
Kedatangan Marco hari ini masih menjadi topik mengejutkan di keluarga Vanya. Apalagi belum ada satu pun anggota keluarga yang mengenali suami keduanya itu kecuali dirinya. Baik nenek maupun Ella, mereka jarang sekali mendengar cerita tentang Marco karena Vanya secara terang-terangan enggan menceritakan tentang suami keduanya.
Nenek yang saat ini pulang cepat dari perkebunan tentangga pun dibuat terkejut ketika mendapati pria gagah mengaku sebagai ayah kandung Ella. Tak ada yang bisa nenek lakukan selain menjadi orang bijak yang berdiri di antara dua belah pihak.
Satu hal yang membuat Vanya sampai terheran-heran, nenek terlihat begitu ramah terhadap Marco. Beda sekali dengan respon pertama kali saat melihat Adit suami pertamanya. Nenek tampak begitu ketus dan tidak rela saat cucunya diajak tinggal di kota oleh Adit.
Dari sini saja sudah jelas. Bahwa Marco berhasil merebut hati nenek yang sulit itu dalam waktu singkat.
Sikap yang nenek nenek tunjukkan terhadap Marco begitu beda seratus delapan puluh derajat jika dibandingkan dengan Adit. Beliau bahkan berterus terang menerima kedatangan Marco dengan dua tangan terbuka. Tak dipungkiri Marco juga termasuk tipe manusia yang mudah merayu dan berbaur dengan orang yang ia mau. Mungkin itulah yang membuat nenek senang dengan kedatangan pria itu.
Selepas keluar dan membiarkan Marco tidur di kamarnya, Vanya segera menuju kamar Ella untuk melihat keadaannya. Hari ini anak itu seperti disihir, hampir tiga jam tertidur, tapi belum juga beranjak membuka mata.
“Ella sudah bangun, Nek?” Kepala Vanya melongok melewati bingkai pintu. Ada nenek yang baru saja berhasil mendudukkan diri di bibir tempat tidur seraya menjuntaikan kakinya ke lantai, sementara Ella sudah kembali tertidur.
“Belum, sini kamu!” Nenek memasang wajah tidak ramah. Membuat Vanya mengambil langkat cepat untuk segera mendekat.
__ADS_1
“Ada apa, Nek?” Vannya memilih duduk di tepian ranjang, tepat di bawah kaki Ella. Ia merasa tidak melakukan apa-apa, tapi reaksi nenek saat meihatnya terkesan marah.
“Yang kamu tunggu-tunggu sudah datang, tapi kenapa kamu malah bersikap abai? Bukannya perhatian pada suamimu, malah cari masalah!” Tatapan mata tidak biasa nenek membuat Vanya kaget. Di luar dugaan, nenek justru lebih membela Marco dibandingkan cucunya sendiri. Pria yang jelas-jelas telah melakukan kesalahan malah dibela terlalu berlebihan.
“Dia salah, Nek! Tentu saja Vanya harus memberinya pelajaran. Orang seperti itu wajib kita abaikan!”
“Ketika dia salah, memangnya kamu sudah benar?” Lontaran kalimat nenek cukup menohok.
Kontan wanita itu membola tidak terima. “Kok Nenek malah salahin cucu Nenek?”
"Kamu juga meninggalkan pria itu di saat dia sedang membutuhkanmu! Itu artinya kesalahan bukan murni seratus persen kesalahannya, kamu juga ikut berperan Vanya!"
"Alasan yang suamimu katakan pada nenek juga sama. Ia menelantarkanmu bukan karena faktor sengaja, tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan!" Ada jeda mengambil napas sejenak saat nenek begitu ambisius menjabarkan semuanya atas dasar logika orang tua.
"Sebagai orang tua nenek hanya bisa berdiri di tengah-tengah kalian berdua! Bohong jika nenek tidak ingin membela cucu nenek sendiri! Namun apa yang nenek lihat, posisi kalian berdua memang sama-sama salah, jadi apa salahnya menurunkan rasa egois dan mulai memikirkan kebahagiaan Ella. Di antara kaloan berdua anak itu yang paling menderita. Meskipun selalu tersenyum, anak yang dirawat oleh orang tua tunggal tetap tidak akan senormal anak yang memiliki ayah dan ibu lengkap. Jika ini terus dibiarkan, mungkin pribadi negatif Ella dari segi lain akan terus tumbuh." Vanya tertunduk dalam saat Nama Ella juga ikut disebut.
__ADS_1
Nenek Laura adalah mantan mahasiswa psikolog. Sayangnya beliau putus di tengah jalan sebelum mendapatkan gelar tersebut. Itu sebabnya bekal ilmu yang pernah beliau dapatkan masih melekat sampai sekarang. Tak heran jika nenek Laura pandai melihat situasi. Mengetahui mana yang yang tulus dan mana yang hanya sekedar mementingkan ego seperti Adit yang menikahi Vanya hanya karena ingin memiliki Vanya tanpa memperdulikan perasaan wanita itu.
"Kamu bisa 'kan melakukan semua itu untuk Ella? Jika kalian berdua terus melakukan perang dingin, nenek takut hal itu akan mempengaruhi mental Ella yang sejatinya belum tahu apa-apa. Jangan sampai anak itu menjadi korban keegoisan orang tuanya untuk kedua kali."
Lantas ia memberanikan diri untuk bertanya. "Memangnya nenek tidak merasa sakit hati melihat Ella dan Vanya diperlakukan seperti ini?"
"Apa pertanyaanmu harus dijawab? Kamu tahu betul seperti apa sayangnya nenek kepadamu dan juga Ella! Tapi itu semua sudah menjadi jalan takdirmu cucuku, kenapa awalnya kamu mau menjalin hubungan dengan pria yang memiliki perbedaan kasta sangat jauh? Sebagai orang biasa, mau tidak mau kamu harus bisa menerima bentuk sudut pandang mereka. Meskipun terlihat keterlaluan apa yang orang tua Marco lakukan adalah hal yang wajar bagi mereka para orang berada. Itu sebabnya kenapa nenek selalu menyuruhmu untuk bergaul dengan orang yang sederajat dengan kita saja. Karena ketika kita sudah berani memanjat ke tempat lebih tinggi, rasa yang kita dapatkan tidak akan pernah sama!"
Vanya terdiam lebih dari paham.
Jemari keriput nenek melayang lembut di bahu cucu kesayangannya itu. "Nenek tahu Vanya pasti mengerti apa yang nenek katakan! Orang tua tidak akan pernah salah dalam menilai. Suamimu cukup baik di mata nenek, meski ia melewati banyak jalan-jalan sesat demi bisa bersamamu."
"Iya, Nek! Vanya akan berusaha membuka hati untuk Marco kembali."
"Harus! Tidak perlu langsung, lakukanlah secara perlahan sampai kamu tidak sadar bahwa kamu sedang melakukannya. Itulah yang namanya cinta."
__ADS_1
***
Jangan lupa jaga kesehatan kalian ya, sayang. Membaca seperlunya, jangan sampao begadang dan membuat imunitas menurun.