Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Lima Puluh Tiga


__ADS_3

Hallo, maaf ya, kemarin Nana libur nulis dulu. Baru mulai aktif lagi hari ini. Sabar ya, kasih part uwu uwu dulu sebelum masuk ke konflik. Biar tau kehidupan semuanya.


***


Di sisi waktu lain, seorang sekretaris yang selalu setia pada tuan Marco sedang sibuk menikmati rutinitas paginya. Ia tampak hikmat menyesap secangkir jahe merah dengan tangan yang sudah aktif membentangkan koran pagi yang diantar oleh jasa layanan apartemen setiap jam 6.30 pagi.


Koran Pagi


Seorang remaja ABG dicekok miras dan diperkosa model cantik tiga hari tiga malam, tak terima dia pun segera membuat laporan ke pihak kepolisi.


"Aduh, ya ampun! Jadi pengin." Hero menepuk jidatnya sedikit geram. "Semoga aku yang jadi korban selanjutnya deh," ratap pria itu penuh harap. Sambil berpikir kenapa nasib orang lain bisa semujur itu. Sedangkan ia selalu bernasib sial lantaran harus berhubungan jarak jauh dan hanya berkomunikasi lewat virtual.


Hero terpaksa melakukan itu dengan kekasihnya selama bertahun-tahun lantaran sang kekasih masih dalam tahap menimba ilmu di negeri orang.


Ia juga tidak mau terlalu menuntut banyak pada kekasihnya. Bagi Hero, akan jadi apa hubungannya nanti biarlah menjadi urusan Tuhan yang mengatur segalanya.


Ting ... Tong


Ting .... Tong.


Ting .... Tong


Suara bell yang berbunyi tak sabaran membuat Hero mengernyit dalam. Ia melirik jam yang tergantung di atas dinding, menatap angka yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi sambil meletakkan koran yang sedari tadi menemani kegiatan sarapan paginya.

__ADS_1


Siapa?


Bertanya dalam hati seakan tamu yang datang dapat mendengar suara hati Hero. Pria itu bangkit dari meja makan, lantas melangkah pelan menuju pintu untuk melongok siapa orang tak tahu diri yang datang bertamu sepagi ini.


Anna?


Dia sedikit terkejut saat mengintip digital security viewer, dan mendapati kekasihnya tengah berdiri memegang gagang koper sambil menunggu pintu terbuka.


"Aku harus apa?"


Hero mulai keringat dingin. Sekujur tubuhnya kaku lantaran terlalu gugup dan terkejut. Ini bukan mimpi, 'kan? Begitulah mata Hero berbicara, masih dalam keadaan membola lantaran tak menyangka kekasihnya mau jauh-jauh datang dari luar negri hanya untuk menemui dirinya.


Kaki pria itu sudah berbalik dan hendak membersihkan diri, namun ia urungkan dengan cepat karena takut Anna terlalu lama menunggu.


"Ehemm." Hero berdeham untuk meredam perasaan gugup. Secepat kilat ia membuka pintu setelah sukses memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Surpriseee!" Anna berteriak Heboh. Senyumnya mengembang lebar dengan dua tangan mengepang seperti sayap—siap untuk memeluk tubuh besar kekasihnya. Namun bukannya pelukkan yang ia dapat, Anna justru mendapati kekasihnya bersikap acuh tak acuh melihat kehadirannya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu datar. Lantas berbalik dengan langkah santai dan meninggalkan Anna yang masih berdiri di pintu luar tanpa menyambutnya sama sekali.


"Hei!" Gadis berdarah Asia-Amerika itu memutar bola matanya, heran. "Jadi ini sambutanmu untukku? Padahal aku sudah jauh-jauh datang dari Amerika hanya untuk merayakan ulang tahunmu."


Ana menggerutu seraya menyeret kopernya masuk ke dalam, menutup pintu dan langsung mengejar Hero yang tampak tidak senang melihat kedatangannya.

__ADS_1


Dipeluknya punggung pria itu dari arah belakang penuh kasih sayang, sementara koper sudah Anna campahkan di samping pintu dengan sembarangan.


"Aku kangen banget sama kamu, Sayang. Maafin aku ya," lirih Anna.


Hero memutar tubuhnya seperti gerakan dansa, kemudian mencekal kedua lengan Anna agak sedikit kasar. "Kamu pikir lucu, Ann?"


Tatapan Hero sengaja dibuat tajam hingga Anna langsung terhenyak melihat wajah kekasihnya yang sudah berubah marah.


"Maafkan aku, Sayang. Sungguh, foto mesraku bersama pria yang kuunjukkan padamu kemarin hanyalah keisenganku semata. Aku sengaja membuatmu kesal terlebih dahulu agar aku dapat memberikan kejutan seperti ini."


Hero masih menajamkan pandangannya tanpa peduli. Apa pun alasan yang Anna berikan, ia tetap tidak suka melihat kekasihnya pamer foto mesra dengan pria lain. Meksipun tujuannya untuk membuat surprise dihari ulang tahun Hero sekali pun.


"Lagi pula ia juga sepupuku," imbuh Anna lirih. Dan kini sudut matanya mulai memanas pertanda bahwa cairan bening akan segera tumpah dari singgasananya.


"Bukankah kamu sudah tahu bahwa aku tidak menyukai hal-hal semacam itu, Ann?" Suara Hero mulai diperendah. "Aku tidak butuh kado apalagi kejutan darimu, cukup jadilan kekasih yang tidak banyak neko-neko, itu sudah cukup untukku."


"Maaf, aku pikir Kakak akan menyukainya." Anna sudah mengganti panggilan sayang menjadi kakak. Pertanda bahwa gadis itu kecewa pada sikap Hero yang tidak ada toleransinya sama sekali.


Hero dan Anna memang memiliki perbedaan umur yang cukup signifikan. Mereka sudah berpacaran semenjak Anna masih duduk di bangku SMA. Di mana sekarang gadis itu sudah berumur 24 tahun, dan Hero sudah menginjak usia 32 tahun. Wajar jika cara berpikir Hero lebih mengarah pada keseriusan, sementara Anna masih menyukai hal-hal yang berbau manis dan mendrama seperti surprise-nya kali ini.


***


Bantu kasih dukungan lewat komen dan hadiah poin gratisnya ya. Terima kasih. Hehe

__ADS_1


__ADS_2