
Aroma kecanggungan benar-benar menyelimuti keduanya saat ini. Sesuai permintaan Marco, mereka berdua saling menghangatkan tubuh dengan metode skin to skin. Saling mengeratkan pelukan dengan posisi Vanya yang duduk di pangkuan Marco menghadapnya. Ia hanya mengenakan penutup tipis yang membalut dua bagian sensitif atas bawah.
Suhu udara yang sangat rendah tidak bisa mereka taklukan dengan keadaan baju basah. Terpaksa menggunakan cara itu walau sebenarnya Marco tidak nyaman dengan keadaannya sekarang.
"Sampai kapan kita berada di posisi seperti ini?" Suara Vanya memecah keheningan.
"Sampai baju kita kering, karena menggunakan baju basah di saat suhu udara rendah dapat membuat kita terkena hipotermia." Sama halnya dengan Vanya, pria itu menggeliat risi saat benda mengeras di bawah sana terasa pegal akibat timpaan berat tubuh Vanya.
"Aku sudah tidak nyaman dalam keadaan seperti ini!"
Seolah paham, Marco berusaha meredam pikiran buruk wanita itu. "Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam!"
Tubuh Vanya justru merespon hal lain setelah mendengarkan kalimat ambigu itu. Rasanya serba salah, Vanya sedang dalam kondisi gila karena berperang dengan isi kepala.
Diletakkannya dagu runcingnya di atas bahu Marco. Wanita itu merasa detak jantung Marco yang berdentam dengan irama cepat. Namun pria itu berusaha stay cool seolah tubuhnya sudah mati rasa.
"Co!" Vanya melirih. Nadanya suaranya seperti ingin mengatakan sesuatu yang sulit diutarakan.
"Iya, ada apa?" Marco dapat merasakan tangan Vanya melingkari tubuhnya semakin erat dan agak sedikit gemetar.
"Mengenai masalah kita—" Bicaranya terjeda karena harus meraup oksigen untuk mengisi paru-paru sebanyak-banyaknya. "Sepertinya aku akan berusaha memaafkanku."
Membuat bola mata pria itu melotot. Merasakan darahnya berdesir dari ujung jari ke seluruh penjuru tubuh. "Kamu serius?"
__ADS_1
Ia lepas pelukan itu tanpa sadar sebagai bentuk ketidakpercayaan.
Tangannya menggenggam jemari beku Vanya, membuat wanita itu merona karena Marco dapat melihat tubuh bagian depannya dengan sangat jelas.
"Demi Ella. Aku melakukannya demi Ella!" Wajahnya berpaling canggung. Tak kuat jika harus membalas tatapan Marco yang begitu dalam menghayati peran.
Meskipun diucapkan dengan nada ketus dan jutek, Marco sudah sangat bersyukur sekali mendengar keputusan Vanya. Akhirnya wanita itu luluh juga, pikirnya.
"Tidak masalah Van, yang seperti ini saja aku sudah bahagia luar biasa! Terima kasih, akhirnya kata yang kutunggu-tunggu terucap juga. Kali ini aku akan berusaha melakukan yang lebih baik lagi!" Kalimat itu Marco ucapkan dari lubuk hatinya yang terdalam. Penuh rasa semangat yang membara-bara.
“Terserahmu saja!”
Pria itu kembali mendekap erat tubuh polos Vanya. “Aku cinta kamu Van!”
Jantung wanita itu seperti hendak melompat.
Kalimat cinta yang biasa ia dengar dari bibir Marco serasa berbeda saat diucapkan dengan keadaan tubuh sama-sama polos.
Entah maksudnya apa, tapi otak terkutuk Vanya melanglang buana semakin gila. Menganggap bahwa kalimat itu adalah sebuah ajakan ke taraf bercinta.
“Kenapa tidak dijawab, Van?” Dahi pria itu membentuk tiga kernyitan lurus. Matanya sengaja diperteduh agar terkesan menunggu jawaban.
“Kamu sudah tahu jawabannya apa! Perasaanku masih datar, belum bisa pulih,” cetus wanita itu semakin mengalihkan pandangannya ke mana pun.
__ADS_1
Entah kenapa juga ia tidak berani melihat wajah Marco. Ia merasa pria itu sedang menjadikan bagian sensitifnya sebagai pemandangan indah. Padahal Marco sendiri sedang memperhatikan wajah Vanya yang sejak tadi merona menahan kegelisahan.
“Iya, iya! Aku hanya bercanda.” Pria itu menangkup dua sisi wajah Vanya. Memaksa wanita itu membalas tatapanya. “Tatap wajahku sebentar, Van!”
Respon Vanya sedikit menggeliat. Membuat anggota tubuhnya sendiri meremang lantaran kulit mereka saling bergesekkan.
“Kamu masih dingin?”
Wanita itu menggeleng samar. Ingin rasanya ia berlari menembus hujan andai tidak ada hawa dingin yang menyerang tubuhnya kini.
“Tapi tubumu gemetar, Van!”
Sialan! Marco tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, sih? Vanya benar-benar merasa sedang digoda imannya.
"Tidak tahu!"
Mati-matian ia berusaha menolak situasi gila macam ini. Namun, Marco justru mencondongkan kepalanya, menyentuh dagu wanita itu dengan ujung telunjuknya.
"Maaf, sepertinya aku harus—"
***
Komen, like, dan like....
__ADS_1