
Selepas pertemuannya dengan Vanya. Anna mendadak ngambek lagi. Kali ini alasannya sedikit berbeda karena berhubungan dengan muka.
"Ternyata kak Vanya itu cantik sekali. Dia benar-benar mencerminkan wanita sesungguhnya. Sudah hamil saja masih cantik dan anggun sekali. Pantas saja otak kakakku jadi idiot seperti itu." Anna menggerutu dengan bibir maju. Sebagai sesama wanita ia merasa minder melihat kecantikan natural Vanya yang luar biasa.
"Cantik itu relatif." Hero menutup pintu mobil seraya memasang wajah mencibir. "Dan aku yakin tuan Marco memiliki alasan khusus selain hanya cantik."
Ekspresi Hero yang dapat Anna tangkap, menyiratkan bahwa ia tidak setuju dengan pendapat Anna.
"Jadi menurut kamu kak Vanya cantik atau tidak?" Anna menoleh sinis, ingin tahu penilaian kekasihnya tentang wanita lain.
"Semua wanita cantik, tapi jangan pernah menyuruhku membandingkan cantikan mana antara nona Vanya dan kamu," jawab Hero santai.
Sudah bisa menebak ending dari pembicaraan mereka akan berakhir seperti apa jika diteruskan.
"Cih!" Anna mencibir kesal. Lantas memasang seatbelt untuk dirinya sendiri. "Ini kita mau ke mana? Kalau mau ke kantor aku ikut saja. Bosan kalau di apartemen sendirian, tahu!"
"Kantor sekarang sedikit senggang karena ada beberapa pertemuan yang dibatalkan oleh tuan Marco sendiri. Sebaiknya kita berkunjung ke rumah orang tuamu saja. Jangan jadi anak durhaka yang tidak tahu tempat di mana ia dilahirkan," ucap Hero penuh penekan selaras dengan pedal gas yang mulai diinjaknya. Mobil mulai melaju meninggal parkiran bandara.
Anna yang tidak setuju seketika panik. Matanya berbinar penuh penolakkan. "Aku nggak mau ketemu mereka, Kak! Pokoknya nggak mau. Kamu tahu sendiri seperti apa watak orang tuaku."
"Jangan takut, menghindar tidak akan menyelesaikan masalah. Kamu itu tipe gadis yang suka sekali menyelesaikan masalah dengan menambah masalah."
"Tapi Kak ...."
Hero menggenggam jemari Anna yang mulai berkeringat. "Ada aku, aku tidak akan membiarkan ibu dan ayahmu sampai melukaimu. Jangan takut. Ini sudah waktunya kita berhenti main-main dan menegaskan hubungan kita yang serius."
Akhirnya gadis itu menuruti permintaan kekasihnya walau hati terasa berat. Berbekal aneka mainan dan jajanan yang terkumpul menjadi empat kantong kresek besar, Hero dan Anna sampai di sebuah rumah sederhana yang terletak di salah satu wilayah pusat kota.
Suara adik Anna yang ada di dalam rumah itu mulai terdengar saling bersautan. Membuat Anna rindu dan ingin memeluk keenam adik-adiknya secara bergantian.
Anna adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Dia diadopsi oleh keluarga Marco karena orang tua Anna sudah tidak sanggup lagi membiayai hidup anak-anaknya yang banyak.
Seperti yang sudah dijelaskan, alasan keluarga Marco mengadopsi Anna karena parasnya yang begitu mirip dengan mendiang adik Marco yang meninggal karena gagal jantung pada usia lima tahun.
__ADS_1
Setelah dirayu-rayu. Ibu dan Ayah Anna yang memiliki karakter pemalas dan matre, akhirnya mau memberikan Anna kecil begitu saja pada keluar Marco. Dengan syarat, biaya sekolah seluruh adiknya ditanggung sampai kuliah. Dan setiap bulannya orang tua Anna harus menerima transferan sebanyak 10 juta, sepanjang kedua orang tuanya masih hidup.
Uang sepuluh juta itu mereka gunakan untuk membiayai hidup sekeluarga. Mereka begitu senang mengorbankan Anna karena tidak perlu bekerja lagi seumur hidupnya.
"Kak Anna ... ada Kak Anna! Kak Anna udah pulang dari Amerika!" Salah satu adik Anna yang melihat kedatangan mereka langsung bersorak. Anna menarik gerbang rumah berbahan besi yang sebagian catnya sudah luntur, lantas masuk bersama Hero membawa tentengan masing-masing dua kantong.
Beberapa adik-adiknya yang mendengar langsung keluar. Mereka bersorak hore melihat kedatangan kakaknya dari Amerika.
Anna lekas memeluk adiknya satu-persatu. Mereka berteriak girang saat menerima bungkusan oleh-oleh yang Hero beli di jalan tadi.
"Mau apa kamu ke sini membawa pria tidak jelas itu? Ap kamu mau bertengkar dengan ibumu lagi?" Ibu melotot tajam ke arah Hero dan Anna. Bukannya menanyakan kabar anaknya selama ini, Anna langsung disambut dengan getar kebencian oleh ibu kandungnya gara-gara datang membawa Hero.
Ibu melengos malas, lantas segera menggiring anak-anaknya masuk ke dalam rumah kembali. "Masuk-masuk kalian, itu makannya diterusin!"
Ibu mendekat ke arah tempat Anna dan Hero berdiri setelah adik-adiknya masuk.
"Sudah ibu bilang, jangan sekali-kalinya kamu datang ke rumah ini membawa pria tidak jelas itu! Ibu tidak suka ya, Ann!" Ibu menarik lengan Anna yang berdiri di samping Hero.
"Pacar ... pacar! Sudah ibu bilang, cari suami kaya yang punya perusahaan, jangan karyawan seperti itu. Nggak duitnya Anna! Kami mengizinkan kamu diadopsi orang kaya supaya bisa menikah sama orang kaya. Salah satunya agar bisa membantu keuangan keluarga!"
Hero hanya terdiam mendengar omelan ibu Anna. Dihina-hina seperti itu sudah biasa baginya.
"Ibu ya ampun! Anaknya sudah lama tidak pulang, malah marah-marah!" Anna benar-benar tidak enak hati pada Hero. Rasanya ingin kabur saat ini juga.
"Usir dia dari sini kalau kamu nggak mau ibu marah-marah, Ann!" teriak ibu tidak peduli.
Anna menarik lengan ibunya sedikit kasar. "Bu, Anna cinta sama kak Hero! Please, jangan bersikap seperti ini."
"Cinta tidak berlaku untuk orang miskin! Kamu adalah harapan ibu satu-satunya. Ibu maunya kamu dinikahi anak orang kaya. Bukan pria kolot tidak laku seperti itu!"
Hero masih diam tanpa pembelaan. Tapi wajahnya sudah terlihat murka. Ibu masuk ke dalam rumah setelah berteriak 'masuk'. Ia menyuruh mereka masuk walau hatinya sedikit terpaksa.
"Sudah kubilang apa? Ngapain si kamu menyuruhku datang ke sini, Kak? Kamu tahu sendiri reaksi ibuku seperti apa, belum nanti ayahku!" Anna berbisik kepusingan sendiri.
__ADS_1
"Santai saja, aku tidak terlalu menganggap ucapan ibumu karena itu semua tidak benar."
"Terserahlah, aku pusing."
Tak beberapa lama lagi mereka pun masuk. Hero duduk di ruang tamu dengan santai. Adik-adik Anna tidak nampak, mungkin diusir oleh ibu karena ada hal penting yang ingin disampaikan wanita paruh baya matre tersebut.
Sambil menaruh dua gelas teh di meja, ibu duduk menatap Hero penuh kebencian.
"Kapan kamu akan melepaskan anak saya? Dia tidak cocok dengan kamu. Dari segi umur saja sudah tidak cocok, apalagi dari segi kantong," sembur ibu murka. "Saya tidak suka basa-basi ya Nak Hero, tinggalkan anak saya secepatnya!"
Hero tersenyum simpul tak menghiraukan. Ia mengangguk pada Anna yang menatapnya khawatir. Sorot mata pria itu berisyarat menyuruh Anna agar diam mendengarkan saja. "Justru kedatangan saya ke sini ingin memberi tahu seluruh keluarga, bahwa setelah anak ibu lulus nanti, saya berniat ingin menikahinya."
"Sembarangan kamu! Anna harus nikah dengan orang kaya, yang punya perusahaan!"
Ibu melotot sebal. Wanita paruh baya itu tidak pernah sudi berbasa-basi jika sudah menyangkut soal uang. Hero yang dinilainya hanya seorang karyawan, membuat ibu muak sekali. Terlebih pria itu sangat pelit, belum pernah yang namanya Hero memberikan uang sepeser pun kepada keluarganya. Membuat ibu berpikir bahwa pria itu pasti kikir.
Sebenarnya Hero bisa saja memberikan keluarga Anna jatah sepuluh juta dengan gaji bulanannya. Tapi ia tidak akan melakukan itu. Hero tidak suka sikap ibu yang dinilai menjual anaknya demi kepentingan pribadi.
Sudah cukup ibu dan bapaknya memoroti keluarga Marco atas nama Anna. Pada dasarnya orang malas ya tetap malas, kedua orang tua Anna itu memiliki keinginan cepat kaya, tapi dengan cara instan.
Dengan penuh percaya diri, Hero berkata pada ibu. "Setelah menikah nanti, Anna akan menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya, saya pastikan Anna bahagia dan tidak kekurangan finansial sedikit pun. Namun, untuk menghidupi keluarga ibu dan adik-adiknya, saya rasa itu bukan tugas wajib Anna. Dia hanyalah seorang anak perempuan yang nantinya akan menjadi tanggung jawab suami."
"Susah kalau punya pacar orang miskin, Ann! Bisanya cuma ngomong pakai mulut!" Ibu memilih berbicara pada Anna ketimbang mendengar penjelasan Hero yang tidak akan pernah masuk ke otaknya.
"Cukup Bu! Anna tetap akan menikah dengan kak Hero. Kalau ibu mau uang, nanti biar Anna yang kerja setelah lulus kuliah. Anna mohon jangan hina-hina kak Hero. Ibu juga orang miskin!" balasnya sedikit sedih. Mau bagaimanapun juga, ibu yang menyebalkan ini tetaplah ibu kandungnya.
"Karena ibu orang miskin, kamu harus jadi orang kaya! Belikan ibu dan ayahmu rumah. Kamu tahu sendiri kerjaan ayahmu hanya mancing setiap hari. Ikan adalah uang yang dia bawa setiap pulang," sungut ibu.
Hero memilih diam. Karena tidak ada ayah, sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk menyerang keluarga Anna, pikirnya.
***
Kalo dua ratus komen. Aku up lagi.
__ADS_1