Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Tujuh Puluh Satu


__ADS_3

Selepas menyantap makan siang di resto yang sudah Marco pesan sebelumnya, ia menyuruh Vanya pergi terlebih dahulu ke pesawat jet pribadi yang sudah di siapkan hanya untuk mengantar mereka berlibur ke pulau seberang nanti.


Dengan alasan ada masalah pekerjaan yang akan dibicirakan dengan Hero, akhirnya Vanya menuruti permintaan pria itu. Vanya digiring beberapa pengawal dan pelayan menuju pesawat terlebih dahulu.


Sekarang wanita itu lebih santai dari sebelumnya. Toh Anna sudah menunjukkan sikap yang sangat baik, jadi ia tidak perlu khawatir ataupun curiga dengan pembicaraan mereka bertiga nanti.


Marco menatap Hero dan Anna yang tengah duduk berdampingan di depannya secara bergantian setelah menjelaskan kalimat yang menurut Anna hanya seputar itu-itu saja. Pandangannya serius dan menjurus.


"Ingat kata-kataku, begitu mami datang, segera buat alasan semasuk akal mungkin agar mami tidak banyak menanyakan soal keadaanku. Bilang saja aku sedang berada di luar kota atau ada pertemuan penting dengan klien."


Marco kembali menatap Hero serius, lantas beralih menatap sang adik yang sedari tadi terus memasang wajah sok imut di samping pacarnya. "Terutama kamu Ann, cepat bawa mami pulang ke Amerika! Waktuku dan Vanya berlibur hanya satu minggu, jadi usahakan mami sudah pergi sebelum aku pulang. Jangan sampai kita pulang mami masih ada di rumah, bahaya!" hardik Marco pada adiknya.


"Iya Kak, kamu sudah mengatakan itu berkali-kali. Terus bagaimana dengan kak Nadia? Memangnya dia tidak tahu soal kak Vanya?"


Marco termenung sejenak. Ia hampir melupakan persoalannya dengan wanita itu sejak melayangkan gugatan cerai kemarin. Semalam Nadia tidak pulang ke rumah. Tapi Marco tidak menghubungi atau sekedar mengirim pesan basa-basi untuk menanyakan kabar Nadia selepas menerima surat perceraian tersebut. Marco asik memanjakan Vanya dengan berbagai perlakuan anehnya. Nadia juga terkesan santai dan tidak ada menghubungi Marco sama sekali.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, ia pun menyimpulkan.


"Nadia wanita baik, aku yakin dia tidak akan berbicara macam-macam pada mami. Nanti biar kuhubungi dia agar ikut membantumu membujuk mami." Anna mengangguk paham seraya memandang bibir kakaknya. "Pokoknya kamu pikirkan alasan sebisa mungkin Ann, buat mami jangan sampai meminta bertemu dengan Vanya dulu. Setelah perceraianku dengan Nadia selesai, nanti aku akan datang ke Amerika untuk menjelaskan semuanya pada mami dan papi secara langsung."


Anna mendengkus sebal. Dalam hati ia merasa sebal melihat kakaknya terlalu mementingkan perasaan Vanya sampai rela melakukan apa pun.


"Tapi kalau mami tidak mempan dengan rayuanku bagaimana? Masalahnya hal ini cukup serius juga! Bahkan ditelepon kemarin mami terlihat marah sekali saat mengetahui kakak sudah menikah lagi. Aku tanya mami tahu dari mana, tapi mami hanya bilang kalau punya banyak mata-mata. Takutnya kak Nadia yang cerita langsung ke Mami karena tidak terima diceraikan oleh Kakak," tutur Anna yang kemudian bergelayut di pundak Hero tanpa peduli kakaknya.


Biasanya Marco akan marah jika adiknya bermanja-manja pada Hero, tapi kali ini ia diam karena sudah teramat pusing dengan masalahnya sendiri. Anna memanfaatkan situasi itu agar bisa bersikap layaknya pasangan normal di jaman sekarang.


Marco terlihat menghela napas sedikit berpikir. "Menurutku tidak mungkin Nadia berani lancang seperti itu. Bahkan saat aku berkata akan menikahi Vanya, dia terlihat biasa saja karena dia sadar bahwa kita memang tidak memiliki perasaan spesial satu sama lain."


"Baik Tuan," jawab Hero mengangguk kepala. Menaruh tas kerja Marco di kursi samping sebelahnya.


"Terima kasih sudah membantu semua permasalahanku. Mengenai yang kemarin, aku minta maaf karena telah menghajarmu. Pikiranku terlalu kalut, takut Anna membocorkan rahasiaku."

__ADS_1


Anna yang mendengar itu menohok. "Aku hampir saja membocorkannya pada mami kalau kak Hero tidak pintar menjelasakan. Sampai sekarang pun aku masih tidak habis pikir dengan kelakuan kakak yang selama ini kubangga-banggakan! Bisa-bisanya kakak menghamili wanita lain di saat kakak sudah beristri. Balas dendam macam apa seperti itu? Nyatanya kakak malah terlihat bucin sekali!" cibir Anna bersungut-sungut pada kakaknya.


"Aku mencintainya, anak kecil sepertimu tidak akan tahu!" pungkas Marco membela diri. "Dia wanita baik-baik, jangan sekali-kali kamu berpikir untuk membencinya. Adapun orang yang patut disalahkan adalah kakakmu sendiri. Orang yang telah membuat hidup Vanya jadi susah."


Marco terus membela Vanya sampai Anna menggeleng keheranan. Ia memalingkan wajahnya pada Hero yang sejak tadi diam tanpa berkomentar.


"Lihatlah kakakku, sepertinya dia sudah jadi bucin akut! Aku benar-benar tidak paham kisah cinta apa yang sedang dia jalani. Istri dijual, mantan dibeli, sudah gila apa pria jaman sekarang?"


Hero yang diajak bicara hanya mengedikkan setengah bahunya. Merasa ini bukanlah urusannya sama sekali.


Marco lekas berdiri seraya merapikan kemejanya yang sedikit terlipat. "Sudah ...sudah! Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan kisah hidupku. Yang jelas sebentar lagi aku akan merasakan betapa indahnya honeymoon."


"Honeymoon apanya? Kandungan Kak Vanya saja sudah lima bulan! Mana ada honeymooon model begitu!" Anna menggerutu sebal karena kegiatan merepotkan Marco kali ini lebih pantas disebut dengan babymoon.


"Ya sudah, aku pergi dulu ... sampaikan salam sayangku untuk mami." Marco bergegas pergi meninggalkan restoran yang tak begitu ramai pengunjung itu. Menyusul Vanya yang mungkin duduknya sudah gelisah karena terlalu lama menunggunya.

__ADS_1


***


Hallo. Jangan bosen bosen ya, sama ceritaku. Kalo bisa langsung baca jangan ditimbun. Entar levelku turun, aku jadi ngambek update.


__ADS_2