
Vanya menendang kaki Hero kesal. Ia masih saja tidak terima dengan tugas yang disusun oleh pria sialan itu dan ingin memberi Hero pelajaran.
"Kau sekretaris sialan! Aku akan membunuhmu tuan Hero!" Vanya mulai bergerak menyerang. Sementara Hero mencoba menangkis dan menghalangi pukulan Vanya ke tubuhnya. Mereka berdua berteriak dengan suara marah Vanya yang mendominasi perdebatan.
Marco yang melihat perkelahian itu pun menjadi geram lantaran hawa panas merasuki rongga dadanya. Meskipun Marco tahu Vanya sedang dalam keadaan marah, tapi pemandangan itu tampak romantis saat ditangkap otak Marco. Mereka seperti sedang bercanda ria dan entah kenapa membuat hatinya terbakar.
"Hentikan Her! Hanya aku yang boleh menindas wanitaku!" tegas Marco sedikit membentak, masih dengan posisi duduk di singgasananya.
“Maaf Tuan, nona Vanya yang memukul duluan. Saya hanya sedang menjaga pertahanan diri dari serangan musuh.” Hero langsung menjauh beberapa langkah dari Vanya. Ia tahu bahwa bossnya sedang cemburu. “Kalau begitu saya permisi dulu.” Kalimat handal Hero keluar demi menyudahi drama tidak penting ini.
Pria itu menunduk sopan sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar. Namun saat ia baru memegang handle pintu, Marco langsung berseru kembali.
“Hari ini kita ada pertemuan rapat bukan?” Pria itu berdiri, dalam sekejap Marco sudah berpindah ke sofa. Tempat di mana Vanya sedang berdiri sambil memasang wajah kesal.
Hero berbalik menatap si tuannya kembali. Ia sedikit mengalihkan pandangannya saat melihat Marco sedang merengkuh tubuh Vanya dari belakang. Wanita itu tampak enggan dan tertekan, tetapi tetap membiarkan.
“Kita ada rapat bersama empat calon kolega bisnis yang ingin mengajak I-Mush Grup bekerja sama di lantai 5 setengah jam lagi,” tuturnya.
Sementara Marco mulai memasang seringai licik. Tangannya membelai ujung rambut vanya dan menghirupnya dalam-dalam layaknya bunga surga. “Biarkan aku dan Vanya yang datang. Kau di sini saja!”
__ADS_1
“Ta-tapi, Tuan!”
Tangan Marco terangkat satu, pertanda bahwa kemauan pria itu tidak dapat terbantahkan. “Aku bisa menangani ini sendirian. Kau tidak perlu takut,” sanggahnya, lalu mulai mengecupi tubuh Vanya di mana-mana.
Hero merasa bimbang antara ingin mengiyakan atau tidak. Hingga tanpa sengaja ia menatap lekat Marco yang sedang menjatuhkan bibirnya di ceruk leher Vanya.
Marco yang merasa kesal karena dianggap bahan tontonan langsung menyergah,
"Kenapa kau tidak pergi juga? Apa kau iri melihatku seperti ini? Suruh pacarmu yang ada di Amerika pulang sana! Untuk apa menjalin hubungan kalau hanya sekedar status," singgung Marco kesal lantaran wajah Hero tampak merona.
Pria itu tercekat gugup. "Ma-maaf tuan. Saya hanya khawatir karena biasanya kita selalu berbagi pendapat disaat rapat," ujarnya.
"Sudah kubilang tidak usah mengkhawatirkanku, aku bukan bocah, bahkan sebentar lagi akan membuat bocah, pergi sana!" usir Marco. Kali ini ia merasa geram dan terganggu dikarenakan Hero tak kunjung pergi juga.
Persetan dengan rapat itu! Biarkan saja Marco datang sendiri bersama Vanya yang tidak tahu apa-apa, toh itu merupakan kemauannya.
Pada akhirnya Hero menghempaskan tubuhnya di meja kerjanya sendiri. Ia mulai membuka layar CCTV untuk memastikan ruang rapat telah tersedia.
Perusahaan Marco adalah perusahaan yang bergerak di bidang managemen investasi sejak dari turun temurun. Di mana setiap harinya selalu ada yang datang ke kantornya untuk menawarkan berbagai produk dan bisnis menarik agar Marco mau bergabung dan menaruh sahamnya di sana.
__ADS_1
Seperti halnya perusahaan Adit yang ditolong oleh Marco, begitulah sistem kerjanya.
Selepas Hero kembali ke ruangannya, Vanya langsung menyentak dua tangan Merco. Ia membalikkan badan hingga keduanya saling berhadapan.
"Sebenarnya apa tujuanmu membawaku ke kantor ini, apa kau sengaja ingin mempermalukanku di depan teman bisnismu?"
Mata Vanya dipenuhi tanda tanya. Ia tahu persis seperti apa watak Marco. Pria itu tidak mungkin membawa Vanya ke kantornya hanya untuk bersenang-senang dan menikmati tubuhnya.
"Jika hanya bermanja-manja dan membuka paha, aku rasa di rumah pun bisa, 'kan?" tanya wanita itu lagi. Kali ini ekspresi wajah Vanya tampak lebih serius dari sebelumnya.
"Jenius!" tandas Marco seraya menyematkan anak rambut Vanya pada balik telinga. Pria itu berbisik pelan. "Sebentar lagi kau akan melihat pertunjukkan yang sesungguhnya Vanya. Bersabarlah sedikit."
Vanya yang agak merinding segera mengangsur tubuhnya dari jangkauan Marco. Apa dia akan mempermalukanku di depan teman bisnisnya karena aku norak dan bodoh dalam urusan perkantoran?
Vanya mulai menebak-nebak dengan sorot mata yang terus menangkap seringai penuh arti di bibir Marco. Jika Marco benar melakukan itu, bukannya ia akan dianggap CEO oon dan rugi sendiri pada akhirnya.
Bagaimanapun juga Vanya ada dipihak Marco sekarang. Mempermalukan Vanya di depan umum adalah bentuk menjatuhkan harga dirinya sendiri. Dan rasanya itu tidak mungkin terjadi.
Lantas ... apa rencana Marco sesungguhnya?
__ADS_1
***
netijen +62 hebat. Wkwkw. Aku minta komen 100, tapi maksudku 100 orang. Eh malah satu orang komen banyak banyak jatuhnya nyepam. yaudahlah, untung aku sayang sama kalian. ditunggu aja up berikutnya.