Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Dua Puluh Enam


__ADS_3

Sementara di balik itu, Hero benar-benar marah luar biasa pada sikap Marco yang kekanak-kanakan. Tak seharusnya pria itu mempercayai pekerjaannya pada Marco seorang diri. Apalagi jika sudah ada sosok Vanya di sampingnya. Pasti semuanya jadi berbelok dengan ujung tak jelas.


Sesuai dengan firasat Hero saat melihat Vanya dibawa ke kantor, beginilah akhirnya. Kacau balau. Marco menggabungkan masalah pekerjaan dan urusan pribadi dengan seenak jidatnya. Meskipun dampaknya tidak mempengaruhi I-Mush Grup sama sekali, tetap saja perbuatan Marco dinilai salah besar alias tidak profesional.


Semua bentuk kerja sama yang harusnya terjadwal rapi jadi berantakan tak karuan. Marco membubarkan rapat secara sepihak, di mana perwakilan perusahaan yang tidak tahu apa-apa ikut terkena imbas hanya karena keegoisan seorang Marco.


"Anda benar-benar keterlaluan, Tuan!" Hero bergumam pelan sambil menggeleng tidak senang begitu melihat Marco datang.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, hah?" Dengan santainya Marco kembali ke kantor seolah tidak ada hal apa pun yang terjadi di ruang rapat tadi. Pria itu melewati meja Hero dan melangkah menuju ruangannya sendiri.


Hero tahu bahwa Marco adalah orang yang cepat tanggap dan memiliki potensi besa dalam menjalankan roda bisnis. Namun, acap kali otak pria itu mendadak konslet kalau sudah terserang virus-virus cinta. Contohnya seperti inilah, menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Sama sekali bukan perbuatan terpuji apalagi patut dicontoh untuh seorang pebisnis.


Hero segera menyusul Marco ke ruangannya. Pria itu sedang duduk di sofa sambil menaikkan satu kakinya di atas meja saat Hero masuk.


"Apa Anda sudah merasa bahagia?" tatapan Hero pada Marco tidak bersahabat. Sengaja ia lakukan tanpa rasa hormat.


Marco mendongak begitu melihat Hero muncul dengan bahasa yang sedikit sarkasme. Lalu ia memilih membuang muka setelahnya.


"Apa yang kau katakan?"

__ADS_1


Tangannya meraih segelas air putih. Meminumnya hingga tandas tanpa peduli pada wajah Hero yang memanas.


"Apa Anda senang setelah melakukan semua ini?" ulang Hero sekali lagi.


Marco tergugu sejenak. Lantas menaikkan satu alisnya agar menjadi sedikit garang dan tidak disalahkan. "Tentu saja aku senang, kenapa kau bertanya seperti itu?"


Padahal tak ada sedikit pun raut bahagia di wajah Marco. Hero tahu bahwa lelaki itu merasa bersalah setelah melakukan semua ini. Terlihat jelas wajah frustrasi Marco yang tidak bisa ia sembunyikan sama sekali.


"Jika tujuan Anda ingin memberitahu kejelekkan tuan Adit, Anda bisa memberitahu nona Vanya secara langsung. Tidak perlu mempermalukannya di depan relasi bisnis lain. Menurut saya tindakan Anda sangat keterlaluan, Tuan!" ucap Hero datar, sambil diikuti bahasa penekanan.


"Suka-sukakulah!" Marco menjawab ketus.


"Hei, berani sekali kau mengguruiku!" Marco menendang kotak tisu di atas meja. Matanya melotot kesal ke arah pria itu.


"Jika saya tidak peduli pada Anda, saya tidak akan mengucapkan ini."


Kalimat yang Hero ucapkan langsung masuk ke dalam mental. Membuat Marco terhenyak dengan sejuta pikirannya.


"Lancang!" teriak Marco tegas, masih tidak terima dengan kekurangajaran Hero.

__ADS_1


Hero memilih berbalil tidak peduli. Ia segera pergi dari ruangan Marco tanpa menanggapi kemarahan pria itu sedikit pun.


Kali ini ia benar-benar marah pada tuan kesayangannya itu. Meskipun Hero adalah sekretaris Marco, tapi ia adalah pengikut khusus tuan Fernando yang dipercaya untuk menjaga Marco dalam mengurus perusahaan. Termasuk menuntun pria itu agar jangan sampai salah dalam mengambil langkah. Bisa dibilang, Hero adalah malaikat penjaga Marco yang berdiri kokoh di balik kesuksesanya.


"Her!" teriaknya penuh amarah.


Pintu sudah tertutup rapat. Marco menatap sisa-sisa bayangan Hero yang sudah menghilang di balik pintu tersebut.


"Sombong sekali pria itu. Mentang-mentang dia tahu aku tidak bisa memecatnya, bukan berarti kau bisa memarahiku sesukamu ya, Her! Lihat saja nanti, kudoakan kau dikecewakan wanita agar tau rasanya seperti apa!" Marco berteriak kasar. Lantas melempar bantal sofa ke arah pintu berharap Hero mendengar serapahnya.


"Apa aku sudah keterlaluan?" Kali ini bergumam agak pelan, sambil berpikir tentang dampak negatif yang terjadi pada Adit akibat ulahnya.


Kalau Hero yang notabene kalem dan tidak suka ikut campur saja bisa marah besar, berarti perbuatan Marco memang sudah sangat keterlaluan.


Marco pun mulai sadar bahwa ia telah seenak dirinya menggunakan kekuasaan perusahaan untuk menindas orang. Hanya karena ingin menyakiti Vanya, tak seharusnya Marco melibatkan Adit yang tidak tahu apa-apa.


Ah, entahlah. Marco benar-benar tidak tahu kenapa pribadinya menjadi ambigu seperti itu.


***

__ADS_1


Komen dan Likenya ya. Biar aku rajin up


__ADS_2