Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Enam Puluh Sembilan


__ADS_3

Hai. Assalamuallaikum. Apa kabar Semuanya. Maaf banget bikin kecewa karena lama ngga update. Waktu itu aku Kena Korona, jadi harus istirahat total. Ini juga masih dalam proses pemulihan. Doain Ya, semoga cepet pulih.


Ini sedikit part. Semoga bisa melepas rindu.


*


*


*


...***...


"Kenapa mereka belum datang juga?" Vanya duduk di ruang tunggu dengan gelisah. Matanya mengedar ke arah pintu lobi, menantikan kedatangan Hero dan juga Anna yang entah kenapa lama sekali. Membuat Vanya resah saat membayangkan pertemuan mereka akan berakhir seperti apa nantinya.


"Sabar. Mereka masih dalam perjalanan ke sini," jawab Marco santai. Ia berusaha tersenyum melihat Vanya yang gelisah menantikan kedatangan adiknya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dipikiran Vanya entah itu apa. Namun Marco tak mengindahkan agar Vanya tidak berpikir macam-macam.


"Memangnya sejauh apa si perjalanan mereka? Apa jangan-jangan adikmu memang tidak ingin bertemu denganku? Tapi kamu paksa dia agar datang ke sini."


"Ya ampun, Van!" Marco menepuk jidatnya, gemas. Dugaannya tepat sasaran. Yang Vanya ucapkan sesuai dengan isi pikiran Marco sekarang. "Kamu kenapa curigaan sekali? Mereka sedang dalam perjalanan dari luar kota, maka dari itu perjalanan yang ditempuh cukup memakan waktu. Lebih lama dari kita."


"Alasan, mukamu itu sangat tidak meyakinkan saat menjelaskan!" Vanya melengos dengan wajah bersungut-sungut.


Benar kata pepatah. Kaum cantik menggemaskan memang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap suatu keganjalan. Dia selalu dapat merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres. Seperti halnya sekarang. Meskipun Vanya tidak tahu maksud dan tujuan Marco membawanya pergi berlibur, tapi kegelisahannya cukup menjawab bahwa wanita memiliki kepekaan di atas rata-rata manusia normal.

__ADS_1


Marco lekas merangkul pundak Vanya. Satu tangannya lagi bergerak mengelus-mengelus perut buncit Vanya yang tampak menggemaskan di matanya. "Sini dulu. Jangan marah-marah terus. Kasihan anak yang ada di dalam perut kamu. Dia pasti tersiksa melihat ibunya marah sedari tadi."


"Aku bosan menunggu tahu," sungut Vanya sebal. "Kalau memang tidak mau ketemu jangan dipaksa. Aku yakin seratus persen adikmu tidak suka denganku. Apalagi aku—"


Vanya menghentikan bicaranya.


"Apalagi kamu apa?" tanya Marco mengernyit.


"Apalagi statusku hanya orang ketiga di hubungan ini. Perempuan yang wajib dianggap perusak rumah tangga orang. Jelas semua wanita akan membenciku. Termasuk adik dan keluargamu yang lain."


"Anna tidak seperti itu. Lagi pula Hero sudah menjelaskan kronologi hubungan kita. Aku juga sudah menjelaskan pada Hero bahwa dendamku padamu telah berakhir. Pastinya Hero telah menceritakan semuanya pada adikku juga. Sekarang dia jelas sudah tahu perempuan mana yang dicintai oleh kakaknya. Cuma kamu ... kamu saja," tukas Marco lantang. Membuat Vanya melengos ke arah lain dengan wajah malu.


"Dasar gombal!"


Sebarnya apa si mauku? Kemarin aku tidak terima dengan sikap Marco yang arogan dan seenaknya menghakimi orang. Di saat ia sudah berubah, aku malah jadi canggung begini menghadapi sifat Marco yang hangat. Kenapa ... kenapa hatiku jadi tidak jelas seperti ini?


Dia mengerjapkan matanya. Ditatap oleh Marco sedekat itu membuat ia kehilangan kata-kata pedas yang selama ini tersembunyi di bawah lidah. Pria itu terus berkata dengan begitu lugas sampai Vanya tak dapat berkutik lagi.


"Izinkan aku menebus semua kesalahanku dengan membahagiakanmu Van. Hanya itu keinginan sederhana dariku. Aku ingin mencintaimu dengan normal sampai kamu dapat merasakan ketulusanku yang sesungguhnya. Itu saja ...."


"Ehmm." Wanita itu berdeham tanpa kata. Lantas menganguk seraya mengerjapkan matanya kikuk.


"Bisa 'kan?"

__ADS_1


"I-iya," jawab Vanya sedikit tergugu.


Pikiran wanita itu benar-benar sedang kalut saat ini. Vanya begitu resah dan merasa terancam dengan statusnya yang menjadi orang ketiga di antara Nadia dan Marco.


Meskipun Marco tak pernah beranggapan seperti itu. Namun di mata umum Vanya tetap saja orang ketiga yang merebut suami orang. Bahkan sampai mengandung anaknya segala.


Ah, harusnya Vanya memang tidak memperdulikan semua ini karena pernikahan mereka terahasiakan. Waktunya bersama Marco juga hanya tinggal satu tahun lagi. Selepas itu ia akan terbebas dari status yang dianggap hina olehnya.


Akan tetapi, pikiran gila itu semakin datang dengan kuatnya sampai dada Vanya terasa sesak. Ia begitu takut pernikahan rahasianya bersama Marco bocor ke sana-sani dan membuat semua orang berakhir mengutuki hidupnya.


Bagaimanapun juga Marco orang penting. Vanya yakin orang tua Marco tidak akan melepaskannya begitu saja jika tahu ialah yang merusak hubungan Nadia dan Marco. Sehebat apa pun Vanya berusaha menjelaskan status dan kedudukkannya nanti, ia tetap dalam posisi salah yang tak seharusnya ada.


Lantas siapa yang harus di salahkan dalam kasus ini? Entahlah, Vanya tidak bisa menyalahkan siapa pun kecuali merutuki nasib sial yang bertubi-tubi datang menerpa hidupnya. Ternyata setelah dendam Marco berakhir tak membuat hati Vanya tenang. Ia justru harus memikirkan karma yang semakin rumit untuk kedepannya.


"Kenapa diam?" Marco mulai berulah lagi. Kali ini ia mencubit hidung Vanya sampai ia memekik kesakitan. "Aku suka melihatmu sedikit lebih nurut dari sebelumnya, tapi aku tidak suka melihat ekspresimu yang banyak diam seperti ini. Apa ada sesuatu yang sangat kamu pikirkan? Katakan saja, aku tidak suka melihatmu diam seperti ini."


"Manusia diberi otak untuk berpikir. Dan jika aku memiliki pikiranku sendiri, itu adalah hal yang wajar. Kamu tidak perlu repot-repot membuang waktu untuk menebak semua yang aku pikirkan. Sama sekali tidak penting," balas Vanya.


"Aku benci sekali mendengar jawaban seperti itu. Kamu terlalu misterius sampai otakku ingin meledak saat menebak. Andai aku bisa memastikan kamu memikirkan hal-hal yang bahagia saja, baru aku bisa bernapas dengan lega," tukas Marco.


Andai di dunia ini hanya ada aku dan kamu saja, aku tidak mungkin memiliki pemikiran macam-macam seperti ini, batin Vanya memilih diam dalam rangkulan tangan besar Marco.


***

__ADS_1


Coba pada like dan komen dulu. Kalo banyak yang nunggu kelanjutannya aku up lagi. Ya mau gimana lagi, namanya musibah gak akan tahu. Makasih untuk semua yang sudah mau mengerti dan menunggu.


__ADS_2