Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Enam Puluh Tiga


__ADS_3

Kebahagiaan perlahan menyelimuti hati Anna kali ini. Akhirnya tujuh tahun penantian dari rasa penasarannya terbayar sempurna lantaran dugaan gadis itu salah besar. Ciuman yang Hero lakukan tadi lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pacarnya bukanlah sosok homo. Berhasil mengusir hawa negatif yang selama ini merusak pikiran terkutuknya.


Sekarang ia tidak perlu menyumpal bra-nya dengan kaus kaki hanya demi menarik perhatian Hero. Sudah dipastikan pria itu dapat berdiri dan memiliki ketertarikan terhadap kaum hawa.


Ah, jadi malu. Ingatannya kembali pada peristiwa menjijikkan saat Anna mengajak Hero ciuman beberapa tahun lalu. Tak segan-segan ia menaruh dua kaos kaki di dalam bra-nya agar dada itu tambah menantang sekaligus merangsang. Namun, begitu tegasnya Hero menolak ajakan Anna dengan alasan tidak tertarik. Ternyata bukan Anna yang tidak menarik, tapi ada Marco, dalang di belakang semua keseganan Hero selama ini.


"Tiup lilinnya, Sayang." Anna sudah selesai menyanyikan satu lagu selamat ulang tahun ala-ala dengan bahasa Korea. Membuat pipi Hero merona dan menatap lilin cantik yang tertata indah di atas kue yang dipegang Anna saat ini.


"Kamu terlalu berlebihan. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Satu kalimat yang Hero ucapkan  berhasil membuat Anna merengut masam.


"Maka dari itu aku ingin melakukannya denganmu," sungut Anna.


Buru-buru Hero meniup lilinnya agar anak itu tidak jadi marah. Lalu mengusap kepala Anna sedikit gemas layaknya anak kucing.


"Kamu berdoa apa? Kenapa cepat sekali?" tanya Anna kesal. "Jangan-jangan tidak berdoa ya?" tebaknya kemudian.


Hero tersenyum. "Aku berdoa. Doa itu rahasia. Kamu tidak boleh tahu. Dasar kepo!"


"Pacar pelit!" mencibir kesal dengan seluruh jiwa raga yang menahan geram.


Hero mencolek butter cream yang menghiasi kue ulang tahunnya. Dengan iseng menaruhnya pada hidung Anna.


"Ikhhh," decak gadis itu makin sebal.


Sedetik kemudian suasana hatinya kembali berubah saat bibir Hero menyambar hidung Anna tanpa permisi. Menyapu bersih cream cake di permukaan hidung Anna dengan lidah hangatnya. "Rasanya jauh lebih nikmat jika seperti ini," ucap Hero seraya mengelap sudut bibirnya. Ia mengambil cake di tangan Anna tanpa berpaling dari wajah merona itu sedikit pun. Lantas menaruhnya ke atas meja.


Anna lekas memalingkan wajah. Darahnya berdesir bersamaan dengan degub jantung yang kian meletup-letup.


"Sini ...." Menarik tangan Anna hingga tubuh mereka saling bertabrakan. Membuat suasana di ruang teve itu sedikit panas siang ini. "Terima kasih untuk semuanya. Momen indah ini tidak akan pernah kulupakan. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Aku sayang kamu," lirihnya kembali tersenyum.


"Hmmm." Anna menjawab tanpa kata. Matanya beerkeling gugup lantaran jarak duduk mereka terlalu dekat. Ia bahkan dapat merasakan aroma mint menyegarkan yang keluar dari mulut kekasihnya.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu memerah?" tanya pria itu menggoda. "Apakah ruang ini terlalu panas?"


"Kaaaakk!" Anna berdecak. Masih berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan liar Hero kepadanya.


"Setelah ini kita ke rumahku, sudah lama aku tidak berkunjung ke sana. Jika kamu tidak mau pulang menemui orang tua kandungmu, lebih baik kita ke rumahku saja. Kamu mau, 'kan?"


Anna menjawab dengan anggukkan pelan.


Hero tersenyum penuh arti. Sejujurnya ia tidak ingin pulang. Namun ratusan setan yang terus menggodanya sedari tadi membuat pria itu harus segera mengambil langkah seribu agar jangan tinggal berduaan dengan Anna di tempat mendukung seperti ini.


Belum selesai Hero berpikir, naluri kelelakiannya kembali datang merangsang otak. Membuat wajah itu maju dalam sekejap. Kemudian menjatuhkan satu sesapan lembut pada bibir merah muda di depannya.


Anna terpejam diikuti permainan Hero. Lagi-lagi ia hanya dapat menahan desahan dari permainan bibir mereka. Pertukaran saliva cukup lama pun terjadi hingga keduanya melepas lantaran kehabisan pasokan udara.


Hero menatap Anna dengan wajah tertahan. Menahan gairah yang sedang berusaha ia kendalikan sedari tadi. "Maaf, aku tidak dapat menahan hasratku."


"Tidak papa," lirih gadis itu malu-malu. Bibirnya masih terasa kebas oleh sapuan lidah Hero yang meluluhlantahkan semua rasa di tubuhnya.


"Kamu deg-degan ya?"


"Sangat," jawabnya pasti. "Pria normal mana yang bisa tahan saat dekat-dekat gadis ajaib sepertimu."


Membuat Anna melambung bahagia dan menenggelamkan kepalanya di dada Hero semakin dalam.


Hari ini a**ku terlalu senang sampai dadaku terasa sesak.


***


Nadia menjadi sasaran Marco saat pria itu mendapat kabar tentang Hilangnya Vanya. Berbagai umpatan dan makian pria itu sudah tak terkontrol lagi sampai Nadia menangis tak tahan.


Marco langsung mengerahkan beberapa penjaga untuk menyusuri mall dan mencari info keberadaan Vanya. Nadia yang masih berada di lokasi hanya bisa menangis tanpa berbuat apa-apa. Membuat Marco geram saat melihat wajahnya melalui panggilan video.

__ADS_1


Beberapa menit setelah kehebohan, Adit yang sudah sampai di rumah sakit terlebih dahulu segera mengabari Marco atas permintaan Vanya. Marco langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit.  Sesampainya di sana, ia langsung berlari menuju ruang perawatan Vanya. Ia nyaris menerjang suster yang baru saja mengganti infus baru di ruangan Vanya.


"Kamu tidak papa?" Marco mendekap Vanya erat sekali. Di mana Adit segera menyingkir untuk memberi ruang bagi keduanya.


Adit masih berdiri tak jauh dari mereka. Pandangannya ingin berpaling, tapi sebagian hatinya penasaran ingin menyaksikan. Hatinya sangat sakit melihat Vanya dikhawatirkan oleh pria lain sampai seheboh itu.


"Terima kasih sudah mengabariku," ucap Marco pada Adit. Ia hanya menoleh sedikit tanpa melepas pelukannya pada Vanya. Seakan ingin membuat Adit cemburu dengan jalur sengaja.


"Sama-sama. Itu sudah tugasku," ujar Adit datar.


Marco beralih meneleti seluruh tubuh Vanya kembali. "Kamu baik-baik saja, kan? Mana yang sakit? Nadia benar-benar keterlaluan! Aku sudah menyuruhnya membawa bodyguard, tapi dia membantah perintahku begitu saja. Aku sangat kesal padanya. Kalau dia tidak membantah, kamu tidak mungkin bernasib seperti ini."


"Ini bukan salah Nadia," lirihnya sedikit malu. Ada kelenjar aneh yang merangsang tubuh saat Vanya mengatakan itu.


"Lalu kenapa? Apa yang dokter katakan? Bayi kita baik-baik saja, 'kan?"


Marco melepas pelukannya. Beralih menatap Vanya dengan penuh tanda tanya. Deru napas pria itu masih tidak beraturan karena berlari sekuat tenaga di sepanjang koridor tadi.


"Dokter bilang ...." Vanya menjeda ucapannya sejenak. Menatap jarum infus yang menancap di tangan guna menetralkan pikirannya sedikit. "Kita tidak boleh terlalu sering melakukan itu. Emmm ... maksudnya, usahakan aku tidak mencapai puncak lebih dari satu kali agar tidak menimbulkan pendarahan."


Vanya tertunduk malu setelah mengatakan semua itu. Ia tebak, pasti Adit akan mengira bahwa hubungan mereka terlalu baik. Padahal Marco jarang sekali menyentuhnya, baru tadi malam setelah sekian lama tak bersentuhan.


"Ah, maaf. Aku tidak tahu bahwa hal itu dapat membahayakan bayi kita. Kupikir timbal balik dalam suatu hubungan sangat perlu. Makannya aku melakukan itu untukmu juga."


Adit sedikit tersindir mendengar ucapan Marco barusan. Ia yang lebih suka memuaskan selingkuhannya pun merasa berdosa. Kini istrinya seratus persen berpaling. Ia terpuaskan oleh laki-laki lain.


Sebagai lelaki normal, Adit dapat membaca ketulusan cinta yang terukir jelas di wajah Marco untuk Vanya. Menghancurkan harapan besar tentang kebersamaannya dengan Vanya di masa yang akan datang.


Jadi aku ke sini hanya untuk menonton kemesraan mereka? Melihat betapa indahnya hubungan ranjang keduanya sampai aku benar-benar marah dan iri.


***

__ADS_1


Jangan lupa komen dan like.


__ADS_2