Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

"Baguslah kalau begitu. Berarti mulai nanti malam kamu tidur dengan Ella saja, ok. Malam ini aku harus mulai mengasingkan diri agar tidak dimakan oleh buaya lepas," sungutnya acuh tak acuh.


"Kok begitu?" Marco menoleh. Tentu saja matanya memancarkan aura penolakan yang sangat kentara. "Mana ada peraturan seperti itu! Jangan mengada-ada!"


"De-mi ke-se-la+ma-tan bayi kita SAYANG! Seharusnya kamu tidak boleh berkunjung dulu sampai bayi kita lahir." Vanya tersenyum bangga saat berhasil meruntuhkan harapan Marco. "Ingat! KESELAMATAN BAYI KITA," ujarnya lagi sambil menekankan nada bicaranya pada setiap kalimat. Ia terkekeh geli dalam hatinya.


"Masa si begitu? Memang ada peraturannya?"


"Ada lah! Bidan dan dokter biasanya berkata seperti itu," ucapnya dengan bangga.


Ck.Tak disangka Marco justru tertawa geli. Membuat Vanya melotot menunjukkan ekspresi setengah marah. "Kenapa malah ketawa? Memang ada yang lucu," kesalnya.


Marco melipat bibirnya sejenak untuk menahan tawanya.


"Tidak ada ... hanya saja tadi aku sudah konsultasi sendiri dengan dokter kandungan mengenai hubungan suami istri. Katanya aku boleh berkunjung kapan saja karena bayi kita sangatlah sehat. Selama tahu teori dan melakukan dengan hati-hati, hubungan ranjang kita tidak akan jadi masalah." Marco berbicara dengan nada sombong sekali.


Membuat Vanya memicing sinis dengan pipi merona merah.


"Yang seperti itu sampai kamu tanyakan? Serius kamu tanyakan? Dasar pria tidak tahu malu! Iskh!" Lantas menggeleng kesal setelahnya. Benar-benar kesal sampai ia ingin menggigit jari-jari tangan Marco sampai putus.


"Tentu saja Sayang. Selain menjaga kesehatan bayi dan ibunya, menjaga keharmonisan rumah tangga juga perlu. Malahan sangat wajib agar hubungan kita semakin manis setiap waktu. Iya, 'kan!"

__ADS_1


"Dasar gila!" Vanya berdecak kesal setelah mengatakan itu.


"Kenapa lagi ini?" Pria itu mengelus puncak kepala Vanya. Di mana wanita itu langsung menyingkirkan tangan Marco karena kesal.


"Jangan pegang-pegang! Bangunkan aku jika sudah sampai. Aku ngantuk!" Vanya bergeser memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia tak mau melihat ekspresi bahagia Marco saat sedang meledek dengan tawa mengejek. Namun, selang beberapa detik kemudian Ella menjerit.


Huaaaaaaa!!!!!


Ella yang tak tahan mendengar suara berisik-berisik sedari tadi mulai merengek dan terusik.


"Tuh 'kan Ella jadi bangun!" Satu pukulan melayang di lengan Marco. Padahal sumber suara berisiknya berasal dari Vanya yang sejak tadi tidak bisa mengontrol volume bicaranya.


Marco hanya diam saat Vanya bersikap seperti itu. Ia terkesan santai karena berpikir sifat Vanya pasti bawaan bayinya.


Ia melanjutkan kegiatan mengemudinya. Membiarkan Vanya berpindah ke kursi belakang untuk memangku Ella dalam dekapan.


Vanya mengambil Ella dan menaruhnya di atas pangkuan. Tangannya menepuk-nepuk punggung gadis kecil itu pelan sambil sesekali mengembuskan napas kasar. Kapan sampainya kalau begini, pikir Vanya kesal.


"Mama!" Gadis kecil itu merengek. Bola matanya yang semula tertutup mulai terbuka penuh. "Lamaaaa!" lirihnya tak tahan.


Vanya menatap wajah Marco dari kaca penumpang dengan mata melotot sebal. "Tuh 'kan! Ella sudah tidak tahan! Apa kamu masih ingin mengendarai mobil seperti ini terus sampai rumah?" tandasnya kesal.

__ADS_1


"Tapi—"


Ella kembali berteriak. "Huaaa! Lama mama! Ella tidak syuka lama-lama di sini. Ayo turun saja mama!"


"Iya ... iya!" Akhirnya Marco mengalah dan menaikkan laju mobilnya pada batas normal. Ia hanya ingin menjadi suami idaman. Kenapa susah sekali si, pikirnya dalam hati.


Ella kembali diam saat mobil bergerak lebih cepat. Tak sampai sepuluh menit lagi mereka akan sampai di rumah.


"Mau minum?" tanya Vanya pada Ella.


Gadis kecil itu justru menggeleng. Kepalanya menunduk sambil memandang perut datar ibunya.


"Ella mau turun Ma! Sekarang Ella nggak mau dipangku Mama lagi!"


"Loh, kenapa?" Dahi Vanya berkerut dalam.


"Ini!" Ella mengusap perut Vanya. "Ella takut dedek bayinya keberatan. Dia lagi ada di dalam sini 'kan, Ma? Nanti kalau Ella dipangku dedek bayinya kasian. Bisa sesak napas!"


Ah, ya ampun! Vanya meringis geli mendengar gaya bicara Ella yang polos dan sok perhatian. Lucu sekali si anak kecil ini, pikirnya.


***

__ADS_1


Dua bab untuk kamu yang sabar menunggu


__ADS_2