
"Marcoooo!"
Vanya berteriak saat melihat suaminya tengah berdiri mondar-mandir di depan lobi sambil mengotak-atik gawai di tangan. Nampaknya pria itu sedang bingung karena ponsel Vanya tidak bisa dihubungi lantaran kehabisan daya.
"Marco! Aku di sini."
Setelah mendapat panggilan yang kedua kalinya pria itu baru menoleh. Kemudian berlari cepat untuk menghampiri Vanya yang masih berdiri menunggunya di depan meja resepsionis.
"Aku memanggilmu dari tadi." Namun ucapan Vanya seolah terabaikan karena bola mata pria itu langsung tertuju pada tubuh Vanya.
Didekapnya tubuh wanita itu erat-erat tanpa peduli pada orang yang tengah bergerak lalu lalang di tempat itu. "Apa kamu baik-baik saja? Demi apa pun aku sangat khawatir sepanjang perjalanan tadi. Bahkan aku sampai mengemudikan mobil seperti kapal terbang demi bisa cepat sampai ke tempat ini."
Vanya mendengkus. "Untung kamu baik-baik saja. Kamu si tidak mau mendengar penjelasanku di telepon tadi!"
Terkesan masa bodo, Marco lantas melepas pelukan demi meneliti setiap inci tubuh wanita itu kembali. "Memang apanya yang sakit? Apa kamu masih trauma dengan perlakuan mereka? Katakan padaku apa yang kamu rasakan saat ini, Van!"
__ADS_1
Keringat bercucuran. Napasnya tersengal-sengal tak sabar menunggu jawaban.
"Aku baik-baik saja, Co! Luka yang tadi hanya ringan-ringan saja. Aku memang sempat ketakutan, tapi kehadiranmu di perkebunan tadi seperti malaikat yang membuat semua perasaan berkecamuk itu seketika sirna." Tangan Vanya langsung mengelap titik-titik keringat yang menggenangi sekitar dahi Marco. Ia tersenyum, lantas memberikan surat pendaftaran untuk masuk ke ruang OBGYN.
"Kamu serius?" Marco bahkan tak memandang ke arah surat yang baru saja diterimanya. Tatapannya masih mengarah pada wajah Vanya untuk memastikan wanita itu tidak sedang berbohong.
"Iya serius. Untuk apa aku berbohong? Coba lihat dulu su—"
"Lalu kenapa kamu pergi ke rumah sakit tanpa menunggu kedatanganku? Kupikir ada sesuatu yang gawat dan mendesak sampai kamu tidak sabar menunggu jemputan dariku," potongnya seraya menghempaskan napas kasar.
"Sesuatu yang mendesak apa?" Suara Marco terdengar memekik sampai Vanya malu karena beberapa orang seperti mulai merasa terganggu.
Buru-buru wanita itu menarik Marco dari khalayak ramai agar tidak menimbulkan perhatian orang sekitar. Vanya membawa pria itu ke sudut ruangan agar lebih leluasa dalam menceritakan kabar bahagia yang ia bawa.
"Ada apa sih, kenapa kamu menarik-narik tanganku seperti ini?"
__ADS_1
"Jangan berisik," lirih Vanya. "Suaramu mengganggu orang-orang sekitar tahu! Padahal surat penjelasannya sudah ada di tanganmu sejak tadi. Kenapa tidak dibaca?"
"Ah! Surat! Memangnya surat apa in?" Marco baru sadar dengan kehadiran kertas yang ia pegang sedari tadi. Pria itu langsung menjabarkan lembaran kertas untuk membaca lampiran.
"K—kamu?" Membuat Vanya tersenyum dengan pipi merona. "Ini seriusan?" Pria itu mengulang keterkejutannya satu kali lagi. Matanya membola penuh dengan tangan gemetar saat memegang secarik kertas penuh kabar bahagia tersebut.
"Ka-kamu hamil?" tanyanya sembari tergugu-gugu.
Untuk memastikan sekali lagi, Marco membaca ulang lampiran surat rujukan pemeriksaan dari klinik. Tertulis bahwa Vanya sudah dinyatakan positif hamil menggunakan testpack dan sekarang membutuhkan pemeriksaan lanjut dari dokter ahli kandungan.
Lutut pria itu melemas. Tubuhnya melimbung dan nyaris jatuh akibat terlalu syok.
***
Like dan Komennya dong mentemen Sayang. Gratis kok, gak pake acara bayar pake koin....
__ADS_1