Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Info Give Away dan Novel lanjutan


__ADS_3

Huaaaaa. Akhirnya sudah sampai di penghujung cerita. Apakah ada cerita season dua ya? Entahlah, gimana minat pembaca aja. Wkkwkw. Yang jelas aku lagi nyusun cerita Hero dan Anna dulu.


Jangan lupa tinggalkan komen dan keinginan kalian untuk kedepannya.


Sujud syukur aku bisa berhasil menyelesaikan novel ini. Jujur nulis novel di platform gratisan itu sangat berat. Sering lirik-lirik temen yg ada pindah di pf Berkunci bisa dapetin penghasilan sepersekian juta dan bikin ngiler tak dipungkiri aku lakukan setiap hari. Jauh banget dari pencapaianku yang huruhara, tapi tak apalah. Wkkww. Jadi terus terang aku pribadi merasa butuh hati dan mental kuat sampai dapat menyajikan cerita ini sampai tamat. Dan aku ucapkan makasih banyak untuk semua yang rela menunggu sampai titik ini. Muehehe. Semoga berkah ya, untuk aku dan kalian tersayang. Yang tiap saat ngehujat tanpa tau keadaan sebenarnya aku gak sayang. Males akh! Wkwkw


Pokonya selagi novelku masuk dalam kategori keingin platform, aku bakalan taruh di sini untuk digratiskan. Karena emang stiap platform punya standar bacaan agar bisa dipromokan.


Dan untuk kamu yang berkenan mengapresiasi karya aku. Kalian bisa beli buki solo aku dengan harga murmer. Gak sampai ratusan ribu kayak novel lain agar bisa dinikmati dan berjumpa dengan karyaku selanjutnya. Bisa dibaca sampai tamat dan dapet bonus-bonus lainnya.


Daripada kalian kasih koin yang harganya fantastis. Jujur Ana lebih suka jika kalian mengapresiasi Ana dalam bentuk karya aja. Salah satunya dengan cara membeli buku Ana


Masih adalagi ....



Hasil dari keuntungan penjualan novel akan Ana buatkan tote bag lucu untuk give away. Total ada puluhan tote bag yang akan Ana bagikan kepada pembaca tersayang. Udah diniatin pengin kasih give away modal keringet dari setengah taun lalu.


Bismilah. Semoga ada yg beli. Kwkwkw.


Banyak give away tergantung seberapa banyak yang mau mengapresiasi Ana dan beli buku Ana ya ....


Soalnya uang pribadi Ana masih minim untuk bagi-bagi. Jadi Ana hanya mampu memberikan seadanya dari hasil keuntungan penjualan novel itu. Itupun kalau banyak yang membeli. 😖. Meskipun Ana udah jual bukunya semurah mungkin, tapi tetep aja Ana masih mikirin keuangan sahabat semuanya. Kalau nggak bisa jangan dipaksa ya. Anggap aja ini seru-seruan.


Give away tote bag kebanggan Ana.



Yang beli buku ini nanti juga akan mendapat diskon voucher dari produk MS GLOW senilai 15. 000. Jadi novel ini emang bekerja sama dengan MS Glow store Jogja. Kalian yang pakai atau mau coba bisa skinkeran dapat menggunakan voucher ini untuk membeli skincare di toko online tersebut.



Untuk pemesanan buku bisa hubungi


081229048411


ketik format.


Nama:


No wa:


Alamat:


Kota/kec:


Kab:


Provinsi:


Jumlah buku:


***


Judul: Menantu Idaman


Genre: Komedi ngakak-ngakak.



BLURB:


"Saya terima nikah dan kawinnya Miafa binti Entis Sutrisna dengan mas kawin uang dua puluh juta dan seperangkat skin care MS. GLOW dibayar TUNAI!" Kalimat itu terucap sempurna dengan satu tarikan napas bibir si pria. Sekarang gadis bernama Miafa itu resmi menyandang status istri.


Entah Mia harus menganggap ini berkah, atau musibah di tengah merebaknya bencana virus korona. Yang jelas menikah adalah jalan ninja terakhir agar ia tidak menjadi beban keluarga lagi ditengah kesulitannya mencari kerja pada musim korona.

__ADS_1


Bagaimana pernikahan sukarela tanpa cinta itu akan berjalan?


***


Berbalut baju kebanggaan yang dihiasi manik-manik mutiara palsu, gadis bernama lengkap Miafa duduk sendiri di dalam kamar pengantin yang keseluruhan desainnya tampak biasa-biasa saja. Matanya mengindahkan seluruh ruangan, menatapi setiap jengkal dekorasi itu dengan pikiran yang melayang tak karuan.


Siang tadi, Miafa, atau gadis yang sering dipanggil Mia oleh bapak ibunya, baru saja melangsungkan resepsi pernikahannya dengan Bima—seorang anak yatim piatu mapan yang memiliki paras cukup tampan. Dengan bekal penerapan protokol kesehatan dan sosial distancing, acara pernikahan sederhana Mia dan Bima berakhir dengan lancar tanpa adanya hambatan. Menutup kisah bahagia dan melanjutkannya pada acara malam mendebarkan yang akan segera berlangsung.


"Aku harus apa ya, nanti?" Mulai bermonolog dengan diri sendiri, gadis lugu berusia 19 tahun itu meremas jemarinya Ketakutan. Pikirannya dipenuhi dengan perkataan orang-orang yang menggodanya tadi siang. Membuat Mia merasa ngeri dengan candaan manusia busuk tak bertanggung jawab itu.


"Siap-siap menjerit ya, Mia!" Begitulah salah seorang menggoda Mia sambil kedip-kedip mata. Kode alam yang Mia sendiri tidak tahu artinya apa.


"Asik, akhirnya pisang mas Bima sold out," teriak salah seorang Lagi. Bahkan menggunakan mix penyanyi dangdut sampai beberapa hadirin yang mendengar ucapannya tergelak sama-sama. Mia yang yang tidak paham perkodean aneh orang dewasa memilih diam, bersembunyi di balik rasa malu dan pura-pura tak mendengar apa pun.


Menjelang malam, ternyata ketakutan Mia semakin jadi daging. Ia terus memikirkan ucapan teman-teman Bima saat menghadiri resepsi pernikahan mereka tadi siang. Ia penasaran, apa yang dimaksud dengan pisang dan menjerit? Ia juga bingung harus bersikap bagaimana saat menghadapi suaminya nanti. Apalagi pernikahan mereka tidak melalui proses jatuh cinta dulu seperti kebanyakan pasangan lain. Keduanya sama-sama mau menikah secara sukarela.


Bima bersedia menikahi Mia karena ia butuh pendamping agar hidupnya lebih terurus. Sementara Mia, ia mau menikah dengan Bima karena pria itu baik dan rajin bekerja. Sudah punya motor dan rumah sendiri pula. Kurang apalagi? Daripada jadi pengangguran yang menambah beban keluarga, lebih baik Mia menikah dengan Bima. Dapat gaji dan tentunya tidak tidur sendiri lagi.


Di tengah-tengah suasana kebingungan, tiba-tiba Mia dikejutkan oleh suara pintu hingga ia menoleh dan terperangah.


"Astaga, Mas Bima!"


Pintu terbuka, suami Mia baru saja selesai membersihkan tubuhnya dari kamar mandi. Perjaka ting-ting yang baru menginjak usia dua puluh lima tahun itu hanya mengenakan handuk yang membalut pinggang, sementara bagian atasnya dibiarkan terbuka dan menodai mata suci Miafa.


Aroma shampo sachet-an menguar pekat begitu Bima mendekati gadis itu. Menggelitik bulu-bulu hidung yang masih normal dalam soal penciuman.


Pria itu ikut duduk, terpaku menatapi sang istri yang menutupi wajahnya malu-malu. "Kenapa, Mi? Tidak perlu grogi seperti itu. Sebentar lagi kita akan—"


"Maaaaas!" Teriakkan Mia yang sedikit keras membuat Bima menghentikan ucapannya secara terpaksa. Gadis lugu itu mengintip dari balik tangannya.


"Mas Bima pakai baju dulu, aku belum terbiasa melihat yang seperti itu," sela Mia sambil memalingkan wajahnya ke mana pun. Asal tidak melihat tumpukkan roti sobek yang membuat air liurnya menetes seperti bayi kelapar yang belum genap enam bulan. Mau makan seblak tapi tidak bisa, begitulah kira-kira isi hati si bayi


Bima tersenyum geli mendapati tingkah istrinya yang malu padahal mau. "Ya sudah, aku pakai baju dulu ya, Mi."


Pria itu berjalan ke arah lemari kayu di pojok kamar. Tangannya cekatan mengambil satu set pakaian kebanggaannya. Memakai kaos partai bergambar wajah presiden dan sarung motif kotak-kotak sebagai penutup bawahannya. Tidak ada kostum istimewa yang bisa Bima kenakan di malam pertama, ia tidak punya piama, hanya orang kampung biasa.


Wanita itu menggeleng. "Engga usah, Mas. Aku tidak terbiasa mandi malam. Badanku juga sakit-sakit semua, mau langsung tidur aja kalau bisa."


"Hah?" Bima menohok.


"Kenapa, Mas?"


"Gak papa sih, kalau nggak biasa mandi malam ngga usah, nanti takutnya malah tambah sakit."


"Iya Mas, nanti kalau aku udah tidur jangan bangunin aku ya." Kode konfirmasi penolakkan yang kedua kalinya melayang dari bibir Mia.


Perkataan gadis itu membuat Bima tambah melongo. bonteng cihuy yang sedari tadi bersiap-siap melepas pelurunya langsung luntur dan pingsan dadakkan. Kok mau langsung tidur sih? Batin Bima jengkel.


Sepertinya malam ini bukan rejekiku ya. Mungkin anak perawan yang masih original memang begini. Kamu harus sabar, Bim.


Lalu ia menjawab, "Ya sudah, ganti baju terus tidur. Aku mau ke depan dulu nemuin bapak dan ibu kamu di ruang tamu."


Pria jangkung bertubuh kekar itu keluar kamar demi menjaga bonteng cihuy peliharaannya agar tidak bertindak paksa pada gadis yang belum siap melaksanakan adegan icikiwir bersamanya. Barangkali tengah malam berubah pikiran, siapa tahu 'kan?


***


Ya, Beginilah nasib pria yang hanya lulusan SMP. Bagi seorang Bima, menyentuh buah dada sapi adalah makanan sehari-hari. Bukan hanya menyentuh, ia juga meremas semua susu betina-betina semok yang ada di peternakan tempatnya bekerja . Tidak ada satu pun susu yang belum pernah Bima sentuh di sana, bahkan si pemilik tak menolak saat dua tangan Bima melecehkannya setiap hari. Mereka tetap anteng makan rumput, entah karena pasrah atau jangan-jangan malah menikmati sambil mendesah ala bahasa hewan. Bima tidak terlalu mau ambil pusing masalah hidup sapi karena itu sudah menjadi nasib mereka sebagai sapi perah.


Begitulah sepenggal kisah tentang pekerjaan Bima setiap waktu baik di musim hujan ataupun panas. Menyentuh, meremas, hingga susu-susu itu terkuras.


Masalahnya, pandangan hidup Bima mulai berubah semenjak ada kehadiran Miafa di kasurnya. Meskipun dada sapi adalah tugas dinesnya setiap hari, ia tetap ingin menyentuh susu originan berlogo halal. Maksudnya milik manusia sungguhan, bukan sapi. Mau bagaimanapun juga pegang-pegang susu sapi tak membuat B**onteng Cihuy-nya puas. Rasa penasarannya pada hal baru tak bisa dipungkiri. Sayang si manusia tidak ada pekanya sama sekali.


Gadis itu sibuk berfoto-foto dan memainkan gawai KW pemberian Bima. Hingga dengkusan kasar keluar dari hidung Bima pun, Mia tak mendengar apalagi sadar.


"Mi, kamu belum ngantuk 'kan, ya?" tanya Bima seraya mengambil ancang-ancang, mana tahu Mia langsung membuka sarungnya.

__ADS_1


"Belum nih, Mas. Aku lagi download game dan beberapa aplikasi di hape, soalnya isinya masih kosong," ujar Mia tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pintar tersebut.


Lagi-lagi Bima mengdengkus, sampai hidungnya kembang-kempis seperti tutorial ibu membuat kembang goyang.


"Sini dong, Mi! Jangan jauh-jauh duduknya. Kamu kayak orang takut kena virus korona. Kita itu sudah dites SWAB dulu sebelum nikah, nggak perlu sosial distancing seperti itu, atuh."


"Eh, Maaf Mas." Mia merapatkan duduknya lebih dekat hingga kulit mereka saling bersentuhan. Reflek pria itu segera mengambil bantal di punggunggungnya secepat kilat, guna menutupi B**onteng Cihuy yang hobi mengacung saat dalam mara bahaya.


Ia letakkan bantal itu di atas paha agar semuanya aman terkendali. Lalu Bima berkata lagi, "Kamu beneran suka hapenya, Mi? Maaf ya, baru mampu beliin yang KW dulu. Soalnya yang asli mahal banget. Mas belum siap jual ginjal."


"Suka banget. Kw juga gak papa, Mas. Maafin kelakuanku yang tadi ya. Ini juga sudah alhamdullillah banget, Mas. Daripada gak pegang hape sama sekali. Soalnya hape Mia udah rusak dari setahun yang lalu, bapak tidak mampu beli semenjak pandemi, karena warung usaha mie ayam bapak sepi total. Mungkin takut kena virus, jadi tidak ada yang mau beli," ujar gadis itu mulai membuka kehidupan keluarga yang Bima sendiri sudah tahu seperti apa ceritanya.


Sejak pandemi menyerang bumi, pengusaha F & B memang mengalami dampak hebat yang luar biasa. Beberapa restoran ternama dan pengusaha kecil di kota-kota besar harus ditutup paksa karena sepinya pengunjung dan juga program lock down. Adapun yang masih tetap memaksa buka, mereka nyaris tak mendepat keuntungan sepeser pun. Hal itu tentunya berlaku juga di wilayah perkampungan. Para masyarakat mulai hati-hati dan mengurangi konsumsi makanan dalam bentuk jadi.


Hal inilah yang membuat Mia memantapkan diri untuk segera menikah. Mumpung ada yang mau, asalkan dia baik, mapan, punya motor, punya rumah, tidak cinta pun bukan sebuah masalah. Toh mereka masih bisa melakukan pendekatan setelah menikah. Malahan lebih seru karena apa pun yang mereka lakukan jatuhnya ibadah.


"Ya sudah, Mi, jangan dipikiran lagi. Yang penting sekarang kamu sudah punya hape baru." Bima mencoba menghibur sang istri yang mulai memasang wajah murung.


"Mas," panggil Mia.


"Iya."


"Sebenarnya ada hal penting yang mau Mia bicarakan, tapi sebelumnya Mia mau minta maaf dulu sama Mas Bima." Ia letakan ponsel barunya di bawah bantal bermotif kembang, lalu mulai menatap Bima dengan binar penuh keseriusan.


"Ngomong aja, katakan semua yang mengganjal di hati kamu," balas Bima mencoba mengerti wanita.


"Kalau bisa kita jangan langsung melakukan hubungan suami istri dulu ya, Mas. Aku belum siap melakukan itu."


Eh, kok jadi gini? Harapan Bima malam ini luntur seketika. Lupakan susu murni original. Entah kapan ia bisa menyentuh benda berlogo halal itu kalau sang pemilik sudah memasang pagar setinggi langit.


Namun Bima si baik hati tetap mencoba untuk selalu mengerti. "Iya, tidak apa-apa, Mi. Aku ngerti kok kalau kamu masih dini, mungkin belum siap," balas Bima. Tentunya ada rasa kecewa besar yang ia sembunyikan rapat-rapat.


"Bukan masalah kecil, Mas. Masalahnya aku belum menyukaimu. Waktu itu 'kan Mia sudah pernah bilang kalau Mia mau menikah sama Mas Bima karena kasihan lihat ibu dan bapak yang kerepotan ngurusin tiga anak."


"Iya aku tahu," jawab Bima tanpa intonasi.


Mia meraih tangan Bima hati-hati, ia tahu betul bahwa pemuda yang melamarnya bulan lalu sudah jatuh hati kepadanya.


"Tapi satu hal yang harus Mas Bima tahu! Meskipun Mia belum cinta sama Bima, kamu tetap pria terbaik yang aku pilih langsung dari hati, Mas. Aku melakukan shalat istikharah setiap malam hanya untuk mendapatkan jawaban ini. Dan akhirnya aku memutuskan mau menerima lamaranmu meskipun belum ada rasa cinta." Mia menghentikan ucapannya sebentar untuk mengambil napas. Lalu ia berkata lagi,


"Aku ikhlas dinikahimu, Mas. Bukan terpaksa menikah."


Kalimat itu membuat Bima luluh dan paham dengan permintaan Mia.


"Iya Mia, makasih ya sudah bersedia menikah denganku." Bima mencoba mengulas senyum walaupun rasa berat seperti ditimpa gunung Tangkuban Perahu.


"Jangan marah ya, Mas. Aku hanya ingin memulai semuanya dari awal sama kamu. Melakukan pendekatan, penyesuaian, hingga akhirnya kita saling jatuh cinta," jelas Mia malu-malu.


"Iya, aku tahu yang kamu inginkan, Mi. Ya sudah kita tidur yuk, besok mas harus kembali memeras susu sapi." Kalimat itu Bima ucapkan dengan intonasi menyedihkan, yang menunjukkan bahwa malam ini ia gagal memeras susu manusia original.


"Tunggu dulu, Mas. Aku punya hadiah buat kamu."


"Apa itu?"


Bima menoleh. Bertepatan dengan itu, satu kecupan melesat cepat. Menerjang pipi kiri Bima hingga tanpa sadar ia terlonjak bahagia. "Selamat malam Mas Bima."


Mia langsung mengambil posisi tidur dan menarik selimut hingga menutupi kepala. Tindakan ekstrim Mia untuk pertama kali itu sukses membuat Bima serasa ikut ajang uji nyali di rumah kosong angker.


Alamak, kasihanilah hamba.


Bima yang seharusnya tenang dan bisa tidur menjadi gelisah lantaran Bonteng Cihuy-nya menjerit minta dilepas. Andai mulut Bonteng Cihuy memiliki suara, ia akan murka sambil memaki,


"Anyiing istri sia, Bima!"


(Anjing istri lo, Bima!)

__ADS_1


***


Cerita aku ulang lagi ya mentemen sayang. Mohon dukungannya.


__ADS_2