
Sementara di tempat lain, Marco tengah duduk di sebuah kursi layaknya seorang raja gila.
Udara di sekeliling ruangan itu terasa mencekik di mana keringat semua orang yang berkumpul di sana bercucuran tak karuan. Semua orang yang membully Vanya lebih tepatnya. Karena mereka baru saja menyaksikan sebuah kenyataan mengerikan yang membuat bulu-bulu di sekujur tubuh jadi meremang seketika.
Tepat di sudut ruangan, Syam sudah terikat dengan kondisi mengenaskan. Marco baru saja menyuruh salah seorang memotong keperjakaan pria itu sebagai hukuman awal. Iya awal. Karena setelah itu, Marco akan segera menyerahkan Syam pada pihak yang berwajib untuk diadili seberat-beratnya.
Dan untuk semua karyawan yang telah ikut menghakimi dan membully Vanya seenak jidat mereka, Marco juga akan melakukan tindakan yang sama. Ia tidak mau memberi toleransi sedikit pun. Kecuali pada pria muda yang tadi sempat menolong Vanya di awal. Ia sudah dimaafkan dan dibebaskan dari ruang tawanan mencekam ini atas permintaan Vanya saat berpesan di depan lobi klinik tadi.
"Pastikan dia terus hidup agar bisa menikmati sisa penderitaannya di penjara!" Marco menatap geram ke arah Syam.
"Baik Tuan, kami akan segera membawanya ke rumah sakit," ucap beberapa bodyguard pemilik perkebunan lama yang pastinya sudah diperintahkan berada di pihak Marco.
__ADS_1
Tubuh tak berdaya pria itu sudah dipindahkan ke atas brankar untuk di bawa ke rumah sakit.
Beruntung salah seorang ajudan perkebunan langsung sigap menangkap Syam begitu melihat gelagat aneh dari pria itu.
Saat syam hendak melajukan mobilnya keluar dari area perkebunan, saat itulah pria itu tertangkap dan dibawa ke gudang ini untuk dipertemukan dengan Marco.
"Lihatlah dengan baik! Gunakan mata tidak berguna kalian untuk melihat junjungan kalian yang terakhir kalinya!"
Marco menunjuk Syam dengan dagunya. Semua karyawan yang terduduk di lantai dengan tangan terikat langsung memandang ke arah brankar dorong Syam yang perlahan menjauh dari tempat itu.
"Sungguh miris sekali kalian semua! Mayoritas dari kalian adalah perempuan, tapi dengan teganya kalian memfitnah sesama perempuan sebelum tahu fakta yang sesungguhnya. Di mana letak hati nurani kalian sebagai sosok yang seharusnya terlahir berhati lembut? Bahkan kalian tidak segan melukai sesama perempuan. Cih!" Marco meludah ke sembarang arah.
__ADS_1
Semuanya yang ada di sana hanya bisa terdiam tanpa perlawanan. Karena tadi, Syam telah mengakui kesalahannya di depan semua orang.
Karena tak tahan disiksa oleh beberapa bodyguard bertubuh besar, akhirnya Syam mau mengakui kesalahannya. Bahwa ia telah melakukan percobaan pemerkosaan terhadap Vanya karena dorongan rasa ingin memiliki.
"Tuan, tolong ampuni kami Tuan! Kami rela dan ikhlas kehilangan pekerjaan asal Anda tidak memenjarakan kami." Salah seorang pria yang paling berani berusaha meminta sedikit belas kasih dari Marco.
"Ampun kalian bilang?" Bola mata pria itu memicing sinis. Wajahnya kembali marah semurka-murkanya.
Pemilik perkebunan yang baru saja menjual lahannya kepada Marco langsung menyergah untuk membela.
"Jangan menawar! Berani sekali kalian berkata seperti itu terhadap Tuan Marco. Masih diberi nyawa saja sudah untung kalian. Apa kalian tidak tahu siapa dia? Dia adalah pemilik baru perkebunan ini!" Pemilik perkebunan lama itu mengingatkan jika mereka lupa.
__ADS_1
***
Pagi. Tunggu satu bab lagi muncul. Jangan lupa tinggalkan komentar sebentar.