
Pagi ini semuanya terasa mimpi bagi Vanya. Alur kehidupan yang ia jalani begitu sulit untuk ditebak. Terlalu aneh dan tanpa aba-aba sampai Vanya tidak pernah berpikir bahwa pagi ini ia akan mendapatkan kejutan dari pengakuan terpendam Marco. Merasa bimbang, sejenak Vanya merasa bahwa dunianya sedang dijungkirbalikkan lagi ke arah yang berbeda. Dan tentunya situasi ini sangat membingungkan hingga nyaris tidak bisa diterima oleh logikanya.
Kini Vanya dapat melihat karakter Marco yang sebenarnya. Pria yang dulu kalem dan sedikit manja sedang menangis penuh penyesalan di pundak Vanya tanpa rasa malu apalagi ragu.
Marco David Fernando yang dulu telah kembali. Tanpa peduli reaksi Vanya akan seperti apa nantinya, ia tetap mengungkapkan semua luka dan cinta yang ia pendam selama ini.
setelah berpuas-puas diri, Marco melepas pelukan dan beralih menatap wajah Vanya penuh binar. Kemudian menjatuhkan satu ciuman lembut di atas bibir wanita itu tanpa permisi.
Vanya hanya mampu terpejam. Membiarkan Marco menjelajah setiap rongga mulutnya sambil mencekal erat kedua pinggang pria itu. Beberapa saat setelah ciuman itu terlepas, Marco pun mulai melanjutkan bicaranya kembali. Kali ini sambil menangkup dua sisi wajah Vanya dengan bahu yang sedikit membungkuk untuk mensejajarkan pandangan.
"Perasaanku dari dulu tidak pernah berubah, Van. Masih sangat-sangat mencintaimu setulus hati. Itu sebabnya aku berusaha membenci dan membalas dendamku padamu agar kita bisa seimbang dan sama-sama melakukan kejahatan. Tapi nyata aku semakin tersiksa, cinta padamu tidak bisa hilang, dan bahkan apa yang aku lakukan sampai sekarang terasa sia-sia. Aku sudah membuang banyak waktuku untuk menyakitimu, tapi bukannya bahagia, aku malah semakin hancur dan sakit!"
Seluruh perhatian Vanya tersita pada Marco yang begitu sungguh-sungguh dalam mengakui perasaannya. Baru kali ini ia mendapat ungkapan cinta setulus yang Marco katakan. Bahkan Adit pria yang dulu sangat ia cintai saja tidak pernah sedalam itu saat mengungkapkan perasaannya.
"Hatiku hancur setiap kali melihatmu menangis. Dadaku sesak jika membayangkan semua yang telah kuperbuatkan kepadamu. Tapi bodohnya aku terus melaksanakan rencana gila itu sampai sejauh ini. Titik di mana kamu hancur dan menderita karena semua ulah-ulahku."
Vanya masih terus terpaku diam, dan entah kenapa ia tidak bisa marah sama sekali terhadap pria yang ada di depannya.
Marco ingin sekali mengucapkan kata maaf. Akan tetapi kata itu terlalu berat untuk ia ungkapkan saat ini. Mengingat dosanya yang begitu besar, Marco merasa maaf tak ada gunanya sama sekali.
__ADS_1
Marco mulai menarik lengan Vanya agar mengikutinya masuk ke dalam kamar yang selama ini selalu menjadi gudang rahasia dibalik kearoganannya. "Kamu ingin melihat kamarku, 'kan?"
Entah sejak kapan panggilan kau berubah menjadi kamu. Saking syoknya Vanya sampai ia tidak sadar bahwa watak Marco sudah berubah total menjadi seperti semula.
"I-ini?" Vanya membelalak tak percaya saat ia melihat lukisan besar bergambar dirinya terpajang di dinding kamar. Vanya yang masih berumur 17 tahun tampak begitu cantik dan imut di gambar itu.
"Aku menghabiskan waktu tiga tahun untuk melukis gambarmu," ujar Marco. Kemudian menarik lengan Vanya dan menunjukkan pintu conecting room di kamar sebelah.
"Ini adalah kamar Nadia. Aku sengaja menyuruh Nadia keluar dari pintu yang sama setiap pagi agar kamu sakit hati. Awalnya aku mau kamu merasakan semua yang kurasakan waktu itu. Cemburu, merasa menjadi sampah, dan hidup dalam bayang-bayang rasa kalah."
"Jadi kalian hanya pura-pura menikah? Agar bisa bersandiwara di depanku!" sergah Vanya pada topik yang lebih penting dan membuat ia nyaris mati penasaran selama ini.
"Maksudnya?" tanya Vanya bingung. "Apa kalian berdua dijodohkan?" ujar wanita itu menebak-nebak.
"Tidak, Van. Kami menikah secara sukarela atas dasar kemauan masing-masing. Awalnya aku sengaja menikahi Nadia agar aku bisa melupakan perasaanku padamu, dan dia juga sama-sama ingin melupakan perasaanya pada sang mantan kekasih yang sudah lama meninggal. Bisa dibilang kami adalah dua insan yang tidak saling mencintai, namun bertekad hidup bersama agar kami dapat melupakan bayang-bayang masa lalu. Tapi ternyata keputusan yang kami ambil salah, hal itu tidak berhasil dan malah membuat hidup kami semakin hancur."
Kini Vanya sudah menemukan titik terang mengapa Marco selalu brutal setiap kali melihat tubuh telanjangnya. Ternyata inilah jawabannya dari kegundaan yang merasuki otak Vanya selama ini. Meskipun mereka berdua sudah menikah, tapi keduanya tidak saling mencinta. Marco juga terasa amatatiran saat pertama kali menyentuhnya waktu itu. Ia masih ingat dengan jelas, betapa susahnya Marco mencari keberadaan lubang saat pertama kali akan bercinta dengannya waktu itu.
Vanya mencoba memberanikan diri untuk bertanya, "Lalu apa yang akan kau rencanakan setelah mengungkapkan semua ini?"
__ADS_1
"Sesuai rencana awal, aku akan menahanmu di sisiku selama satu setengah tahun. Lalu melepas dan membiarkanmu mencari kebahagiaanmu sendiri."
"Be-benarkah?"
"Jika itu maumu," jawab Marco pasrah. Ia sengaja membiarkan, tidak mau melepas apalagi menahan.
"Tinggal satu tahun lagi. Apakah aku benar-benar bisa terbebas?" tanya wanita itu penuh binar seakan hidup bersama Marco adalah kesialannya seumur hidup.
Marco termangu sejenak meratapi hadirnya getar kejam yang keluar dari bibir Vanya. Hatinya seperti mendapat tikaman tak kasat mata yang tembus hingga menghunus dada.
Aku sudah mengakui semua perasaanku padamu. Tapi tidak ada satu pun jawaban yang menyiratkan bahwa kamu membalas perasaanku. Apakah sulit untuk kita bersama lagi, Anya?
"Kau boleh pergi ke mana pun. Jaga anak kita baik-baik."
Masih dalam posisi saling berpelukkan, Marco menitikan darah putih dibarengi hancurnya harapan pria itu.
Cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan, melepaskan ada cara terbaik agar kita mampu bertahan.
***
__ADS_1
Bismilah, semoga tembus 500 komentar. Besok aku edit lagi kalo ada typo.