
"Mana mungkin aku tega melakukan itu padamu!" Tatapan Vanya terlihat sedih sekali. Ia seperti berada dalam persimpangan jalan membingungkan dan tak tahu harus membawa langkah kakinya pergi ke mana agar mendapat titik pencerahan.
"Lalu maumu bagaimana?" Suara Marco memecah keheningan suasana. "Kuikuti segala keputusanmu apa pun itu Van. Kamu mau di sini tidak masalah, mau di sana pun ayoo! Keputusan ini ada di tanganmu sepenuhnya," ujar pria itu meyakini ucapannya barusan.
"Keinginanku sederhana. Aku hanya mau kita semua berkumpul. Aku sudah bilang ke nenek bahwa aku ingin membawa nenek bersama kita. Bagaimanapun nenek sudah tua, saudara-saudara kami di sini kurang begitu peduli terhadap nenek. Maka dari itu aku menyuruh nenek untuk ikut saja," terang Vanya berujar dengan wajah lesu. Yang pastinya ada sesuatu yang terjadi dalam satu waktu.
Marco mengangguk pertanda ia juga setuju. "Sebenarnya aku tidak keberatan jika nenek ikut bersama kita. Justru malah senang karena kamu tidak terpisah jarak dan tidak perlu mengkhawatirkan keadaan nenek dari kejauhan."
Lagi-lagi Vanya kembali manyun. Bibirnya maju tiga senti diikuti hempasan kasar dari dua lubang hidungnya.
"Tapi nenek tidak mau, tahu! Nenek marah dan mengataiku sebagai orang pemaksa. Sekarang nenek masuk ke kamar dan tidak mau bertemu denganku sama sekali,"keluhnya.
"Sabar!" Marco menyisir rambut hitam lurus Vanya dengan jari-jemarinya. Ia kecup dan ia hirup aroma shampo pada rambut Vany Dalam-dalam. "Mungkin nenek tidak mau karena sungkan denganku. Bagaimanapun juga aku harus mengajaknya karena itu rumahku. Kamu tenang saja, nanti biar aku yang membujuk nenek untuk tinggal bersama kita di kota. Semoga saja nenek mau menurut."
"Benarkah?" Di pikir-pikir apa yang Marco ucapkan ada benarnya juga. Membuat wajah wanita itu berubah sumringah saat itu juga.
"Hmmmm." Marco berdeham lantas mengangguk.
"Terima kasih Sayang. Aku harap dugaanmu benar. Nenek tidak mau ikut karena sungkan terhadapmu." Senyum Vanya kembali terbit dari dua garis bibirnya. Wanita itu mengeratkan pelukannya pada pinggang Marco.
__ADS_1
Aku sayang kamu, aku tidak bisa berpisah denganmu, apalagi dengan hadirnya bayi ini di perutku. Rasanya akan sangat berat jika berpisah denganmu sedetik saja.
Ia harap Marco dapat membujuk nenek agar mau pindah ke kota bersama mereka. Untuk masalah Ella, jelas gadis itu akan mengikuti kemana pun orang tuanya pergi tanpa harus ditanya sama sekali.
Marco tersenyum menatap wajah Vanya yang mendongak polos di bawah dagunya. "Sudah tidak sedih lagi 'kan? Ayo kita pindah ke ranjang. Ada sesuatu yang harus segera kupastikan saat ini juga!"
Vanya melotot jengah. "Mau memastikan apa? Di sini 'kan bisa," sanggahnya menolak.
Namun, Marco lebih dulu sigap mengangkat tubuhnya. Kaki pria itu melangkah cepat hingga tubuh Vanya sudah terduduk di atas kasur dalam sekejap waktu.
"Buka bajumu dan berbaringlah! Bukannya tadi kamu akan menurutiku dalam hal apa pun? Aku hanya ingin melakukan pemeriksaan."
"Pemeriksaan macam apa memang? Apa yang mau kamu lakukan jika aku sudah membuka baju?" tanya wanita itu membulatkan matanya ragu-ragu.
Marco berdecak sedikit kesal karena Vanya tak kunjung menuruti keinginannya. Banyak omong sekali si istriku, pikirnya.
"Aku harus memastikan tubuhmu baik-baik saja. Em ... maksudku, untuk memastikan laki-laki itu benar-benar tidak menyentuh atau meninggalkan bekas luka di bagian dalam."
"Jadi kamu tidak percaya dengan penjelasanku? Apa masih kurang setelah melihatku bercucuran air mata saat menjelaskan perkara itu?" Kontan Vanya meradang tiba-tiba. Matanya memerah dan nyaris menumpahkan cairan bening yang baru saja luruh beberapa detik lalu.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu," ucap Marco terbata-bata. "A-aku hanya ingin memastikan Sayang. Bukan menuduh yang aneh-aneh. Untuk masalah yang satu itu aku percaya padamu!"
"Tapi matamu tidak berkata demikian!" tegas Vanya kesal.
Memang kenapa dengan mataku? Aku benar-benar hanya ingin memeriksa. Mentok-mentok paling hanya terbawa suasana dan meminta ritual itu-itu, pikirnya.
"Matamu menunjukkan bahwa kamu tidak percaya padaku!" Vanya menjabarkan kata-katanya berdasarkan fakta penglihatan seorang ibu hamil.
Yang jelas ia memiliki banyak pikiran negatif dan hati menjurus ke arah sensitif.
Apa salahnya sampai Marco harus berada salam posisi menyebalkan seperti ini?
Tolong berikan petunjuk Tuhan. Marco hanya ingin memastikan bagian dalam Vanya baik-baik saja.
Serius!
Hanya itu yang ia pikirkan saat ini.
***
__ADS_1
Tiga kuota bab terpenuhi. Semoga Semoga dukungan kalian sesemangat saat aku nulis novel ini. OTW .... Tamat. Gak Rela ah. 😌