Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Enam Belas


__ADS_3

Hujan telah reda dari setengah jam lalu. Mereka berniat untuk pulang setelah melepas rindu sebanyak tiga kali.


Ekspresi wajah Vanya sedikit malu setelah kesadaran yang sempat tercecer kembali pulih. Pipi Vanya masih merona. Di mana ia berusaha mati-matian menyembunyikan rona itu dari pandangan Marco.


Vanya benar-benar tidak menyangka bahwa tempat kurang layak ini akan menjadi sarana untuk meneguk setitik nikmat.


Padahal ia sudah menolak Marco secara terang-terangan di kamar bersih yang sudah jelas-jelas nyaman untuk berbuat.


"Van, aku lapar!" Marco baru saja mematikan perapian. Kemudian menghampiri Vanya yang sudah berdiri menunggu di depan pintu gudang. Ekspresi pria itu terkesan dibuat manja sekali.


"Nanti makan di rumah." Vanya memandang pria itu dengan wajah tidak enak. Bisa-bisanya ia sampai lupa bahwa Marco belum kemasukan makanan secuil pun sejak datang tadi. Semua ini gara-gara ego dan perdebatan mereka yang tak kunjung usai.


"Aku ingin makan nasi goreng buatanmu. Mungkin aku butuh dua piring karena tenagaku benar-benar habis."


Kontan wanita itu membola. Ingatannya melanglang buana pada kejadian memalukan yang mungkin sulit untuk dilupakan dalam waktu dekat-dekat ini.


Vanya langsung tertunduk bersama keterdiamannya. Marco yang tak senang akan hal itu langsung menegur.


"Kenapa diam? Kamu tidak mau memasak untukku? Apa kamu masih lelah karena kegiatan yang baru saja kita lakukan? Kalau begitu tidak usah saja, nanti aku akan memesan makanan dari luar!"


Wanita itu terpaksa mendongak.


"Aku tidak lelah!" jawab Vanya yakin.


"Jadi kamu tidak lelah ya?" Marco terkekeh geli.


"Bagus kalau begitu! Nanti kita bisa meneruskan kegiatan program hamil kedua di tempat yang lebih nyaman," kelakar Marco.

__ADS_1


Pipi Vanya semakin merona. Herannya bibir wanita itu tidak bisa menjawab, tapi dasar hatinya berkata iya.


Oh, betapa menyebalkannya! Kenapa kamu bisa setidaktahu diri ini si, Vanya? Ingin rasanya ia memaki tubuh penghianat yang tak bisa selaras dengan logika. Membuat Vanya ingin tenggelam ke dasar bumi jika mengingat kejadian tadi dan otaknya yang masih berkelana hingga kini.


Dengan bantuan senter ponsel, Vanya dan Marco menembus gelapnya perkebunan apel. Mereka bergandengan tangan seperti pasangan yang baru saja jadian.


Tepat pukul sembilan malam Vanya dan Marco telah sampai di rumah. Ia langsung disambut oleh Ella yang matanya sudah sembab sekali karena terlalu lama menangis.


"Mama!" Gadis kecil itu terisak-isak. gara-gara tidak mau meminta maaf pada Marco, otak kecilnya jadi berpikiran yang tidak-tidak. Ella takut Vanya marah dan meninggalkannya pergi karena hal itu. Dasar bocah!


"Mama dari mana?" rengek anak itu meminta digendong.


"Mama dan papa ada perlu di luar Sayang," jawab wanita itu seraya mengangkat dan mengusap-usap punggung Ella.


Meskipun Ella masih sangat cuek, tapi kata 'papa' yang baru saja Vanya katakan membuat hati Marco sedikit menghangat. Pria itu tersenyum pada Ella dari belakang punggung Vanya.


Namun tak dinyana, gadis polos bermata jeli itu membuka aib kedua orang tuanya secara blak blakan di depan sang nenek.


"Leher mama kenapa?"


"Leher?" Vanya memegangi bagian itu dengan penuh telak. Jantungnya bertalu-talu saat menyadari tanda merah apa yang sedang dibahas anaknya.


Marco sialan, geram Vanya dalam hati.


Ella menunjuk satu persatu bekas tanda cinta papanya. "Ini, ini, ini. ini, ini, ini, dan ini kenapa?" ulangnya lebih rinci sampai nenek bisa menghitung bahwa tanda di leher itu ada tujuh.


Vanya benar-benar malu. Di liriknya sang nenek yang sepertinya pura-pura tak mendengar apa pun.

__ADS_1


"Emmm." Digaruknya kepala belakang dengan wajah bingung. "Digigit serangga Ella! Tadi mama ke perkebunan sebentar."


Vanya melirik sang nenek sekali lagi. Berharap wanita tua itu tak mendengar apa pun yang dikatakan oleh Ella barusan.


Namun gadis kecil itu tambah mengadu dengan polosnya.


"Nek, leher mama digigit serangga katanya!" Teriakkan Ella membuat nenek menoleh. "Obatin Nek!"


"Sudah jam sembilan, waktunya Ella tidur."


"Tapi mama digigit serangga, Nek! Nenek harus obatin mama dulu!"


"Tidur Ella!" sentak nenek sedikit malu.


Jangan tanya ekspresi Vanya seperti apa. Wanita itu mendadak kehilangan kata beserta harga dirinya. Sementara Marco memasang ekspresi datar, tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


"Sini nenek! Lihat leher mama merah semua! Ada yang hitam dua!" adunya semakin jadi.


"Ella, masuk ke kamarmu sekarang! Biar mama yang obati sendiri."


"Tapi Nek—"


"Tidur!"


Gadis kecil itu menciut seketika. Tanpa berkata apa-apa lagi pada sang nenek, Vanya segera membawa Ella masuk ke dalam kamar untuk ditidurkan. Sementara Marco bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***

__ADS_1


__ADS_2