Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Empat Puluh Satu


__ADS_3

"Ya Tuhan Vanya!"


Dari dalam rumah, nenek berlari tergopoh-gopoh menghampiri cucunya yang baru saja keluar membuka pintu mobil.


Nenek langsung memeluk Vanya dengan linangan air mata pedih. Saat mendengar dari mantan rekan kerjanya bahwa Vanya nyaris menjadi korban pemerkosaan tuan Syam, nenek langsung khawatir bukan main.


Ia sudah menebak bahwa Syam yang selama ini baik dan suka memberi upah buruh cuci lebih pada Vanya memiliki niatan terselubung.


"Maafkan aku, Nek!"


Ella yang sedang berada di gendongan Marco sampai dibuat terheran-heran karena nenek memeluk Vanya dengan erat sambil menangis tersendu-sendu.


Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin itu yang ada dipikiran Ella saat ini.


"Sudah nenek bilang menurutlah pada suamimu! Kenapa kamu bandel sekali, Vanya! Kurang apalagi Marco ... dia sudah melakukan banyak pengorbanan untuk membuktikan ketulusannya. Sudah saatnya kamu hilangkan trauma dan mulai percaya pada suamimu sendiri!"


Ucapan nenek terdengar menyayat di telinga Vanya. Ia seperti mendapat hujaman tajam tak kasat mata pada bagian hati terdalamnya. Meskipun terdengar marah sekali, namun Vanya tahu bahwa nenek sedang mengkhawatirkan keadaannya.


"Maaf Nek, maaf!" Vanya ikut meraung-raung di pelukan nenek. "Mulai sekarang Vanya akan menurut pada Marco. Apa pun itu!"


Pria yang tengah berdiri tak jauh dari mereka tersenyum puas. Marco memilih pergi ke halaman belakang bersama Ella yang masih berada di gendongannya karena takut mendapat pertanyaan aneh-aneh dari gadis kecil itu tentang Vanya dan nenek yang sedang mengharu biru.


"Mama dan nenek kenapa, Pa? Kok menangis seperti itu?" Belum hilang dugaan di pikiran Marco, Ella langsung bertanya kepadanya. Pria itu mengecup pipi Ella sekilas karena gemas.


"Nenek hanya takut mama kenapa-napa. Makanya menangis dan khawatir. Kan nenek sayang pada mama."

__ADS_1


Tentunya jawaban standar Marco tak membuat Ella percaya begitu saja.


"Bukannya tadi mama bilang hanya terjatuh di perkebunan apel? Katanya juga wajah mama tidak papa. Hanya luka ringan. Kok sampai menangis seperti itu, Pa?"


"Iya terjatuh! Memang sudah tidak kenapa-napa. Buktinya tadi mama tidak menangis, kan?"


Kini keduanya tengah duduk di samping pelataran rumah halaman belakang. Tempat di mana Ella suka menghabiskan waktu bermain apa saja bersama papa dan mama tercintanya.


Gadis itu mendongak. Membingkai penuh wajah hangat Marco dengan bola mata polosnya. "Kalau jatuh kok ngomongnya gitu? Kenapa nenek bilang kalau mama gak nurut sama papa Marconah? Memangnya Mama gak nurut apa si, Pa?"


Pertanyaan Ella semakin melebar ke mana-mana. Marco sampai dibuat pusing harus menjawab dengan cara apa.


"Hmmm. Memang mama tidak menurut." Marco berusaha untuk tidak menutup-nutupi semuanya agar Ella tidak begitu curiga. Gadis kecil itu masih belum bisa jika diajak komunikasi lebih. Apalagi mengenai percobaan pemerkosaan yang terjadi pada ibunya.


"Tidak nurutnya kenapa, Pa?" Masih terus bertanya menunggu penjelasan.


"Ooo! Jadi kalau jadi mama tidak boleh bekerja ya, Pa? Hanya yang jadi papa saja yang boleh bekerja? Padahal kalau Ella sudah besar ingin kerja juga seperti mama," ucapnya polos.


Marco sedikit tergelak mendengar pertanyaan putri semata wayangnya . Wajar sih ... di usia seperti itu Ella memang sedang aktif-aktifnya dalam menyerap informasi sekitar. Apa pun yang ingin dia diketahui akan terus ditanyakan oleh gadis kecil itu. Herannya ... Ella tidak akan berhenti bertanya sebelum Marco menjawab pertanyaannya secara masuk akal versi anak-anak.


"Tidak seperti itu Sayang. Perempuan boleh bekerja hanya sebatas mereka belum menikah saja. Setelah mereka menikah, ada baiknya perempuan di rumah mengurus anak-anaknya. Biar si suami yang kerja karena tugasnya memang seperti itu. Si suami ini yang biasa dipanggil papa ... dan si istri dipanggilnya mama."


"Ooo begitu!" Gadis kecil itu mengangguk setelah merasa cukup. Lantas membahas hal-hal lain yang ingin ia ketahui. "Suami istri itu yang boleh tidur bareng kan, Pa? Soalnya mama pernah bilang, kalau Papa harus tidur di kamar Mama karena Papa adalah suaminya Mama."


"Hahah, iya Sayang!" Marco rasanya ingin memeluk tubuh gadis kecil itu seerat mungkin.

__ADS_1


"Tapi kalau mau jadi suami istri harus menikah? Betul 'kan, Pah?"


"Betul sekali Sayang!" Tak tahan, akhirnya pria itu merangkul dan memeluk Ella gemas sekali. Sesayang ini ia pada gadis kecil yang wataknya nyaris menyerupai dirinya. Posesif, bawel, dan tentunya pecemburu akut sejak lahir.


"Oh ya ... Pa!" Ella kembali menyembul dari balik dekapan sang papa. Matanya berbinar polos. Ia suka menghabiskan waktu dengan mengobrol banyak hal-hal seperti ini bersama papanya.


"Apa tuh!" Marco tersenyum menatapi mata anaknya yang tak berhenti antusias dalam bertanya.


"Kalau Mama lagi duduk di atas Papa, itu lagi ngapain sih?"


Duarrrrrr.


Seketika Marco terhempas dari peradaban. Ia tertegun sembari menelan ludahnya dengan susah payah.


"Da-dari mana kamu tahu itu Ella?" Kulit wajahnya memucat seketika. Jatuhnya yang sempat berhenti berdetak serasa lolos ke dasar perut.


"Waktu itu, waktu Ella tidur bertiga sama Mama dan Papa! Itu lagi ngapain si, Pa? Masa malam-malam mama duduk di perut papa? Memangnya tidak berat?"


Marco menepuk jidatnya saat itu juga.


Ah ya ampun! Jawaban apa yang harus kuberikan pada gadis kecil bemulut kejam satu ini?


***


Bab selanjutnya udah aku siapin. 200 komen dulu ya. Jangan lupa juga dukung karya aku. Kasih bintang sebanyak banyaknya. Gak usah kasih poin bunga dan kopi di sini karena kurang berguna kalau g masuk 20 besar. Entar kalo banyak yang dukung aku kan jadi mangat nulisna. Mueehehe

__ADS_1



__ADS_2