Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Pukul tiga pagi, Marco datang memasuki kamar Vanya dengan cara mengendap-endap. Ia yang tadinya tidak ingin menemui Vanya, menjadi gelisah lantaran otaknya tak mau berhenti memikirkan keadaan wanita itu.


Di titik ini sebenarnya Marco sudah mulai lemah dengan tujuan utamanya. Selain untuk keperluan balas dendam, sebisa mungkin Marco selalu menahan diri untuk tidak menemui wanita itu—lantaran ia tidak mau terlibat perasaan apalagi sampai jatuh cinta kedua kali dengan Vanya.


Seingin apa pun Marco pada Vanya, ia selalu berusaha menolak sisi hatinya yang lemah itu. Marco tidak ingin kembali menjadi orang bodoh yang mudah diperdaya hanya karena perasaan cinta.


Namun, untuk kali ini rasanya beda. Lepas mengetahui keadaan Vanya yang tengah hamil muda, Marco menjadi resah gelisah. Tidurnya tidak tenang, dan pikirannya ingin selalu melihat wajah wanita itu.


Perlahan Marco mendekat, dan naik ke atas ranjang tempat Vanya sedang memeluk gulingnya dengan nyaman.


"Ehem!" Dia sengaja berdeham kala-kala Vanya hanya pura-pura tidur. Setelah dirasa aman, Marco segera menyibak selimut dan membuang guling yang menghalangi tubuh mereka.


Vanya mulai blingsatan saat guling yang menjadi teman tidurnya selama ini hilang. Tangannya meraba-raba seperti kehilangan sesuatu.


Tanpa sadar tingkah lucu Vanya berhasil menghadirkan senyum di bibir Marco, lantas merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Marco mengecup sekilas puncak kepala wanita itu, kemudian mengeratkan pelukannya hingga tidur Vanya kembali tenang.


Pagi menyapa kembali. Saat Vanya membuka mata, ia begitu terkejut melihat dirinya tengah berada di pelukkan Marco.


Rasa nyaman menyeruak di dada, ternya inilah yang membuat tidur Vanya anteng sampai tidak terbangun sedikit pun.


"Marco!" Vanya sengaja menggoyang-goyangkan kepalanya yang berada tepat di atas lengan Marco.


Pria itu memeluknya sangat erat, sampai Vanya kesulitan bergerak dan hanya bisa pasrah di dalam pelukan hangat Marco.


Bagaimana ini? Jika dia bangun, dia pasti akan mengamuk dan menganggapku wanita tidak tahu diri yang suka mencari kesempatan.


Vanya mencoba kabur kembali dari belenggu tangan kekar Marco, namun lagi-lagi pria itu menghalau dengan memeluk Vanya semakin erat.


Nyaman, batin Vanya tanpa sadar. Ia kembali memejamkan mata dengan seulas senyum yang masih menghiasi sudut bibirnya.


Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat nyaman berada di pelukkan pria jahat ini?

__ADS_1


Lantas melanjutkan tidur, memilih memejamkan mata mengikuti kata hatinya.


***


Sarapan pagi ini terasa mencekam. Marco mengusir semua pelayan dan hanya menyisakan ia dan Vanya di meja yang sebesar itu. Vanya yang biasanya selalu makan sendiri harus menelan ludah berkali-kali lantaran kehadiran Marco sangat merusak mood-nya di pagi hari.


Padahal baru tadi pagi ia merasa nyaman di pelukan pria itu. Entah kenapa semua berubah setelah keduanya sama-sama bangun. Tak ada yang mau mengalah, dan selalu memamerkan keegoisannya masing-masing.


Setelah semalaman berlalu, Marco kembali pada jati dirinya yang kejam dan egois. Beberapa kali ia menggebrak meja makan hingga Vanya tersentak, dan bahkan sampai terbatuk-batuk.


Brak! Brak!


Mata Marco menyalang marah dipenuhi oleh wajah Vanya. "Kutanya terakhir kalinya padamu, anak siapa itu!"


"Adit!" jawab wanita itu lantang. Jawaban itu sudah keluar dari bibir Vanya untuk kesekian kalinya. Namun Marco masih terus mendesak berharap Vanya memberikan jawaban lain.


Beda sekali dengan Hero yang bersikeras membela anak di dalam kandungan Vanya, wanita itu malah terlihat cuek dan tidak peduli sama sekali terhadap bayinya. Marco sampai bingung, entah apa yang sedang Vanya rencanakan saat ini.


"Jangan terus-terus menguji kesabaranku, Vanya!"


"Aku tidak menguji kesabaranmu. Aku hanya mengatakan jawaban yang kau inginkan!" tukas Vanya semakin berani.


"Kau!" geram Marco murka. Tangannya menuding Vanya penuh ancaman.


"Jika aku mengatakan anak ini adalah anakmu. Aku yakin kau tidak mungkin percaya pada kata-kataku begitu saja. Maka lebih baik aku menganggap ini anak Adit. Agar kau puas, Marco!"


Pria itu tampak menyunggingkan senyum sinis setelah mendengar ucapan Vanya. "Jangan senang dulu, jika itu anak Adit, tentunya aku tidak akan membiarkan anak itu lahir ke dunia."


"Ah, kau ingin membunuhnya?" Vanya tersenyum lebih smirk. "Aku akan dengan senang hati pergi ke dokter spesialis untuk menggugurkan kandungan ini. Bila perlu sekarang juga!"


Sontak Marco membelalak sempurna. Calon ibu macam apa dia? Bahkan serigala saja tidak pernah berpikir seperti itu.

__ADS_1


"Rupanya kau sedang menganggap ucapanku sebagai bahan bercandaan'kah? Siapkan dirimu, ayo kita pergi sekarang!"


"Oke!" Vanya bangkit dari duduknya. Ia melipat tangannya di depan dada dengan tatapan menjurus tajam ke arah Marco. "Ini adalah hal yang sangat aku tunggu. Jika anak yang ada di dalam kandunganku adalah milikmu, aku akan tertawa jahat melihatmu membunuh darah dagingmu sendiri."


Vanya lekas melangkah. Meninggalkan Marco yang otaknya sudah mendidih dipenuhi rasa amarah.


"Wanita setan! Berhenti kau!"


Marco sudah berdiri murka dengan dua tangan yang langsung menggebrak meja dan kaki menendang kursi-kursi. Vanya tersenyum puas sambil terus melangkah. Rencananya untuk membuat hati Marco terprofokasi sukses total.


"Hei, sialan!"


Wanita itu menaiki anak tangga satu-persatu tanpa menoleh apalagi berhenti. Marco yang sudah geram langsung mengambil ponselnya. Ia menghubungi Hero satu-satunya manusia yang paling bisa diandalkan.


Ya, Tuan?


"Siapkan berkas-berkasku dan Vanya. Tiga bulan lagi aku akan menikahi wanita sialan itu!"


Hero nyaris mati lemas di seberang sana. Ada apa ini Tuan? Kenapa mendadak sekali?


"Jangan banyak bicara, turuti semua perintahku."


Suara Marco yang terdengar marah sekali membuat Hero bungkam. Pria itu menutup panggilannya tanpa basa-basi.


Hero yang masih setengah tidak percaya hanya bisa menggelengkan kepalanya keheranan. Entah trik apa yang sedang Vanya mainkan. Apakah ini yang disebut, satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui?


Vanya bukan hanya berhasil menyelamatkan anaknya. Tapi ia juga sukses membuat Marco menikahi wanita itu.


Inilah awal keberhasilan Vanya. Meskipun tidak ada cinta untuk Marco, setidaknya Vanya bisa lepas dari jerat perzinaan karena sebentar lagi akan dinikahi.


***

__ADS_1


Udah mulai pusing belum? Mau masuk ke konflik ya, btw buat yang baca setengah-setengah, aku pastikan gak bakalan dapet happy ending yang kalian mau. Ini cerita agak ribet dengan misteri-misteri gitu. Makannya aku larang anak di bawah umur buat baca, karena kasian aja nanti pusing. Udah mikirin sekolah, ditambah baca cerita beginian pula. Wkkwkw.


__ADS_2