Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Tiga


__ADS_3

"Tolong berikanlah kesempatan sekali lagi untuk suamimu yang berlumur dosa ini, Van! Aku janji ini yang terakhir kalinya. Jika aku sampai mengecewakan lagi kamu berhak mengambil langkah dan keputusan apa pun untuk hubungan kita kedepannya." Suara tangisan penuh penyesalan itu cukup membuat hati Vanya merasa tersayat-sayat belati tak kasat. Tanpa sadar jarinya bergerak seirama mengelus punggung lebar pria itu.


Apa yang harus ia lakukan? Memaafkan, atau justru menuruti ego yang tak kunjung hilang.


"Asal kamu tahu! Di saat kamu menderita dan tersiksa, aku jauh lebih gila dari yang kamu rasakan! Apa kamu tahu rasanya hidup dalam kubangan lara dan derita tanpa bisa berbuat apa-apa? Itulah yang aku rasakan selama empat tahun belakangan ini, Van!" Tangannya bergerak menggenggam jemari Vanya di bawah sana. Terasa basah dan sangat mengetat.


Tak cukup dengan itu, Marco menarik tubuh pasrah Vanya ke dalam dekapannya.


"Jadi tolonglah aku sekali lagi, izinkan aku bahagia dengan cara membahagiaan kamu dan Ella! Hanya itu inginku, hanya kalian tujuan dan alasan aku masih ingin bertahan hidup!"


Vanya tertegun menelan saliva. Ada banyak kata makian yang ingin dilontarkan melintas di atas kepala. Namun, bibirnya kelu dan kaku bersamaan dengan tubuh terpaku yang terus dipeluk erat oleh Marco.


Beberapa saat mereka terdiam dalam balutan perasaan hangat satu sama lain. Sampai akhirnya Vanya merasa cukup dan melepas tautannya bersama Marco.

__ADS_1


Keputusan pun diambil Vanya dengan berat hati. "Maaf .... Aku belum bisa memaafkanmu begitu saja. Hatiku masih belum ikhlas," lirih wanita itu hampir tak terdengar. Titik-titik air mata mulai jatuh membasahi pipinya. "Tapi kalau kamu mau berusaha mengejarku ya silakan, itu hakmu!"


Mendengar itu Marco merasa memiliki sedikit cela dan harapan. Wajahnya yang semula muram berubah sumringah. "Tidak apa Van! Yang penting kamu mengizinkanku mengejarmu kembali itu lebih dari cukup. Aku akan berusaha menggunakan kesempatan ini untuk meyakinkan hatimu sampai kamu mau menerima dan memaafkanku," ucapnya.


Marco hendak memeluk kembali saat Vanya mundur satu langkah, sengaja menciptakan jarak di antara mereka berdua.


"Lebih baik kamu ambil dulu hati Ella. Dia jauh lebih membutuhkan sosokmu dibandingkan aku!" ketusnya seraya mengelap cairan bening di sudut-sudutnya mata.


"Pasti Van! Pasti aku akan melakukan hal itu! Kalian berdua adalah prioritasku!" jawab Marco logis. "Sebisa mungkin aku akan mengganti semua waktu kalian yang hilang dengan penuh kasih sayang. Terima kasih Van, terima kasih telah memberiku kesempatan berharga ini."


"Istirahatlah, aku mau pergi!"


"Aku masih kangen, Van!" tahan pria itu mulai kembali berani. “Bisakah kamu temani aku di sini sebentar saja?”

__ADS_1


"Aku belum memaafkanmu Marco! Sebaiknya jaga sikapmu! Kebersamaan kita yang kamu pikirkan masih sangat jauh karena hatiku masih dilanda kegersangan!"


“Maaf.” Marco terpaksa melepas cekalannya pada lengan Vanya. Ia membiarkan wanita itu pergi dan menghilang di balik pintu. Segini sudah lebih dari cukup, berusaha terlalu keras tidak akan membuat tujuan kita cepat berhasil, pikirnya.


Mata pria itu teralihkan saat melihat foto Ella yang sedang digendong Vanya. “Bahkan jika aku harus mengejar kalian seumur hidup, itu bukan masalah berat untukku!”


Kakinya melangkah menuju dinding tembok, di copotnya bingkai itu dan dipelukan begitu sangat erat.


"Aku memang tidak tahu seperti apa kehidupan kalian berdua selama empat tahun ini, tapi aku yakin Tuhan tidak tidur! Di saat kalian menderita dan sengsara, mungkin hukuman yang Tuhan berikan untukku jauh lebih berat!"


***


Komen dan Like sebanyak-banyak ....

__ADS_1


Hargai cerita ini cukup dengan keantusiasan kalian terhadap ceritanya. 🙏🙏🙏.


__ADS_2