnya saya hanya memastikan," ujar pria itu. Ia kembali fokus mengemudi dengan kecepatan sedikit lebih tinggi.


Sensitif sekali mulutnya.


Kini tatapan Marco beralih pada Vanya yang tampak gamang memikirkan sesuatu. "Apa yang kau pikirkan?" tanya pria itu dengan nada yang lebih menggertak dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa akhirnya kau mau menikahiku. Bukannya kemarin kau menolak?" tanya wanita itu penasaran. Lebih tepatnya Vanya ingin tahu aksi rencana balas dendam apa yang akan Marco lakukan selanjutnya.


"Bukankah itu kemauanmu?" Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan. "Aku hanya sedang menuruti keinginanmu saja," ketusnya kemudian.


Selepas itu tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Vanya. Ia memilih bungkam daripada harus memulai perdebatan.


*


*


*


Mobil yang Hero kendarai berhenti di sebuah hotel pinggiran kota. Tepat di samping hotel tersebut, pemandangan pantai indah nan luas membentang sempurna.


Mereka berjalan mengikuti Hero yang telah menyiapkan kamar untuk keduanya.


Vanya langsung terkejut begitu melihat interior kamar hotel yang sudah didesain khusus seperti kamar pengantin pada umumnya. Harum bunga-bunga segar langsung menyeruak masuk dan memanjakan indra penciuman. Kasur besar yang mewah sudah melambai jika mereka akan bergulat sekarang juga. Hingga tanpa sadar pipi Vanya merona, membayangkan adegan terkutuk yang akan terjadi berikutnya.


"Selamat menikmati hari Anda Tuan, saya permisi!" Marco menarik dua handle pintu begitu keduanya masuk.


Vanya memilih berjalan ke arah balkon untuk melihat hamparan ombak yang menabrak karang dan bebatuan. Sementara Marco pergi membersihkan diri di kamar mandi.


"Indah sekali!" Vanya menyandar pada sandaran kaca pembatas sambil memegangi calon buah hatinya yang selalu menemani harinya selama lima bulan ini. Air mata wanita itu menetes begitu melihat pantai yang berada tepat di depan matanya. "Aku jarang sekali melihat yang seperti ini," gumam Vanya penuh kekaguman.


Vanya terhenyak dari lamunan saat mendengar suara halus wanita memanggilnya. Seorang pelayan datang membawa lilin aromaterapi di atas nampan. "Ada apa?" tanya Vanya sambil berjalan masuk ke dalam kembali.

__ADS_1


"Saya izin menaruh lilin aromaterapi ini Nona. Mau diletakkan di mana?"


"Berikan padaku saja!" Vanya meraih lilin yang tengah menyala di dalam wadah kaca tersebut. Ia menghirup aroma wanginya dalam-dalam. "Aku suka wanginya. Terima kasih," ucap Vanya sambil tersenyum manis.


"Syukurlah, kalau begitu saya permisi dulu Nona!" Petugas hotel tersebut segera meninggalkan kamar selagi Vanya menaruh lilinnya di atas nakas.


Tak berapa lama kemudian, Marco keluar dari dalam kamar mandi dengan kaos hitam yang sudah melekat di tubuhnya. Sementara handuk sedang masih melilit di pinggang kekar pria itu.


Vanya menelan ludahnya dengan susah payah. Baju hitam ketat yang melekat di tubuh Marco membuat jantung wanita itu tidak aman.


Vanya yang sudah berbulan-bulan tidak disentuh oleh Marco sangat mendambakan hal itu terjadi saat ini juga.


Ada apa dengan diriku, batin wanita itu penuh tanya. Jiwanya bergejolak sangat hebat, sampai tak sadar bahwa kakinya melangkah perlahan menuju Marco yang tengah mengeringkan rambut di depan kaca.


"Kenapa kau?" Marco memegangi tangan Vanya karena langkah wanita itu tampak limbung dan tidak lagi seimbang.


"Apa ada orang lain yang masuk ke ruangan ini?" Marco melihat lilin aromaterapi di atas nakas yang baunya sangat mencurigakan.


"Tadi ada pelayan yang membawakan lilin aromaterapi," ujar Vanya seraya menempelkan tubuhnya ke arah Marco. Kepala wanita itu mulai berat, otaknya mulai menuntun dan mencari tempat ternyaman untuk bersandar.


Hero sialan, momen apa yang sedang kau ciptakan di tempat ini?


***


Next, 100 komen dulu.

__ADS_1


__ADS_2