Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Delapan Puluh Tiga


__ADS_3

Sekarang Marco sudah berada di kantor. Sudah lebih dari 10 jam pria itu berjibaku di ruang kerja bersama Hero untuk mengurus semua.


Mereka tampak sibuk mengecek data dan mendalami kasus yang menimpa perusahaannya.


"Bagaimana, apa kau sudah menemukan titik terang?"


Hero memutar laptop dan mengarahkannya  pada Marco. Mereka berdua sedang diskusi di ruang rapat sekarang.


"Sepertinya perusahaan yang menyerang kita cukup kuat. Dia sengaja mengambil kelemahan Anda hingga saham-saham yang Anda tanam di beberapa perusahaan anjlok total! Termasuk yang ada di luar negeri, mereka nyaris memutus kerjasamanya dengan kita dengan alasan Anda tidak kompeten. Selain itu—"


Hero menghentikan bicaranya sedikit ragu.


"Selain itu apa?" tanya Marco.


"Selain itu, ada kemungkinan mereka akan melakukan serangan ketiga, di mana Anda yang akan menjadi target utama!"


Marco sedikit terperangah tidak paham. "Maksudmu?"


"Serangan pertama adalah memfitnah Anda menggunakan nona Vanya sebagai kelemahan. Serangan kedua adalah menarik para perusahaan yang bekerja sama dengan kita, sedangkan serangan ketiga ... bisa jadi mereka akan memfitnah Anda melakukan penggelapan pajak agar dapat menjebloskan Anda ke penjara."


Marco sedikit merinding mendengar itu. Otaknya terus berputar-putar memikirkan kira-kira siapa orang di balik kasus ini.

__ADS_1


"Bisa jadi orang itu adalah orang yang memiliki dendam pribadi pada Anda, Tuan!" Hero menjawab pertanyaan Marco yang menyelimuti hati Marco. 


"Ini hanya dugaan saya, tapi untuk mengetahui siapa yang melakukannya, saya masih dalam proses mendalami. Perusahaan ini sangat pintar dan tidak mudah untuk dilacak kelicikannya. Bahkan dia menggunakan perusahaan kecil untuk mengecoh bila mana kita menyelidiki perusahaannya lebih dalam.


"Ah, aku benar-benar hampir gila! Selama ini perusahaanku ayahku hampir tidak pernah mengalami serangan aneh semacam ini. Kenapa saat di tanganku jadi kacau?" Marco menyandarkan kepalanya ke belakang. Lantas menengadah seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing. "Apakah jangan-jangan ini ulah Adit? Satu-satunya kandidat yang membenciku kurasa hanya dia."


"Saya belum bisa memastikan. Semuanya masih abu-abu dan hanya dugaan-dugaan kecil. Kita belum memiliki kekuatan apa pun untuk melakukan serangan balik pada mereka, Tuan. Bahkan mencari tahu siapa dalangnya saja belum mampu." Hero kembali menarik laptop dan meneruskan pekerjaannya.


"Tapi menurut saya, perusahaan tuan Adit tidak mungkin bisa menyerang kita sampai serinci ini. Namun jika ada dalang kuat di balik aksinya, semua itu bisa saja terjadi."


"Jadi maksudmu Adit bekerja sama dengan perusahaan hebat untuk menjatuhkan kita? Sialan sekali!" decak Marco.


Di tengah-tengah perdebatan mereka. Telepon dari pulau seberang berbunyi. Tertera nama Fika pada layar ponsel Marco yang tergeletak di atas meja sejak sore.


"Halo, Fik?"


Hallo Tuan, maaf mengganggu tengah malam begini. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa nona Vanya sudah mengetahui semua gosip tentang Anda yang tersebar di media sosial.


Marco membeku seketika. Pikirannya terasa lingkung sejenak. Bagaimana bisa, batinnya.


Tuan ... Tuan ... Tuan, panggil Fika dari seberang sana. 

__ADS_1


Nona Vanya sudah tahu berita itu duluan sebelum tuan Hero memberikan instruksi pada orang rumah. Kebetulan kita sedang memeriksakan kandungan nona di rumah sakit saat berita itu tersebar. Nona melihatnya langsung saat memegang ponsel dan hendak menghubungi Anda.


"Ah, sialan!" teriak Marco. "Lalu bagaimana reaksinya? Di mana wanita itu sekarang?"


Justru ini tujuan saya menghubungi Anda, Tuan. Sejak pulang dari rumah sakit, nona Vanya tidak mau makan sama sekali. Ia menangis dan mengurung diri di dalam kamar seharian.


"Ya Tuhan, dia pasti sudah membaca hujatan netizen yang tak tahu apa-apa itu! Seluruh jaringan internet di rumah sudah terputus, bukan?"


Sudah Tuan!


"Bagus! Kalau begitu saya akan kembali ke sana jika urusan yang ada di sini sudah selesai. Dobrak pintu itu. Pastikan Vanya makan dengan baik sampai saya kembali. Mungkin kamu bisa membujuk Vanya menggunakan bayi yang ada di dalam perutnya. Bilang saja Vanya harus makan demi bayi itu." 


Baik, Tuan.


Panggilan tertutup.


 Satu kesulitan datang lagi di saat Marco belum dapat memecahkan masalah di perusahaannya. Hal itu membuat Marco semakin muak karena terus dihujani masalah tiada henti.


***


Jangan lupa komen dan Like. Kwkwk.

__ADS_1


__ADS_2