Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Delapan Puluh Enam


__ADS_3

"Kau ingin membuangku?"


"Tidak seperti itu, Van!"


"Tidap seperti itu bagaimana? Melepaskan sama halnya dengan membuang, bukan? Jangan kau pikir aku tidak bisa membaca otakmu! Aku tahu kamu sedang mengalami masalah keluarga juga perusahaan. Dan aku juga tahu bahwa masalah utamamu disebabkan oleh kehadiranku!"


"Mana ada seperti itu!" Pria itu menggeleng. "Aku melepasmu karena aku ingin melakukannya. Tidak ada hubungannya sedikit pun dengan masalahku!"


"Benarkah?" Wanita itu menatap nyalang Marco dengan kemurkaan luar biasa. Tubuhnya sedikit bringsut saat Marco hendak menyentuh tangannya.


Sementara Marco masih memasang wajah bingung, bingung dengan sikap Vanya yang mendadak aneh seperti ini.


Apakah aku salah bicara? Bukankah ini yang dia mau dari dulu?


Di tengah-tengah kebingungan Marco, wanita itu berbicara kembali.


"Ternyata aku memang benar-benar bodoh ya, Co! Kupikir kamu sungguh mencintaiku sesuai dengan ucapan dan gombalanmu kemarin-kemarin itu, ternyata aku salah menilai perasaan lawan bicaraku yang satu ini. Bukannya menguatkan saat dalam keadaan tertekan, kamu malah langsung ingin membuangku demi menutupi masalah yang datang melanda. Hebat sekali! Dititik ini hujatan orang di luar sana memang benar. Aku hanya sampah sumber masalah. keberadaanku bagai parasit pengganggu yang pantas untuk disingkirkan."


"Apa yang kamu katakan, Van? Aku tidak mengerti! Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan ingin pulang, kenapa kamu jadi menyalahkanku? Aku hanya mengiyakan kemauanmu saja!" Tangan Marco terulur hendak menyentuh Vanya. Namun lagi-lagi wanita itu menepis dengan gerakan kasar.

__ADS_1


"Lepaskan! Aku ingin pulang hanya untuk memastikan keadaan nenekku, tapi bukan berarti aku minta kamu melepaskanku secepat ini. Bukankah masih ada waktu satu tahun lagi? Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk melepaskanku sekarang?"


Marco membeku. Ia belum berani menafsirkan apa pun soal pertanyaan Vanya yang terkesan ambigu di telinganya.


"Kenapa diam? Jadi benarkan dugaanku, aku adalah sumber masalah, maka dari itu harus segera disingkirkan agar kamu bisa kembali bersama istri pertamamu!"


Sontak Marco mengernyit. Membentuk tiga kerutan lurus pada dahinya. "Semua yang kamu katakan sama sekali tidak ada di dalam pikiranku Van! Meskipun aku berniat melepaskanmu, tapi bukan itu sebab dari tujuanku."


"Oh ya?" Vanya membuang muka sekilas. "Lalu apa alasanmu? Bosan mempermainkan perasaanku? Itu, 'kan!"


"Astaga Vanya! Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu!" Marco mencampahkan napasnya frustrasi. Tubuhnya yang kurang mendapat istirahat cukup mulai tak bisa diajak bersahabat. Mata pria itu terasa perih dan lelah akibat kurang tidur. Yang ia inginkan saat ini hanya berdamai dengan keadaan. Itu saja sudah lebih dari cukup.


"Tidak perlu bingung. Lakukan apa saja yang menjadi kemauanmu! Aku akan pergi jika itu maumu!" tegas wanita itu.


"Sepertinya kamu salah paham. Aku sungguh tidak bermasud membuangmu. Apalagi bosan! Perasaanku masih sama dari dulu hingga sekarang! Hanya saja—"


"Hanya saja apa?"


Hanya saja aku tidak kuat melihatmu terus menangis karena semua ulahku. Penderitaanmu sudah lebih dari cukup!

__ADS_1


Teringat sesuatu, Marco mengalihkan pembicaraan dengan mengulang kalimat pamungkas yang kemarin diungkapkan Hero hingga pada akhirnya ia memberanikan diri melepas Vanya.


"Hanya saja seseorang pernah berkata, tingkatan tertinggi dalam mencintai adalah melepas dan membiarkan ia memilih jalan kebahagiaannya sendiri. Maka dari itu aku memutuskan untuk melepaskanmu mulai saat ini. Apakah aku salah? Bukankah itu keputusan yang benar?"


"Jadi menurutmu tingkat tertinggi dalam mencintai adalah seperti itu?" Vanya memicing sinis saat Marco mengangguk sebagai tanda mengiyakan. Akhir-akhir ini hatinya memang jauh lebih sensitif.


"Tapi menurutku bukan itu titik tertinggi dalam mencintai!"


Membuat Marco mengernyit sekali lagi. "Lalu apa? Katakan versimu. Aku ingin kita bicara baik-baik tanpa berdebat," ujar Marco lantaran otaknya sudah teramat buntu.


"Titik tertinggi mencintai versiku adalah; Saat di mana kamu selalu disakiti, dibohongi, dikecewakan, diberi harapan lalu dijatuhkan, tapi kamu masih bisa menguatkan diri sambil berkata, 'ayo bertahan sekali lagi'."


"Maksudnya apa? Jangan membuatku salah paham dengan kalimat ambigu yang sedari tadi kamu ucapkan!"


Vanya melengos ke arah lain untuk menghindari tatapan Marco yang menuntut. "Karena aku sudah mulai mencintaimu!"


Suaranya terdengar lirih, tapi masih dapat didengar jelas oleh Marco.


***

__ADS_1


Like, komen,


__ADS_2